BALIKPAPAN-Kondisi level penerapan PPKM di berbagai kabupaten/kota di Kaltim terus membaik. Kota Balikpapan yang sebelumnya berstatus PPKM Level 4, sejak Senin (4/10), turun ke level 3. Walau demikian, masyarakat yang ingin masuk ke Balikpapan melalui Bandara SAMS Sepinggan, tetap diwajibkan membawa hasil negatif tes polymerase chain reaction (PCR).

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Balikpapan Mokhamad Zainul Mukhorobin mengungkapkan, kebijakan itu mengacu Surat Edaran Menteri Perhubungan (Menhub) Nomor 70 Tahun 2021. Surat edaran tersebut menerangkan, untuk penerbangan dari dan ke bandar udara di luar wilayah Pulau Jawa dan Pulau Bali yang ditetapkan melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmedagri) sebagai daerah dengan kategori PPKM Level 1 dan PPKM Level 2, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR.

Adapun sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 2x24 jam sebelum keberangkatan. Atau hasil negatif rapid test antigen yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 1x24 jam sebelum keberangkatan. Sementara daerah dengan kategori PPKM Level 4 dan PPKM Level 3, hanya wajib membawa surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR yang sampelnya diambil dalam kurun waktu maksimal 2x24 jam sebelum keberangkatan.

Selain itu, wajib menunjukkan kartu vaksin (minimal vaksinasi dosis pertama. “Maaf, update SE (surat edaran)-nya masih belum kami terima. Tapi, kalau mengacu SE sebelumnya, PPKM Level 4 dan 3 masih wajib (membawa hasil tes) PCR,” katanya kepada Kaltim Post kemarin. Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan Andi Sri Juliarty sebelumnya juga menyampaikan hal sama. Dia menerangkan, pada poin ke-28 Surat Edaran Wali Kota Balikpapan Nomor 300/3128/PEM, menerangkan bahwa pelaku perjalanan domestik khususnya pesawat udara diwajibkan menunjukkan kartu vaksinasi minimal dosis pertama. Kemudian menunjukkan PCR H-2 untuk pesawat udara.

Ketentuan tersebut hanya berlaku untuk kedatangan dan keberangkatan dari dan ke wilayah Kota Balikpapan. “Semua kebijakan mengenai PCR diatur oleh pusat,” kata perempuan yang akrab disapa Dio ini.

 

Uji Coba PPKM Level 1

 

Dari Jakarta, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan, sudah tidak ada provinsi di luar Jawa-Bali yang menerapkan PPKM LEVEL 4. Namun, masih ada enam daerah di luar Jawa-Bali yang menerapkan PPKM Level 4. Yakni Kabupaten Pidie, Kabupaten Bangka, Kota Padang, Kota Banjarmasin, Kabupaten Bulungan, dan Kota Tarakan. Lanjut dia, perkembangan kasus di provinsi luar Jawa-Bali juga terus menunjukkan penurunan. Airlangga merinci, sejak 9 Agustus hingga 3 Oktober, penurunan kasus positif di Sumatra mencapai 91,66 persen. Kemudian, Nusa Tenggara turun 93,79 persen, Kalimantan turun 87,44 persen, Sulawesi turun 88,68 persen, lalu Maluku dan Papua turun 88,47 persen.

Sementara itu, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, pemerintah dalam waktu dekat akan melakukan uji coba pemberlakuan PPKM Level 1 dengan kenormalan baru (new normal) untuk Kota Blitar. Implementasi uji coba PPKM Level 1 diberlakukan karena telah memenuhi syarat indikator WHO dan telah memenuhi target cakupan vaksinasi dosis 1 sebesar 70 persen dan 60 persen dosis 1 untuk lansia.

Level 1 new normal ini, kata Luhut, mendekati aktivitas kehidupan masyarakat normal. Namun, untuk mengimbangi hal tersebut, tindakan surveillance, testing/tracing, dan peningkatan disiplin protokol kesehatan tetap diperkuat. ”Kami dan Menkes akan menurunkan tim khusus untuk memantau pelaksanaan PPKM Level 1 di Kota Blitar, sehingga akan menjadi role model buat kabupaten dan kota lain,” kata Luhut kemarin (4/10).

Luhut melanjutkan, pemerintah akan melakukan pengawasan ketat dengan memonitor seluruh kegiatan dan aktivitas masyarakat di wilayah Kota Blitar agar dapat segera merespons keadaan darurat yang mungkin datang secara tiba-tiba. Selain itu, Bandara Ngurah Rai Bali akan dibuka untuk penerbangan internasional mulai 14 Oktober 2021 dengan penetapan syarat ketat dalam hal karantina, tes, dan kesiapan satgas. Setiap penumpang kedatangan internasional harus punya bukti booking hotel untuk karantina minimal delapan hari dengan biaya sendiri.

