Sejak virus korona menyeruak dan menjadi sebuah pandemi, banyak kebiasaan dan rutinitas yang berubah. Salah satu yang paling kentara adalah beralihnya mode luring ke mode daring. Segalanya serba dilakukan lewat gadget. Alhasil, kesehatan mata menjadi taruhannya.

AKTIVITAS di depan layar ponsel maupun layar laptop atau komputer selama berjam-jam tidak bisa lagi dihindari, terutama saat harus work from home (WFH). Tak jarang, pekerja yang melakoni WFH harus bergumul seharian dengan gadgetnya. Mengetik, membuat slide presentasi, mengikuti rapat dan webinar, hingga mengirimkan tugas dan tanggung jawab lewat e-mail.

Di balik itu semua, ada mata yang sejatinya lelah. Karena terus-menerus terpapar radiasi. Keluhan sindrom mata kering pun mengintai tanpa kenal waktu.

Salah seorang dokter spesialis mata di Rumah Sakit Mata Undaan (RSMU) Surabaya dr Kitriastuti SpM mengatakan, banyaknya pemakaian gadget memicu meningkatnya kasus sindrom mata kering. Yaitu, penurunan fungsi air mata untuk melumasi mata.

”Laptop dan handphone dipakai untuk sekolah, kerja, dan rasanya untuk semua keperluan. Akhirnya terjadi paparan radiasi yang membuat refleks kedip menurun. Sebagian besar saat ini keluhannya memang karena terpapar radiasi gadget. Banyak yang mengeluhkan, ’ya gimana dok, dari pagi sampai malam saya meeting’,” ujarnya.

Kitriastuti menjelaskan, paparan radiasi yang berlebih menimbulkan refleks kedip mata menurun, yang semula dalam satu menit bisa 10–15 kedipan menurun di bawah 10 kedipan. Bagian wiper mata kurang melumasi mata. Hal itu karena mata terlalu lama melihat dekat lebih dari waktu yang disarankan. Karena itu, diperlukan jeda demi mengistirahatkan mata supaya tidak terlalu ngoyo dan lelah.

”Perubahan zaman membuat kita harus duduk manis di depan laptop dan itu nggak mungkin dihindari, harus beradaptasi. Tapi, mata kering tetap bisa diantisipasi. Salah satunya dengan rule 20-20-20 dari WHO. Yakni, dalam bekerja 20 menit, berikan istirahat pada mata 20 detik untuk melihat sejauh 20 feet atau 6 meter. Cara itu sebetulnya untuk mengurangi mata minus, tapi juga bisa dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya mata kering,” papar alumnus spesialis mata Unair itu.

Dia mengungkapkan, sebagian besar keluhan penderita adalah mata terasa pedih atau perih saat bangun tidur atau pada saat di depan layar. Bisa juga terasa seperti berpasir atau ngganjel seperti orang kelilipan. Tidak jarang mata penderita sampai memerah. Saat kondisi itu terjadi, penderita bisa melakukan pertolongan pertama. Yakni, membeli obat tetes mata di apotek yang berlogo biru atau hijau.

”Jangan sampai diobati dengan obat tetes berlogo merah karena harus dengan pengawasan dokter. Ada kasus pasien mengobati dengan obat tetes mata berlogo merah. Lalu, datang ke dokter mata dalam keadaan sudah ada komplikasi pada matanya dan sudah parah. Karena salah pengobatan di awal bisa menimbulkan masalah baru dan membuat penanganan lebih sulit,” ungkapnya.