BANDUNG – Tangisan itu tak bisa ditahan Joko Susilo. Menangis bukan karena Persik Kediri hanya mampu bermain imbang melawan PS Sleman di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, kemarin (3/10). Pria yang akrab disapa Gethuk itu menangis karena laga tersebut adalah pertandingan terakhirnya bersama Persik.

Ya, beberapa jam sebelum kickoff, manajemen tim berjuluk Macan Putih itu secara mengejutkan memberhentikan Gethuk sebagai pelatih kepala. ”Hari ini adalah pertandingan terakhir coach Gethuk mendampingi tim,” kata Presiden Persik Abdul Hakim Bafaqih.

Mantan pelatih Arema FC itu dinilai gagal. Satu kemenangan, dua hasil imbang, dan tiga kekalahan di seri pertama BRI Liga 1 2021–2022 membuat manajemen tidak bisa bekerja sama lagi dengan Gethuk. Apalagi, Persik bercokol di posisi ke-16 klasemen sementara.

Sambil terbata-bata, Gethuk mengatakan rasa terima kasihnya. Baik kepada manajemen Persik maupun para pemain. ”Sangat luar biasa saya bisa diberi kesempatan untuk menangani Persik,” ucapnya.

Pelatih berusia 50 tahun itu menambahkan, tidak ada masalah antara dirinya dan manajemen Persik. Dia juga legawa meskipun masih banyak target yang ingin dicapai bersama Persik. ”Di luar dan di dalam memang terlihat berbeda. Di dalam sangat harmonis, kami seperti keluarga,” ungkapnya.

Tapi, Gethuk mengungkapkan, situasi itu tidak terlihat di luar. Banyak yang menganggap situasi dalam tim tidak harmonis. ”Di luar orang melihatnya sangat berbeda dengan apa yang terjadi sebenarnya,” lanjutnya.

Pemain Persik Risna Prahalabenta sedih atas kepergian Gethuk. Menurut dia, sang pelatih sudah memberikan banyak pelajaran kepadanya dan tim. ”Terima kasih, Coach, atas semua ilmunya,” tuturnya.

Gethuk merupakan pelatih pertama di BRI Liga 1 yang dipecat. Pelatih pertama yang harus hengkang akibat buruknya penampilan tim. Adapun lawan Persik kemarin sore, yakni PSS, belum juga memutuskan apakah memecat pelatihnya, Dejan Antonic.

Meskipun tagar #DejanOut terus diramaikan suporter PSS di media sosial, manajemen Super Elang Jawa bergeming. Hasil imbang melawan Persik kemarin membuat statistik Dejan tidak membaik bersama PSS. Dari enam pertandingan, satu kemenangan, dua imbang, dan tiga kekalahan menjadi catatannya.

Dejan menyatakan, hasil imbang itu tidak terlepas dari mental pemainnya. Tekanan dari suporter sangat berpengaruh terhadap mental bertanding Bagus Nirwanto dkk. ”Semua sudah tahu situasi PSS. Jujur ini mengganggu pemain,” bebernya.

Malah, sebelum pertandingan, dia melihat wajah anak asuhnya penuh beban. Dia mengunjungi kamar-kamar pemain. Semua diam dan terlihat tertekan. ”Tapi, semuanya kasih yang terbaik ketika di lapangan,” paparnya. (rid/c19/ali)