BERLIN – Jerman memilih. Minggu (26/9), negara yang dipimpin Kanselir Angela Merkel itu menggelar pemilu parlemen. Ini adalah pertama kalinya Merkel tidak ikut pemilu sejak Jerman Barat dan Timur bersatu pada 1990. Itu juga kali pertama dia tidak menjadi kandidat kanselir sejak 2005. Karena itulah, para pengamat menilai bahwa ini adalah pemilu tersengit. Partai manapun berpeluang menang.

Tempat pemungutan suara dibuka sejak pukul 08.00 waktu setempat dan tutup pada pukul 18.00. Ada lebih dari 60,4 juta penduduk Jerman di atas usia 18 tahun yang memiliki hak pilih. Hasil resmi pemilu biasanya baru keluar setelah beberapa pekan. Penyelenggara pemilu menegaskan bahwa saat ini pemberian suara secara tidak langsung atau mail-in voting meningkat tajam dibanding pesta demokrasi sebelumnya. Jumlahnya sekitar 40 persen dari total pemilik hak suara.

Merkel yang kini berusia 67 tahun sudah berkuasa selama 16 tahun di Jerman. Pada Oktober 2018, lalu kanselir perempuan pertama Jerman itu sudah menyatakan tidak mencalonkan diri lagi. Itu seiring dengan isu kesehatannya yang menurun. Merkel beberapa kali tertangkap kamera mengalami tremor pada tangannya.

Politisi yang menjadi kanselir sejak 2005 itu sukses membawa Jerman menjadi salah satu negara dengan perekonomian terstabil. Partai Persatuan Demokrat Kristen Jerman (CDU) yang mengusung Merkel selalu menang dalam pemilu sebelumnya. Tapi kali ini, situasi bisa terbalik begitu saja. Sistem pemilu yang rumit di Jerman juga menambah sulit prediksi. Karena itu, pemilu kali ini adalah babak awal ketidakpastian di Jerman.

”Siapa sosok yang berkuasa adalah hal penting,” tegas Merkel dalam kampanye untuk mendukung partainya. Dia menegaskan bahwa Jerman butuh stabilitas dan para pemuda membutuhkan masa depan. Sosok Armin Laschet yang diusung CDU bisa memberikan dua hal penting tersebut.

Penduduk harus memilih dua kali dalam pemilu parlemen. Yang pertama adalah memilih kandidat secara langsung. Mereka yang terpilih adalah yang mendapatkan suara mayoritas di daerahnya. Pemungutan suara kedua adalah memilih calon dari daftar yang diserahkan oleh tiap-tiap partai. Biasanya kandidat utama partai yang tidak terpilih pada voting pertama akan dimasukkan dalam daftar teratas di pemilihan kedua.

Berdasarkan hasil jajak pendapat, Parti Sosial Demokrat (SPD) mendapatkan suara 25 persen. Disusul kemudian dengan CDU sekitar 23 persen. Situasi bisa berubah karena perbedaannya tipis. Namun bisa dipastikan bahwa tidak akan ada yang berhasil mendapatkan suara mayoritas dengan ketatnya persaingan.

Masing-masing partai harus berkoalisi untuk menentukan siapa yang akan memegang tampuk pemerintahan dan berkuasa di Bundestag, sebutan parlemen nasional Jerman. Selama proses negosiasi berlangsung nanti, Merkel tetap memimpin sebagai kanselir. Negosiasi bisa berlangsung dalam hitungan pekan atau bahkan berbulan-bulan.

Armin Laschet dari CDU menegaskan bahwa setiap balot akan menentukan arah kebijakan Jerman di masa depan. Menurutnya Jerman membutuhkan kestabilan. Jika penduduk memiliki pendapat serupa maka mereka harus memilih CDU. Namun masih banyak penduduk yang galau. Sehari sebelumnya sekitar 40 persen pemilik hak suara masih belum menentukan siapa yang bakal mereka pilih. ”Tahun ini cukup menarik mengetahui siapa yang akan menjadi pemimpin,’’ terang Ursula Becker salah satu pemilih.

Sementara itu kandidat kanselir SPD Olaf Scholz mencoba merayu penduduk dengan kebijakan iklim dan kenaikan gaji. Dalam kampanyenya, dia bakal menaikkan upah minimum menjadi EUR 12 (Rp 200 ribu) per jam pada tahun pertama pemerintahannya. (sha/fat)