Pengujiannya baru dilakukan di kapal, tapi cat antiradar bisa digunakan di berbagai kendaraan tempur militer dan kepolisian. Agar efisien, Wisnu Ari Adi berupaya menghasilkan kemampuan menyerap gelombang radar yang maksimal dengan lapisan cat setipis-tipisnya.

 

M. HILMI SETIAWAN, Tangerang Selatan

 

PENGUJIAN cat antiradar hasil inovasinya itu dilakukan Wisnu Ari Adi di tengah berbagai pembatasan kegiatan akibat pandemi Covid-19. Padahal, dia mesti melibatkan kapal besi. ’’Saya tidak bisa membawa tim banyak-banyak,’’ katanya saat ditemui di kompleks kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Serpong, Tangerang Selatan, Rabu pekan lalu (22/9).

Pengujian itu berlangsung di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Jakarta Utara pada Februari lalu. Saat itu dia membawa dua unit kapal siluman berbahan besi berdimensi 2 x 1 meter untuk piloting pengujian. Satu unit kapal besi dicat dengan bahan cat antiradar. Kemudian, satu unit kapal besi lainnya dicat dengan bahan cat biasa. Dua kapal itu lalu ditarik berjejer dengan kapal pemandu milik TNI-AL. Urutannya, kapal pemandu, kapal dengan cat penyerap gelombang radar, dan terakhir kapal dengan cat biasa.

Dalam pengujian tersebut, pria yang dikukuhkan sebagai profesor riset di lingkungan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) pada 15 September lalu itu menggunakan fasilitas radar uji KRI Amboina-503. Kapal perang milik TNI-AL itu biasanya digunakan untuk mengangkut tank amfibi. Hasilnya, dari yang seharusnya mendeteksi tiga kapal berjalan, yaitu kapal pemandu dan dua kapal besi, ternyata yang terdeteksi radar hanya dua objek. Kapal besi yang dilumuri cat antiradar lolos dari pemantauan.

Namun, pria kelahiran Malang, 13 Desember 1971, itu belum sepenuhnya puas dengan hasil tersebut. Pengujian berikutnya, kapal dengan cat antiradar dikesampingkan dulu. Hasilnya, radar mendeteksi dua kapal atau objek. Kemudian, diganti lagi formasinya: hanya kapal pemandu dan kapal bercat antiradar. ’’Ternyata benar, yang terdeteksi radar hanya kapal pemandu,’’ ungkapnya.

Wisnu lega karena akhirnya kapal besi yang dibalut ”cat ajaib” tersebut benar-benar hilang dari pantauan radar milik TNI-AL. Kapal itu pun bisa disebut kapal siluman seperti milik sejumlah negara maju. Hasil pengujian tersebut memperkuat pengujian sebelumnya yang dia lakukan pada 2019. Saat itu satu unit kapal patroli keamanan laut (patkamla) berukuran 15 meter dilapisi cat antiradar. Total yang dia habiskan lebih dari 1 ton. Dan, dibutuhkan waktu 15 hari untuk melakukan pengecatan. Waktu yang dibutuhkan cukup lama lantaran pengecatan dilakukan secara manual dengan menggunakan spray. Kemudian, pengecatan dilakukan dengan cara berlapis-lapis atau layer. Dengan ketebalan sekitar 3 milimeter.

Dalam pengembangan risetnya, Wisnu berupaya menghasilkan kemampuan menyerap gelombang radar yang maksimal dengan lapisan cat setipis-tipisnya agar bisa lebih efisien.

Lulusan program magister dan doktor di Universitas Indonesia (UI) itu menceritakan, penelitian cat penyerap gelombang radar dimulai sejak 2010. Kemudian, formulasi yang maksimal dalam menyerap gelombang radar ditemukan pada 2017. Hasil penyerapan optimal yang didapatkan Wisnu berada di angka 90 persen. ’’Inovasi ini sebelumnya saya jadikan topik disertasi di material sains UI,’’ kenangnya.

Dia mendapatkan teori bahwa ada dua faktor yang memengaruhi gelombang radar: intrinsik dan ekstrinsik. Faktor ekstrinsik terkait dengan bentuk atau geometri dan ketebalan sebuah objek. Dengan bentuk atau geometri yang dibuat sedemikian rupa, sebuah objek bisa mengacaukan gelombang radar. Gelombang radar menjadi semburat ke mana-mana dan tidak terpantul lagi ke perangkat penerima pantulan gelombang radar.

