Lionel Messi masih nirgol. Sergio Ramos malah belum sekali pun tampil. Pemain Terbaik Euro 2020 Gianluigi Donnarumma juga tidak terlalu berkeringat karena baru dua kali turun lapangan.

Terlepas bintang-bintang baru itu belum berkontribusi masif, Paris Saint-Germain (PSG) begitu superior di Ligue 1 musim ini. Terlalu digdaya.

Bagaimana tidak, PSG yang belum menampilkan kekuatan maksimal berhasil menyapu bersih kemenangan hingga journee kedelapan.

Dengan raihan sempurna (24 poin), Les Parisiens sudah membuat gap sepuluh poin dengan peringkat kedua Olympique Marseille sampai Minggu (26/9). Itu adalah catatan tergila PSG sejak era kepemilikan Nasser Al-Khelaifi. Di liga elite Eropa, tidak ada gap poin yang begitu jauh. Jagoan Bundesliga Bayern Muenchen, misalnya.

Bayern hanya memimpin tiga poin (16-13) dari peringkat kedua Bayer Leverkusen setelah enam spieltag. Praktis hanya di Bundesliga Austria yang punya situasi serupa dengan di Ligue 1. Pemuncak klasemen RB Salzburg memimpin sepuluh angka atas SK Sturm Graz.

RB Salzburg sukses menyapu bersih sembilan laga.  ’’Musim (Ligue 1) bisa selesai cepat kalau Paris Saint-Germain sudah bisa memainkan semua pemain terbaiknya,” tulis Le Parisien. ’’Musim ini, kami semakin berkembang sebagai tim yang semakin solid dan juga memiliki mentalitas sebagai pemenang,’’ ucap gelandang serang PSG Julian Draxler di laman resmi klub.

Draxler mencetak gol kedua dalam kemenangan 2-0 PSG atas Montpellier HSC di Parc des Princes (26/9). Gol yang tercipta hanya semenit setelah pemain asal Jerman itu masuk menggantikan Angel Di Maria. Sebelum gol Draxler, PSG sempat sulit mencetak gol kedua untuk killing the game.

’’Ada banyak pemain yang bisa jadi pembeda dalam tim dan itu membuat kami lebih percaya diri,’’ sahut gelandang bertahan PSG sekaligus pencetak gol pertama ke gawang Montpellier HSC kemarin, Idrissa Gueye, kepada Canal+.

Laju mulus di Ligue 1 tentu jadi modal bagus PSG saat menghadapi Manchester City dalam matchday kedua fase grup Liga Champions di Parc des Princes pada Rabu (29/9) dini hari WIB. Laga yang memberikan kesempatan bagi entraineur PSG Mauricio Pochettino untuk beradu taktik dengan tactician City Pep Guardiola.

Sepanjang karier kepelatihannya, Pep adalah lawan yang paling banyak dihadapi Pochettino alias bertemu 20 kali. Namun, Poche –sapaan akrab Pochettino– menelan lebih banyak kekalahan (12 kali) dan hanya mampu meraih kemenangan tiga kali.

Duel paling gres adalah ketika Poche yang sudah menangani PSG musim lalu dua kali ditundukkan Pep dan City dalam dua leg semifinal Liga Champions. Masing-masing dengan skor 1-2 di Parc des Princes dan 0-2 di Etihad Stadium. (jpc)