Lima belas tahun, lima film. Dengan catatan tersebut, Daniel Craig resmi berpamitan dari peran James Bond. No Time to Die menjadi misi pemungkasnya. Perjalanan Craig ditutup dengan memukau, emosional, dan megah. Mission accomplished.

SETELAH penangkapan Ernst Stavro Blofeld (Christoph Waltz), Bond bertolak ke Matera, Italia, bersama Dr Madeleine Swann (Lea Seydoux). Keduanya gagal pelesir. Mereka justru diserbu pembunuh bayaran dari Spectre. Insiden kejar-kejaran itu berakhir pahit. Hubungan Bond dengan Swann berakhir. Bond menilai Swann menyadap dan menghasutnya masuk organisasi kriminal tersebut.

Waktu berlalu. Bond pensiun sebagai mata-mata MI6. Kode 007 kini menjadi milik Nomi (Lashana Lynch), mata-mata muda ambisius yang baru dua tahun bertugas. Di tengah masa liburannya di Jamaika, Bond kembali ”dipaksa” bertugas oleh sahabatnya yang juga mata-mata CIA, Felix Leiter (Jeffrey Wright).

Misi mereka kali ini ialah menghentikan pengembangan Project Heracles, senjata biologis berupa nanobot yang dirancang berdasar DNA. Nanobot menyebar bak virus, namun baru bereaksi jika DNA individu yang diserang sesuai. Kuncian proyek itu adalah Valdo Obruchev (David Dencik), peneliti yang bekerja sama dengan sindikat kriminal.

Beraksi kembalinya Bond membuat bos MI6 M (Ralph Fiennes) meradang. Sebab, organisasinya telah mengirim Nomi, agen berkode 007 baru, untuk misi tersebut. Setelah pengejaran Obruchev gagal, M menugaskan kembali Bond. Di percobaan kedua Bond kembali bertemu dengan Swann. Mantan kekasihnya itu kini menjadi ibu satu anak, Mathilde, serta psikiater yang menangani Blofeld dan Lyutsifer Safin (Rami Malek).

Tanpa diduga, sosok Safin yang misterius justru menjadi incaran utama dalam misi mereka. Dia punya peran besar di masa lalu Swann. Bukan hanya itu, Safin adalah pimpinan kelompok teroris sekaligus dalang Project Heracles. Nomi dan Bond, serta Q (Ben Whishaw), bertolak ke markas Safin, sebuah pulau kecil bekas markas Perang Dunia II. Pulau itu disulap menjadi pabrik senjata biologis raksasa. Tim Bond berpacu dengan waktu agar senjata biologis tersebut tak keburu menyebar.

No Time to Die menuntaskan teka-teki yang belum terpecahkan di Spectre (2015). Ia sekaligus mengakhiri perjalanan Bond era Craig. Tim penulis dan sutradara Cary Joji Fukunaga ”membekali” film itu dengan banyak hal. Mulai mata-mata perempuan muda, seperti penerus Bond (Nomi) dan mata-mata CIA Paloma (Ana de Armas). Tensi film dijaga dengan aksi laga yang tak putus. Selalu ada aksi pengejaran dan pertarungan yang dikemas dengan visual apik.

Film dengan durasi terpanjang di franchise tersebut menjadi pembuktian Fukunaga dan tim produksi. Sebab, masa praproduksi No Time to Die hanya sepertiga dari jangka waktu normal. MGM dan Universal tak mengubah kalender produksi meski mengalami pergantian sutradara. ”Aku menulis sebelum dan sesudah syuting, bahkan saat akhir pekan. Semuanya serba nonstop,” ungkap Fukunaga.

Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, sutradara berusia 44 tahun itu menyatakan, No Time to Die mengusung cerita thriller psikologis yang intens. Dia tidak ingin karya perdananya di genre spionase berakhir sebatas popcorn flick saja. ”Aku beserta tim produksi dan cast sangat puas dengan hasil final yang begitu solid,” ucapnya.

No Time to Die juga menghadirkan salah satu villain yang dinilai paling keji di lima proyek terakhir Bond, Lyutsifer Safin. Rami Malek, pemeran Safin, menilai ”bangunan” tokoh itu nyaris sama dengan tokoh antagonis lainnya. Yakni lahir dari masa lalu buruk atau kesalahpahaman. ”Namun, ada sesuatu di balik kecermatannya mewujudkan keinginannya yang begitu spesifik. Aku berpikir, apakah aku bisa menjadi Safin yang begitu ’lepas’ dan murni jahat?” ungkapnya.

Bagi Malek, berakting di No Time to Die adalah pengalaman penuh pelajaran. Dia mengaku tak pernah segera kembali ke trailer atau pulang tiap selesai syuting. ”Ada godaan untuk terus ada di sana dan melihat semuanya, dari syuting para stunts sampai pengambilan gambar aktor lain,” lanjut pemenang Aktor Terbaik Oscars 2019 itu. Dia menilai penyutradaraan Fukunaga bak karya seni.

Dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Daniel Craig mengatakan, No Time to Die benar-benar menjadi proyek terakhirnya sebagai Bond. Dia merasa senang proyek terakhirnya berkesempatan ditayangkan di layar lebar. Craig menyatakan akan sangat merindukan tim ”raksasa” di balik setiap produksi film mata-mata Inggris itu. ”Aku telah selesai. Aku sudah memberikan segala yang kupunya. Dia (Bond) akan selalu ada untukku,” ujarnya.

Aktor berusia 53 tahun tersebut mengaku tidak akan terlibat lagi dalam produksi maupun pemilihan penerus mata-mata 007 itu. Meski dia tak menutup kemungkinan kembali ke franchise yang membesarkan namanya tersebut. ”Untuk siapa pun yang memerankan Bond selanjutnya, semoga sukses. Semoga kalian menikmati waktu memerankan tokoh itu. Sebagaimana yang kulakukan selama lebih dari sedekade,” imbuh Craig. (jpc)

TRIVIA

– Trik donat alias drifting di salah satu scene pembuka dilakukan sendiri oleh Daniel Craig.

– Syuting adegan pembuka dilakukan di Matera, Italia. Kota tersebut juga menjadi lokasi pengambilan gambar Wonder Woman untuk Themyscira.

– Lashana Lynch menjalani camp untuk memerankan Nomi. Dia berlatih wushu, tinju, hingga menggunakan senjata api di lapangan saat musim panas.

– Ana de Armas menjelaskan, slit dress dan sepatu berhak tinggi yang digunakan di scene pertarungan dirancang khusus oleh tim wardrobe agar tetap nyaman.