Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan arahan bagi PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) untuk merambah pasar pupuk non-subsidi yang memiliki potensi tumbuh yang sangat besar. Diketahui bahwa market pupuk nonsubsidi terus meningkat sebesar 53 persen.

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi pun turut menanggapi arahan tersebut dengan mengungkapkan kesiapan Pupuk Kaltim. Dirinya mengatakan bahwa pihaknya akan segera menggali potensi tersebut.

“Kami siap mengikuti arahan dari pemerintah terkait fokus perusahaan untuk menggarap peluang di pasar non-subsidi. Pupuk Kaltim memiliki fasilitas produksi yang sangat efisien dan berkapasitas yang besar,” ungkap dia, Minggu (3/10).

Jadi disamping kewajiban untuk memenuhi pupuk subsidi, pihaknya juga siap untuk bersaing dan meningkatkan pangsa pasar pupuk non subsidi. Bahkan tidak hanya di pasar domestik, ditargetkan peningkatan pangsa pasar hingga di Asia Pasifik.

“Produksi pupuk non subsidi Pupuk Kaltim, khususnya pupuk Urea Daun Buah, menguasai market share yang sangat besar di Indonesia. Sementara pupuk NPK Pelangi menjadi idola petani dalam meningkatkan produksi pangan dan hortikultura serta perkebunan,” jelasnya.

Dijelaskan hingga 21 September 2021, untuk distribusi pupuk nonsubsidi dalam negeri, pihaknya telah menyalurkan 800 ribu ton Urea Daun Buah atau 72 persen dari target 1,1 juta ton dan 120.000 ton NPK Pelangi atau 60 persen dari target 200 ribu ton di tahun 2021.

“Dengan jaringan distribusi dan penguasaan wilayah pemasaran, pupuk nonsubsidi Pupuk Kaltim yang memiliki kualitas prima dan berlabel SNI, selalu tersedia guna memenuhi kebutuhan petani dan meningkatkan hasil produksi pertanian di Indonesia,” terangnya.

Sebelum datang arahan dari Erick Thohir, pada 2020, 72 persen dari volume penjualan Urea Pupuk Kaltim telah menyasar pasar nonsubsidi domestik dan ekspor. Tentunya ini dilakukan dengan terlebih dahulu memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

Untuk meningkatkan penggunaan pupuk nonsubsidi dalam negeri, Pupuk Kaltim pun menciptakan ekosistem yang membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani Indonesia melalui program Makmur (Mari Kita Majukan Usaha Rakyat).

“Kami menggandeng petani, distributor pupuk dan pestisida, pemerintah daerah, offtaker, hingga lembaga keuangan dan asuransi. Dengan dukungan di pasar nonsubsidi dan program Makmur yang terus kami perluas wilayahnya, akan membantu meningkatkan produktivitas petani dan turut mendorong Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” tutup Rahmad. (jpc)