SAMARINDA -  Dampak pandemi juga terasa di Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Samarinda. Jumlah pedonor pada umumnya menurun drastis. Sebab, urusan kondisi kesehatan menyebabkan para pedonor tak bisa beraktivitas seperti biasanya.

 Dalam tiga bulan terakhir saja, di UDD PMI Samarinda, pada Juni jumlah pedonor mencapai 2.789 orang. Sedangkan, pada Juli jumlah pedonor hanya 1.522 orang. Lalu, Agustus meningkat jadi 2.201 orang. Kondisi ini tak begitu menggembirakan. Sebab, tak sampai 3 ribu tiap bulan. Padahal, sebelum pandemi, angka pedonor bisa melebihi 3 ribu.

“Pada 2018 sebelum pandemi jumlah pedonor ada 31.654 orang. Kemudian pada 2019 meningkat jadi 32.508 orang. Kemudian pandemi terjadi, pedonor turun drastis. Pada 2020, jumlahnya hanya 27.893 orang,” papar Kepala Bagian Tata Usaha UDD PMI Samarinda Tompo Rejo.

Jika sebelum pandemi, kegiatan bakti sosial donor darah di kawasan ramai bisa dilakukan. Namun, karena selama covid, kegiatan dibatasi, juga berimbas pada kegiatan donor darah. 

Proses untuk mendapatkan darah yang pas juga tidak mudah. Proses donor darah dan pengolahannya juga harus sesuai dengan tenggat dan mekanisme ketat. Pendonor harus melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan. Mulai dari skrining kesehatan tubuh, hingga tes darah. Jika hasilnya bagus, donor darah bisa dilakukan. Selanjutnya, proses pengolahan darah juga harus segera diselesaikan dan darah disimpan dalam alat khusus. 

"Kalau ada permintaan darah datang, kita cocokkan dulu dengan sampelnya. Sebab, biar sama-sama golongannya, belum tentu bisa langsung cocok," terang Tompo.

Apalagi, darah bakal masuk dalam kategori obat. Sehingga, saat ini seluruh proses donor darah hingga menjadi produknya, harus sesuai ketentuan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). (nyc)