Luhut memaparkan, berbagai indikator penanganan pandemi terus menunjukkan perbaikan dalam 2 minggu terakhir. Kasus konfirmasi positif nasional turun 98 persen. Kasus konfirmasi di Jawa-Bali juga turun hingga 98,7 persen dari puncaknya pada 15 Juli lalu. ”Tingkat reproduksi efektif di Jawa-Bali sudah berada di bawah 1. Tapi khusus Bali masih di angka 1,” jelas Luhut.

Menurut dia, penetapan batas minimum cakupan vaksinasi lansia sebagai syarat penurunan level PPKM cukup efektif meningkatkan kecepatan vaksinasi di Jawa-Bali. ”Saat ini tingkat vaksinasi dosis 1 untuk Jawa-Bali sudah mencapai 37 persen per 30 September 2021. Angka ini naik hampir 5 persen dari periode 13 September 2021,” katanya.

Uji Klinis Obat Covid-19

Di sisi lain, pemerintah membuka peluang untuk penelitian dan uji klinis obat Covid-19. Pada akhir tahun, diharapkan sudah ada jawaban terkait efektivitas obat ini. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kemarin (4/10) mengungkapkan, Kementerian Kesehatan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta rumah sakit vertikal tengah me-review dan melakukan uji klinis obat untuk Covid-19. Budi menyatakan bahwa pemerintah membuka potensi obat-obatan baru untuk melawan penyakit ini.

“Sudah kami approach pabrikannya dan sudah dilaksanakan uji klinis,” kata Budi. Sehingga dia optimistis akhir tahun ini dapat diketahui obat mana yang cocok untuk melawan SARS CoV-2.

Obat-obatan yang tengah diteliti bersifat monoclonal antibody maupun antivirus. Dengan cara ini diharapkan ke depan kebutuhan obat akan terpenuhi. Yang tengah ramai adalah Molnupiravir buatan Merck, perusahaan farmasi multinasional dari Amerika Serikat. Perusahaan ini telah mengajukan permohonan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) ke badan pengawasan obat Amerika atau FDA.

Sebelumnya BPOM menyatakan pihaknya berkomitmen melakukan percepatan dan perluasan akses penggunaan obat. Namun, syaratnya adalah harus aman, berkhasiat, dan bermutu. BPOM akan memberikan EUA setelah terbukti khasiat dan keamanannya pada uji klinik yang baik. BPOM telah menerbitkan Keputusan Kepala Badan POM Nomor HK.02.02.1.2.07.21.288 Tahun 2021 tentang Petunjuk Teknis Prinsip Penggunaan Obat Melalui Skema Perluasan Penggunaan Khusus atau Expanded Access Program (EAP) Pada Kondisi Darurat.

EAP ini merupakan skema yang memungkinkan perluasan penggunaan suatu obat yang masih berada dalam tahap uji klinik untuk dapat digunakan di luar uji klinik yang berjalan. Penggunaan ini diperbolehkan jika diperlukan dalam kondisi darurat. Izin ini berbeda dengan EUA. Sebab, izin ini diberikan ke kementerian atau lembaga yang menyelenggarakan urusan kesehatan. Sementara EUA diberikan kepada farmasi.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pada 1 Oktober lalu perusahaan Merck dan Ridgeback mengumumkan hasil penelitian penggunaan obat Molnupiravir. Hasil penelitian terhadap obat antiviral itu, terjadi penurunan 50 persen angka perawatan di rumah sakit. Selain itu, mencegah kematian akibat Covid-19 pada pasien tingkat ringan sampai sedang.

’’Hasil penelitian ini juga menunjukkan data pada 40 persen sampelnya memiliki efikasi Molnupiravir yang konsisten. Kondisi ini berlaku pada Covid-19 varian Gamma, Delta, Mu.

Tjandara mengatakan, publik harus mengetahui bahwa pada April 2021 lalu, uji klinik obat Molnupiravir pada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sempat dihentikan. Alasannya karena tidak menunjukkan hasil yang baik pada pasien yang sudah masuk rumah sakit.

’’Waktu bulan April itu diputuskan penelitian diteruskan hanya pada mereka yang belum masuk rumah sakit. Yang hasilnya baru diumumkan 1 Oktober ini,’’ katanya. Tjandra mendapatkan informasi bahwa obat ini kemungkinan mengantongi izin edar dalam bentuk EUA. BPOM-nya Amerika Serikat nantinya menilai semua data dan kelayakan yang ada.

Menurut Tjandra, sejak tahun lalu, banyak dibicarakan tentang obat-obatan untuk penanganan Covid-19. Ada sejumlah obat yang semua dirasa menjanjikan, tetapi setelah dilakukan penelitian mendalam, ternyata tidak terbukti memberikan manfaat bermakna. (kip/jpg/riz/k16)