MINIMNYAakses transportasi ke Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) jadi persoalan serius. Berdasarkan laporan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), transportasi utama di Kabupaten Mahulu yang berdiri sejak 9 tahun lalu, masih sangat bergantung dengan sungai. Ketergantungannya hingga 75 persen. Jenis transportasi meliputi kapal pedalaman, speedboat, longboat, dan perahu ketinting.

Jika musim kemarau, akses transportasi sungai tidak dapat dilalui. Terutama ke wilayah perbatasan. Yaitu, Kecamatan Long Pahangai dan Kecamatan Long Apari. “Disebabkan volume airnya dangkal dan sangat membahayakan pelayaran,” kata Djoko Setijowarno, ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Pusat kepada Kaltim Post, Ahad (3/10). Akademisi Program Studi (Prodi) Teknik Sipil Unika Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah, ini melanjutkan, kondisi jalan darat di kabupaten yang masih tercatat sebagai salah satu dari 122 daerah 3T (terdepan, terpencil dan tertinggal), juga belum memadai.

Sehingga penyediaan layanan transportasi umum, belum dapat diberikan kepada masyarakat. Mengingat masih berupa jalan tanah bebatuan. “Pada musim hujan akan sangat riskan untuk dilalui kendaraan disebabkan jalan licin dan terdapat kubangan air yang dalam,” katanya. Untuk diketahui, lanjut dia, jalan pararel perbatasan Kalimantan sepanjang 1.832,53 kilometer dengan melewati tiga provinsi. Yakni Kalbar (811,72 kilometer), Kaltim (406,26 kilometer), dan Kaltara (614,55 kilometer).

Jalan pararel perbatasan Kalimantan yang melintas di Kaltim paling pendek hanya sepanjang 406,26 km (22,17 persen). Lokasinya berada di Kabupaten Mahulu. Panjang jalan itu terbagi dalam empat ruas. Yaitu batas Kalbar-Tiong Ohang sepanjang 69,65 kilometer, Tiong Ohang-Long Pahangai sepanjang 103,55 kilometer, Long Pahangai-Long Boh sepanjang 90,69 kilometer, dan Tering-Long Bagun sepanjang 142,37 kilometer.

“Semua ruas jalan itu sudah tembus hutan. Sehingga tidak ada lagi yang masih berupa kawasan hutan,” katanya. Menurut data terakhir Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR, hingga akhir 2021, ruas jalan di perbatasan berupa tanah sepanjang 233,49 km (57,47 persen), agregat 62,36 kilometer (15,35 persen), rigid 4,81 kilometer (1,19 persen) dan yang sudah beraspal 105,60 kilometer (25,99 persen). Jika jalan pararel perbatasan Kalimantan ini selesai dibangun, akan menambah akses ke Kabupaten Mahulu. Tidak hanya lewat Kabupaten Kubar. Dan berikutnya tinggal menghubungkan ke Kota Ujoh Bilang sepanjang 157 kilometer.

“Aksesibilitas jalan terwujud, keterisolasian Kabupaten Mahulu menjadi terbuka dan tidak masuk lagi daerah 3T. Komoditas bahan pokok dapat mudah terdistribusi, dan bisa lebih murah nantinya. Perekonomian dan kesejahteraan rakyat akan dicapai. Peradaban akan terbangun dan perekonomian masyarakat akan meningkat,” jabar dia. Keterbatasan layanan penerbangan juga menjadi kendala transportasi di sana. Hal ini, disebabkan Bandara Datah Dawai masih merupakan bandara perintis dengan kapasitas angkut pesawat terbang. Hanya mampu membawa 9–10 penumpang.

Di sisi lain, letaknya juga cukup jauh dari Ibu Kota Kabupaten Mahulu, Ujoh Bilang. Dengan perjalanan masih dilanjutkan menggunakan transportasi sungai. Bandara perintis Datah Dawai sendiri terletak di Kampung Long Lunuk Kecamatan Long Pahangai di daerah hulu Sungai Mahakam. Hanya bisa ditempuh melalui perahu longboat dan speedboat melalui jalur Sungai Mahakam dengan melewati jeram-jeram ganas kurang lebih sekitar 4–5 jam dari Ujoh Bilang yang terletak di hilir.

“Perjalanan tergantung kondisi alam atau cuaca dan pasang surut air Sungai Mahakam. Jika kondisi air surut, perjalanan sungai tentu mengalami kesulitan. Dan berbahaya begitupun sebaliknya jika kondisi air sungai besar atau banjir para motoris perahu longboat dan speedboat akan menunda untuk melakukan perjalanan sampai kondisi air sungai dianggap aman,” ungkap dia yang belum lama ini berkunjung ke Mahulu. Keterbatasan akses layanan transportasi disebabkan moda transportasi darat dan udara tidak dapat berjalan maksimal. Praktis hanya mengandalkan transportasi sungai dan itu pun sangat tergantung pada kondisi alam, seperti musim kemarau, banjir besar.

Hal itu, berdampak pada mahalnya biaya transportasi di Mahulu. Mengingat, ongkos transportasi untuk moda transportasi sungai, seperti speedboat, longboat, kapal relatif lebih mahal dibandingkan menggunakan transportasi darat. “Operasional untuk kendaraan air lebih mahal dibandingkan moda transportasi darat,” ucapnya. Di samping itu, letak Ibu Kota Kabupaten Mahulu, Ujoh Bilang dengan Sendawar yang merupakan ibu kota terdekat, Kabupaten Kubar, berjarak 160 kilometer. Kondisinya masih berupa perkerasan tanah yang hanya bisa dilalui dengan mobil berpenggerak empat roda (four wheel drive/4 WD). Lalu jarak Kecamatan Ujoh Bilang ke arah perbatasan Malaysia, melalui Kecamatan Long Apari sekitar 157 kilometer. Berupa badan jalan yang masih sangat terbatas, dan belum ada jembatan. “Apabila musim hujan akan kesulitan dilewati dan timbul jalan berkubang,” kata Djoko.

Minimnya akses transportasi yang layak di Kabupaten Mahulu berdampak pula pada harga kebutuhan pokok yang tinggi. Karena angkutan sembako masih menggunakan transportasi sungai. Dan biaya angkutan yang cukup jauh dari Samarinda ke Ujoh Bilang sekitar 36 jam. Selain itu, menggunakan jalan darat antara Ujoh Bilang-Samarinda dengan jarak tempuh dan kondisi jalan yang ada, bisa ditempuh kurang lebih 14–15 jam. “Andai kondisi jalan sudah mulus, dengan permukaan jalan beraspal bisa ditempuh 10 jam. Juga dapat dioperasikan layanan angkutan jalan perintis (bus perintis) hingga Samarinda,” ujar dia.

Selain itu, membangun bandara baru di dekat Ujoh Bilang yang representatif dapat memangkas waktu perjalanan. Yang dapat ditempuh satu jam dengan pesawat jenis ATR berkapasitas 70 penumpang. “Lahan untuk membangun bandara baru dekat Kota Ujoh Bilang sudah disiapkan,” sambung Djoko. (kip/riz/k8)