Investasi yang masuk ke Kota Minyak tahun ini diprediksi tidak banyak berubah dibandingkan tahun lalu. Paling tinggi bersumber dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk proyek strategis nasional seperti refinery development master plan (RDMP) Pertamina dan Tol Balikpapan-Samarinda.

BALIKPAPAN – Meski stagnan, realisasi investasi di Balikpapan terbilang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan kenaikannya mencapai lima kali lipat. Adapun total jumlah investasi yang akan mengucur ke Kota Beriman mencapai Rp 15 triliun.

“Nilai proyek strategis nasional itu tinggi, kurang lebih Rp 12 triliun. Tetapi, sumbernya kegiatan pusat. Kalau Balikpapan murni hanya Rp 3 triliun. Tahun lalu pun kurang lebih Rp 3 triliun juga,” ungkap Plt Kabid Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Balikpapan, Adamin, Jumat (2/10).

Situasi sekarang menurutnya belum bisa menggambarkan kondisi investasi tahun depan. Apakah ada kenaikan lagi dari nilai investasi pusat di Balikpapan atau tidak. Karena disesuaikan dengan keberlanjutan proyek strategis nasional serta perpindahan ibu kota negara (IKN) baru di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

Bila berlanjut, maka investasi yang mengucur ke Balikpapan bisa lebih besar. Dan sebagai penyangga IKN, Kota Minyak bakal mendapatkan porsi karena menjadi pintu masuk. “Keputusan berlanjut atau tidaknya ada di pusat. Tanpa ada proyek strategis nasional prediksi kami sebenarnya sekitar Rp 3-4 triliun per tahun,” tuturnya.

Terhadap perekonomian daerah, walau tidak seluruhnya pekerja Balikpapan yang terserap, ekonomi dalam kota tetap berputar. Kondisinya sejauh ini masih normal. Adapun prediksi kenaikan dikaitkan dengan permohonan berusaha yang teregistrasi masih berpeluang. “Walau realisasinya tidak sama dengan target, tapi paling tidak 80-90 persen sudah sesuai. Kecuali yang tadi proyek strategis nasional, bila dihitung sesuai angka memang naik 500 persen,” ucapnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kabid Pengaduan Layanan Informasi dan Kebijakan ini menambahkan, di Balikpapan untuk usaha sawit ataupun tambang tidak diperbolehkan kecuali operasional. Sedangkan Kariangau menjadi pusat industri, pergudangan dan bongkar muat kapal. Hanya saja tidak 100 persen merupakan kewenangan kota, tapi juga provinsi.

Dirinya menuturkan, investasi usaha yang paling berpeluang kini ialah peti kemas. Tapi, belum diketahui betul detailnya, karena terencana dari provinsi. Sampai sekarang pun masih terganjal masalah lahan.

Kariangau memang didorong menjadi pusat industri dan pergudangan, tidak mungkin lagi dipindah ke daerah Manggar. Karena perairan Manggar lebih dangkal, tidak sedalam Kariangau. Selebihnya ia menyebut, untuk tahun 2021 proyek besar baru di Balikpapan selain proyek strategis nasional belum ada untuk mengangkat perekonomian.

“Sebenarnya, costal road itu sangat ditunggu. Investasinya besar. Dan sebenarnya sudah sampai tahap lelang. Hanya saja karena pandemi dan IKN masih slow jadi belum berlanjut. Jika pembangunan IKN berjalan tentu akan jauh lebih menggoda. Mengingat pergeseran manusia ke IKN pasti banyak,” timpal Adamin.

Sedangkan data dari DPMPTSP Kaltim menyebut, realisasi investasi Kaltim pada triwulan II 2021 mencapai Rp 13,93 triliun. Atau mengalami peningkatan sebesar 15,31 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020, sekitar Rp 12,08 triliun. Investasi tersebut terdiri dari realisasi PMDN sebesar Rp 10,16 triliun yang berasal dari 3.866 proyek dan PMA sebesar USD 258,31 juta atau Rp 3,77 triliun dengan 486 proyek. (lil/ndu/k15)