Kaltim diperkirakan memiliki 17.861 ton deposit uranium. Dalam laporan Batan, terdapat tiga lokasi tapak potensial untuk pembangunan PLTN di provinsi ini. Dua lokasi di Kukar dan satu lokasi Kutim.

 

BALIKPAPAN–Kebutuhan listrik yang cukup besar di ibu kota negara (IKN) baru, nantinya bisa ditopang menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya, melalui penggunaan energi alternatif yang disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Sejauh ini, ada dua wilayah potensial yang telah disurvei untuk pembangunan PLTN. Yakni Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kutai Timur (Kutim).

Sebelumnya, PT PLN (Persero) memperkirakan, IKN membutuhkan setrum sekitar 190 megavolt ampere. Daya sebesar itu untuk mengaliri istana presiden dan wakil presiden, kantor lembaga negara, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Hingga taman budaya dan botanical garden yang direncanakan di dalam kawasan pusat pemerintahan IKN di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Ditemui Kaltim Post (28/9), Deputi Pengkajian Keselamatan Nuklir Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Dahlia Cokrowati Sinaga menuturkan, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) maupun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), diperkirakan tidak mampu memenuhi kebutuhan setrum di IKN baru yang akan banyak menggunakan sistem berteknologi tinggi.

Walaupun kondisinya saat ini, rasio kapasitas listrik di Kaltim masih surplus cukup besar, mencapai 526 megawatt (MW). Sebab, sistem kelistrikan di Kaltimra menggunakan sistem interkoneksi (Kaltim, Kaltara, Kalsel, dan Kalteng) dengan total daya mampu mencapai 1.171 MW dan beban puncak 521 MW. Dengan demikian, cadangan setrum Kaltim saat ini mencapai 45 persen.

“Ibu kota negara listriknya enggak boleh kadang-kadang hidup, kadang-kadang mati. Jadi perlu sumber listrik yang sustainable (berkelanjutan). Yang bisa disuplai oleh PLTN,” katanya di Golden Tulip Apartemen, Jalan Jenderal Sudirman, Klandasan Ilir, Balikpapan Kota. Dia melanjutkan, penggunaan tenaga nuklir merupakan pilihan sumber listrik alternatif IKN yang mengusung konsep kota hijau dan bersih.

Dahlia lalu mengenang upaya Awang Faroek Ishak beberapa tahun lalu saat masih menjabat gubernur Kaltim. Ketika itu, Awang Faroek ingin membangun PLTN untuk memenuhi kebutuhan listrik Kaltim, khususnya pengembangan industri ke depannya. “Mungkin industri di Balikpapan atau Kaltim, akan ditingkatkan. Dan pasti perlu energi untuk itu. Sehingga waktu itu dimunculkan wacana pembangunan PLTN,” katanya.

Akan tetapi, sambung dia, untuk membangun sebuah PLTN perlu memerhatikan delapan aspek. Yaitu aspek hidrologi (sirkulasi air), meteorologi (cuaca), seismik (kegempaan), vulkanologi (gunung api), geotektik (mineral bumi), kejadian akibat ulah manusia, dispersi radioaktif, dan sebaran penduduk. Setelah dilakukan kajian dan penelitian, wilayah Kaltim cukup baik untuk dibangun PLTN. Secara umum, memenuhi persyaratan utama. Seperti gempa yang relatif minim dan tidak ada gunung api.

 “Cuma harus dilihat lagi sisi hidrologinya. Apakah daerah itu rawan banjir atau enggak. Walaupun ada solusi rekayasa, misalnya membangunwall (dinding). Tapi harus dievaluasi dari sisi delapan aspek itu. Sehingga bisa diketahui, pembangunan di situ. Potensi bahayanya tidak besar untuk masyarakat, pekerja, dan lingkungannya,” terang dia.

Dahlia mengungkapkan, berbicara penggunaan nuklir, maka tak lepas dari risiko dan manfaat yang saling berkaitan. Walau begitu, jika daerah yang akan dibangun PLTN akan mendatangkan manfaat yang besar, maka perlu dilakukan upaya untuk memperkecil risiko dari dampak penggunaan energi nuklir. “Selama punya manfaat yang besar dan risikonya diperkecil itu, baru kita bolehkan. Jadi manfaatnya harus lebih besar dari risikonya. Walaupun memang nuklir punya risiko, tapi harus diperkecil,” pesannya. Selain tenaga nuklir, potensi EBT di Kaltim dan Kaltara cukup besar. Salah satunya EBT bersumber dari tenaga air alias hydro dari Sungai Kayan, Kecamatan Long Peso, Kabupaten Bulungan, Kaltara. Yang disebut berpotensi menghasilkan listrik hingga 9.000–12.000 MW.

Namun tak dimungkiri, sumber daya uranium banyak ditemukan di Indonesia. Bahkan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyebut, Kaltim memiliki 17.861 ton deposit uranium. Sementara Indonesia secara umum memiliki 81.090 ton deposit uranium. Selain dari uranium, nuklir juga bisa dihasilkan dari olahan torium. Yang kandungannya lebih banyak empat kali dibandingkan uranium. Dalam laporan Batan sebelumnya, disampaikan bahwa terdapat tiga lokasi tapak potensial untuk pembangunan PLTN di Kaltim. Yaitu, dua lokasi di Kabupaten Kutai Kartanegara dan satu lokasi di kabupaten Kutai Timur.

Penentuan tapak potensial ini dilakukan dengan analisis spasial kesesuaian lahan dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG). Seleksi tapak PLTN merupakan tahap yang sangat penting untuk menghitung kesesuaian lahan dalam aspek keselamatan dan biaya selama PLTN beroperasi. Akhir Oktober 2019, Pemprov Kaltim mengadakan pembicaraan dengan perusahaan asal Jepang untuk berinvestasi di PLTN di Benua Etam. Wakil Gubernur Hadi Mulyadi kala itu mengungkapkan, ketersediaan pasokan bahan baku untuk energi listrik berupa uranium, cukup besar tersedia di Kaltim.

“Menyampaikan bahwa Kaltim ini punya potensi untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Dan Pak Awang (gubernur periode sebelumnya) pernah membentuk tim untuk itu. Saya juga waktu masih di DPR RI pernah membentuk kaukus nuklir. Tapi oleh Dewan Perekonomian Nasional, pembangkit nuklir dijadikan opsi terakhir,” ungkapnya.

Jepang yang sudah lama berpengalaman dalam bidang pengelolaan energi jenis ini, disebut Hadi, menjadi alasannya kembali menyampaikan kemungkinan dibangunnya PLTN di Kaltim. “Saya sampaikan kembali di kesempatan ini, karena Jepang sudah pengalaman dalam mengelola Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Siapa tahu suatu saat pemerintah pusat mengubah kebijakannya, maka kami sudah siap dengan itu,” pungkasnya. (kip/riz/k8)