LONDON– Inggris menuai banyak kecaman. Itu terkait dengan kebijakan membuka pintu perbatasan internasionalnya untuk negara-negara yang sudah masuk kategori hijau. Negara yang dipimpin Perdana Menteri Boris Johnson itu disebut tidak adil. Pasalnya, mereka memberlakukan kebijakan berbeda untuk negara-negara Afrika, Amerika Latin, dan India.

Inggris mengeluarkan kebijakan bagi pelancong yang sudah mendapat dua dosis vaksin Oxford/AstraZeneca, Pfizer/BioNTech, Moderna, dan Janssen. Mereka yang berasal dari Selandia Baru, Australia, Korsel, dan Uni Eropa akan dianggap sudah divaksin lengkap. Beberapa badan kesehatan di lebih dari selusin negara Asia, Karibia, dan Timur Tengah juga masuk daftar. Mereka yang masuk ke Inggris dari daftar itu tidak perlu dikarantina.

Di sisi lain, mereka yang mendapat dua dosis vaksin yang sama, namun proses vaksinasinya di Afrika, India, dan Amerika Latin dianggap belum lengkap. Mereka harus dikarantina 10 hari jika masuk Inggris. Kenya yang menerima ratusan ribu dosis vaksin AstraZeneca dari Inggris juga harus dikarantina. Kenya tidak tahu mengapa Inggris menganggap proses vaksinasinya tidak cukup bagus.

Sementara itu, The Hindustan Times menyebut keputusan Inggris tidak logis dan menyakitkan. Anggota Partai Kongres India Shashi Tharoor membatalkan tur peluncuran bukunya ke Inggris sebagai bentuk protes. ’’Mengapa orang India harus dianggap sebagai ras yang lebih rendah daripada yang lain?’’ tegasnya.

Hal serupa diungkapkan tokoh-tokoh Afrika. Ketua Asosiasi Medis Afrika Selatan Dr Angelique Coetzee menilai penduduk di negaranya didiskriminasi dan itu tidak bisa diterima. Pihak berwenang Afrika Selatan tak hanya keberatan dengan aturan karantina baru, tetapi juga fakta bahwa negaranya tetap masuk daftar merah Inggris, di mana semua perjalanan sangat dibatasi. (sha/c18/bay)