SAMARINDA - Peningkatan harga kelapa sawit terus berlanjut. Bahkan pada September 2021 harga tandan buah segar (TBS) tercatat sebagai yang tertinggi sejak Januari, yakni di level Rp 2.251 per kilogram. Kenaikan ini dipengaruhi harga crude palm oil (CPO) yang menyentuh USD 1.185,26 per ton. Harga tersebut naik USD 136,64 atau 13,03 persen dari Agustus (USD 1.048,62 per ton).

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, komoditas sawit terus menunjukkan tren yang positif, meski dalam masa pandemi Covid-19. Kondisi yang bergairah tersebut tak hanya menguntungkan para pelaku usaha, namun lebih jauh berdampak kepada kesejahteraan petani sawit.

“Industri ini terbukti mengangkat perekonomian masyarakat. Sebab, dengan adanya perkebunan kelapa sawit membuat masyarakat sejahtera,” tuturnya, Kamis (30/9).

Menurutnya, peningkatan harga TBS tak lepas dari peningkatan harga CPO. Tingginya harga minyak kelapa sawit salah satunya disebabkan ekspor yang bergairah. Apalagi, pada September 2021 Uni Eropa juga menambah impor minyak kelapa sawit sebesar 139,2 ton. Padahal Uni Eropa sangat gencar melakukan kampanye hitam mengenai kelapa sawit, mulai dari CPO hingga produk-produk turunannya.

Ekspor minyak sawit saat ini mencapai 2.742 ribu ton. Nilai ekspor produk minyak sawit mencapai USD 2.802 juta. Kenaikan volume ekspor terbesar terjadi untuk tujuan Uni Eropa yang naik menjadi 509,7 ribu ton (+139,2 ribu ton), India menjadi 231,2 ribu ton (+122,5 ribu ton), Pakistan menjadi 277,2 ribu ton (+119,4 ribu ton) dan Tiongkok menjadi 522,2 ribu ton (+104,1 ribu ton).

Tingginya permintaan beberapa negara diimbangi dengan tingginya harga, sehingga menjadi pengganti saat dua tahun lalu ketika harga sangat rendah. Saat ini di tengah kinerja yang terus membaik, pelaku usaha dan petani harus berinvestasi untuk memperbaiki kinerja kelapa sawit di daerah. Investasi perkebunan bisa memperkuat daya saing dan keberhasilan bisnis sawit di masa depan.

Petani di tengah tingginya harga lebih baik mempersiapkan peremajaan. “Apalagi, saat ini tren produksi kelapa sawit masih mengalami peningkatan, dengan laju rata-rata 177 ribu ton per bulan. Di tengah produksi yang masih baik, dan harga yang masih meningkat, ini harus kita jadikan momen memperkuat daya saing,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)