BALIKPAPAN - Resepsi pernikahan yang mulai diperbolehkan kembali digelar di hotel menjadi angin segar bagi pelaku usaha jasa pernikahan. Kondisi ini diharapkan tidak akan kembali berubah. Agar perekonomian mereka dapat pulih mengingat beberapa bulan terakhir pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membuat pendapatan mereka merosot tajam.

Termasuk di sisi entertainment seperti master of ceremony (MC) yang menjadi bagian penting dalam sebuah acara resepsi. “Alhamdulillah dari sebelumnya lesu, sekarang mulai ada kegiatan lagi. Teman-teman baik di MC, band tentu sangat menanti bisa kembali beraktivitas. Karena memang usaha wedding khususnya di entertainment terdampak sekali,” tutur Reval Zulfi, salah seorang MC, Senin (27/9).

Dalam pernikahan, terutama resepsi melibatkan banyak vendor. Semua tentu terkena imbas dari Covid-19. Dari itu, dengan diperbolehkannya menggelar resepsi menjadi berkah bagi semua. Sebab dikatakan Reval, tidak sedikit pelaku usaha harus banting setir dan menelan banyak kerugian selama pagebluk.

Mampu bertahan dan kini mulai bangkit lagi, ia berujar, walau resepsi telah boleh dilaksanakan, protokol kesehatan haruslah diperketat. Agar tidak ada penyebaran dan mencegah penularan seluruh pihak begitu memerhatikan sejak awal hingga akhir acara.

“Protokol kesehatan, surat rekomendasi izin dari Satgas Covid-19, kondisi kesehatan seluruh vendor yang terlibat, semua dari pra sampai acara selesai pun kami saling berkoordinasi satu sama lainnya,” ungkapnya.

Sebagai MC, kondisi yang dihadapi hampir sama dengan vendor lain. Jam kerja berkurang karena batas waktu pernikahan dipersingkat. Permintaan MC pun juga masih sedikit karena belum banyak yang kembali menggelar resepsi.

“Tertunda hingga cancel pasti ada. Permintaan mengisi acara juga belum membaik, kurang dari 50 persen dari sebelum pandemi. Sudah ada beberapa yang menggelar acara, tapi kan situasi juga berbeda dari dulu,” timpal Reval.

Ditambahkan Director of Operational Platinum Hotel Indonesia Soegianto, walau kegiatan resepsi telah kembali dilakukan jumlahnya masih sedikit. Hal itu juga tidak berimbas signifikan terhadap okupansi kamar. “Month to date masih 30 persen. Belum establish okupansi. Otomatis belum begitu menggembirakan. Year to date nantinya diperkirakan pun masih di bawah 50 persen,” ucapnya.

Padahal sebelum pandemi, biasanya September hingga November okupansi naik. Sebab, banyak kegiatan baik pemerintahan ataupun swasta yang digelar di hotel. Tetapi, sampai sekarang kunjungan tamu masih dari dalam daerah maupun kota-kota di sekitar Balikpapan saja. Kunjungan dari luar pulau juga belum membaik. Kondisi hampir sama dengan tahun lalu.

“Akhir tahun masih berat, kecuali PPKM turun level 1 kemungkinan okupansi bisa naik ada. Karena kebanyakan masih tamu walk in,” tutur Soegianto.

Penerapan kebijakan di hotel berbeda dengan mal. Sejauh ini, tidak ada larangan bagi anak di bawah usia 12 tahun ataupun yang belum vaksin datang menginap bersama keluarganya. Aplikasi PeduliLindungi juga tidak diterapkan bagi pengunjung. Meski demikian screening tetap diberlakukan ketika tamu hendak masuk ke dalam hotel.

“Maksimal tamu untuk resepsi masih 30-50 orang, tidak bisa menyentuh angka 100, dulu bisa sampai ribuan sekarang belum bisa. Sedangkan gambaran akhir tahun belum ada, karena kondisi belum pasti kami pun tidak ada wacana kegiatan di malam tahun,” tandasnya. (lil/ndu/k15)