MADRID – Real Madrid dikalahkan oleh klub antah berantah. Headline yang menghiasi pemberitaan seantero dunia sepanjang hari Kamis (29/9) itu memang tidak berlebihan. FC Sheriff yang mempermalukan Real 2-1 dalam matchday kedua fase grup Liga Champions di Estadio Santiago Bernabeu itu memang berasal dari negara yang tidak diakui dunia: Transnistria.

Memiliki nama resmi Republik Pridnestrovia Moldavia, Transnistria yang memisahkan diri dari Moldova tepat 21 tahun silam itu merupakan asal dari FC Sheriff. Tepatnya bermarkas di Tiraspol, ibu kota Transnistria.

Musim ini adalah dua dekade FC Sheriff konsisten berlaga di Liga Champions. Dan, klub yang baru berusia 24 tahun itu untuk kali pertama mampu menembus fase grup. Capaian yang tidak disia-siakan oleh klub berjuluk Osy alias Si Tawon tersebut.

FC Sheriff semula diprediksi jadi bulan-bulanan seiring satu grup dengan klub tersukses Liga Champions sekaligus pengoleksi 13 gelar Real Madrid, peraih scudetto Serie A Inter Milan, dan jagoan Ukraina Shakhtar Donetsk.

Yang kemudian terjadi adalah saat ini FC Sheriff malah sukses memuncaki klasemen grup D. Dua laga awal disapu bersih oleh klub yang mendominasi Divizia Nationala –kompetisi kasta teratas Moldova – dalam enam musim terakhir tersebut.

Real menyusul Shakhtar yang dikalahkan dengan dua gol tanpa balas dalam matchday pertama di Tiraspol (16/9). Tidak sembarangan tim bisa mengalahkan Los Merengus di Bernabeu. FCSheriff adalah tim keempat yang berhasil melakukannya setelah Juventus pada 1962, Arsenal (2006), dan Liverpool FC (2009).

Kemenangan yang ironis kalau membandingkan skuad Real yang berharga mahal dengan skuad Si Tawon. Nominal market value Karim Benzema dkk adalah EUR 793,5 (Rp 13,2 triliun) atau nyaris 65 kali lipat dari market value skuad FC Sheriff yang hanya EUR 12,38 juta (Rp 206 miliar).

Dalam laga kemarin, FC Sheriff yang hanya menguasai bola 24 persen dan tembakan hanya empat kali (berbanding 31 tembakan oleh Real) bisa membuktikan kalau bola itu bundar. ”Beberapa pemain besar mengatakan bahwa tim seperti kami tidak punya tempat di Liga Champions. Tetapi, kami membalikkannya. Kami menciptakan keajaiban,” papar pelatih FC Sheriff Vernydub kepada Sky Sports.

Gelandang serang FC Sheriff Sebastien Thill yang mencetak gol kemenangan pada menit ke-90 tak kalah larut dalam euforia. Thill yang menato betis kirinya dengan trofi Liga Champions seolah tak lagi bermimpi tampil dalam ajang antarklub paling prestius di Benua Biru tersebut.

”Aku awalnya hanya ingin merasakan atmosfernya (Liga Champions, Red). Kini, aku malah bisa membuat gol dan aku melakukannya ke gawang klub tersukses di ajang ini,” beber Thill yang mampu menorehkan rekor sebagai pemain pertama asal Luksemburg di papan skor Liga Champions. (io/dns)