Wisnu mencontohkan, hampir semua jenis pesawat militer siluman punya bentuk yang selalu aneh-aneh. Memiliki banyak sisi atau lekukan-lekukan. Misalnya, pesawat F-117 Nighthawk milik Amerika Serikat. ’’Bentuk yang aneh itu bukan gaya-gayaan, melainkan untuk memancarkan pantulan gelombang radar ke mana-mana,’’ jelasnya.

Sementara itu, faktor intrinsik berupa internal material yang mampu menyerap gelombang radar. Wisnu menjelaskan bahwa cat antiradar itu masuk kategori faktor intrinsik. Bahan utama pembuat cat antiradar tersebut berasal dari salah satu hasil ekstraksi logam tanah jarang, yaitu lantanum. Logam tanah jarang ketika diekstraksi menghasilkan banyak kandungan. Selain lantanum, ada juga serium dan neodimium. Wisnu memilih kandungan lantanum karena logam itu memiliki kandungan mineral paling besar jika dibandingkan dengan hasil ekstraksi lainnya.

Bahan baku lantanum itu kemudian disintesiskan dengan bahan lainnya untuk memperkuat khasiat menyerap gelombang radar. Dengan pertimbangan paten dan lainnya, Wisnu menyampaikan nama kandungan itu saja yang digunakannya. Sementara, dia meminta formulasi campuran dengan material lainnya tetap dirahasiakan. Sebab, inovasi itu cukup strategis untuk sistem pertahanan nasional.

Bahan akhir berupa serbuk. Untuk mengetahui seberapa kuat kemampuan menyerap gelombang radar, dia menggunakan fasilitas neutron scattering. Alat itu cukup langka karena beroperasi dengan memanfaatkan tenaga dari reaktor nuklir.

Wisnu menyatakan, Indonesia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas neutron scattering. ’’Cara kerjanya hampir mirip CT scan untuk manusia,’’ katanya.

Bedanya, yang ditembak neutron scattering adalah hasil formulasi lantanum yang sudah disintesis. Dia melakukan ini berkali-kali sampai ketemu formulasi sintesis lantanum yang memiliki kekuatan menyerap gelombang radar tertinggi.

Wsinu menceritakan, pada 2014 atau setelah empat tahun penelitian, dirinya menghasilkan penyerapan yang baru 50 persen saja. Kemudian, pada 2015 kemampuan menyerap gelombang naik mencapai 60 persen. Lalu, kembali naik menjadi 85 persen pada 2017. Sampai akhirnya, saat ini cat antiradar inovasi Wisnu memiliki kemampuan menyerap gelombang radar sampai 90 persen.

Wisnu menyebutkan, gelombang radar itu terdiri atas vektor medan magnet dan medan listrik. Nah, bahan cat antiradar tersebut punya kemampuan spin magnetic. Gelombang yang dipancarkan radar dibuat berputar-putar (spin) oleh cat antiradar itu. Gelombang radar tadi terus berputar hingga hilang dengan sendirinya. Gelombang tersebut tidak kembali memantul ke alat penangkap gelombang radar sehingga tidak terbaca oleh perangkat radar. Gelombang radar yang diserap cat antiradar itu menghasilkan energi panas. ’’Tetapi, energi panasnya kecil sekali. Tidak sampai merusak kapal atau pesawat,’’ jelasnya.

Untuk sampai berwujud cat, bahan baku yang semula berupa serbuk dicampur dengan polimer. Percampuran itu tentu berdampak pada kualitas penyerapan gelombang radar. Namun, dia bisa menjaga serapan gelombang radar tetap optimal.

Wisnu menargetkan, pada 2023, produk cat antiradar itu bisa dikomersialkan. Sebab, dia sudah terikat kontrak pendanaan riset dengan Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP). Saat ini Wisnu sudah bermitra dengan perusahaan penghasil pigmen. Kemudian, dia juga sudah menggandeng PT Sigma untuk produksi akhir cat.

Penggunaannya sangat terbuka luas. Di antaranya, PT PAL dan Pindad. Perusahaan-perusahaan itu selama ini sering memproduksi kendaraan tempur untuk militer atau kepolisian.

Selain itu, Wisnu mengungkapkan bahwa cat antiradar ke depan juga bisa dipadukan dengan tekstil. Termasuk dikombinasikan dengan tenda. ’’Bisa digunakan untuk membuat tenda siluman yang tidak terpantau radar musuh. Jadi, prajurit bisa aman berada di dalamnya,’’ katanya. (*/c14/ttg)