Hidup pesut mahakam makin nelangsa. Hanya sungai kecil di ujung Mahakam yang jadi asa. Di tempat sempit, pesut mencari ikan kecil sebagai mangsa. Sambil bertaruh hidup dengan predator lain di lingkungan yang tak begitu leluasa.

 

NOFIYATUL CHALIMAH – Samarinda

 

KABAR duka datang lagi dari bayi pesut mahakam.

Belum juga genap sebulan dari kabar menyedihkan saat bayi pesut mahakam berusia dua pekan yang ditemukan mati di Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, pada 27 Agustus lalu, kini, seekor bayi pesut mahakam kembali ditemukan mengambang di perairan Sungai Kedang Kepala, Kutai Kartanegara, Rabu (22/9) pagi.

Kematian si bayi pesut mahakam itu menjadi kabar duka yang keenam kali datang sepanjang tahun ini. Peneliti pesut mahakam dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (YK-RASI) Danielle Kreb mengamini hal tersebut. Bayi pesut mahakam ini belum teridentifikasi YK-RASI. Sebab, umumnya YK-RASI mengidentifikasi pesut mahakam dari sirip mereka yang biasanya memiliki keunikan masing-masing.

Selanjutnya, mereka kerap memberi nama-nama pesut mahakam. “Bayi masih kecil, sehingga belum teridentifikasi sebelumnya,” kata Danielle. Namun, Danielle memperkirakan, usia bayi pesut mahakam yang baru ditemukan mati itu berusia sekitar dua bulan. Lebih tua dibandingkan bayi pesut mahakam yang ditemukan mati bulan lalu.

Pesut mahakam memang termasuk hewan yang cukup sensitif. Mereka tidak bisa melihat dan hanya mengandalkan pantulan sonar alias suara untuk “melihat” sekelilingnya. Meski bergelar pesut mahakam, pesut ini tak mudah lagi ditemukan di perairan Sungai Mahakam yang besar.

Hidup di anak Sungai Mahakam menjadi pilihan mereka. Minim kapal besar yang dapat mengganggu sonar mereka, juga ikan kecil yang lebih mudah ditemukan, jadi alasan pesut mahakam lebih menyukai sungai kecil.

Namun, ketika berburu mangsa, pesut mahakam terancam terjerat rengge atau jaring yang dipasang nelayan. Jika tak buru-buru dilepas, pesut mahakam bisa mati. Sebab, lama-lama di bawah air, membuat mereka tidak bisa bernapas, sementara pasokan oksigen hanya bisa mereka ambil dengan muncul ke permukaan air. Selain itu, lalu lintas kapal yang tinggi membuat pesut mahakam makin ke pinggir dan tak lagi leluasa mencari makan.

Belum lagi aktivitas manusia dan perusahaan yang membuat kualitas lingkungan di anak Sungai Mahakam makin menurun. Dari laporan RASI, hasil uji kualitas air dari 16 stasiun sampling air pada Juli 2017 hingga Mei 2018, menunjukkan bahwa beberapa anak sungai memiliki konsentrat tinggi dari logam berat yang sangat berbahaya untuk kesehatan pesut. Saat ini juga tengah diupayakan untuk pengesahan kawasan konservasi perairan.

Rencana kawasan konservasi ini sebenarnya sudah mendapat SK Bupati Kukar sejak awal 2020. Pencadangan kawasan konservasi perairan habitat pesut mahakam seluas 43 ribu hektare. Luasan itu mencakup zona inti, dan zona perikanan berkelanjutan, kawasan hutan sempadan sungai, areal hutan sempadan danau, dan zona rehabilitasi dan perlindungan hutan gambut rawa.

Kawasan itu banyak berada di area Mahakam Tengah, tempat pesut biasa bermain. Yaitu di Muara Muntai, Muara Kaman, Kota Bangun, dan daerah sekitar Danau Semayang sama Danau Melintang. Zona ini sangat diperlukan. Mengingat ruang hidup pesut makin sempit. Apalagi satwa ini terancam punah karena jumlahnya hanya di kisaran 80-an.

Dahulu, lanjut dia, mudah sekali menemukan pesut di Sungai Mahakam yang besar. Namun, karena banyaknya kapal besar yang beraktivitas di Sungai Mahakam, pesut beralih ke sungai-sungai kecil di pedalaman Kukar. Saat ini pihaknya pun masih berproses untuk pengesahan dokumen di Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Soalnya kami masih ada perbaikan peta. Besok akan dikirim versi final, jadi semoga cepat dievaluasi dan disetujui atau ditetapkan,” jelas Danielle.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Ivan Yusfi Noor mengatakan, konflik terjadi antara pesut mahakam dengan manusia. Di satu sisi, saat ini habitat pesut mahakam di daerah penghasil ikan air tawar di Kukar. Karena itu, hal ini perlu diatur agar semuanya seimbang, sehingga ditemukan win-win solution. Misalnya, saat ini masalah di kawasan Mahakam Tengah, masyarakat menggunakan rengge untuk menangkap ikan kecil.

Sementara itu, banyak kasus pesut mahakam terjerat rengge. Namun, untuk mengaturnya bukan berarti menghilangkan rengge. “Jadi, diatur renggenya. Misalnya memasang rengge di tempat pesut mahakam banyak terlihat, atau mengatur waktu pemasangan rengge. Misal harus dipasang di siang hari dan bisa dikontrol terus,” jelas lelaki yang pernah melakukan penelitian pesut mahakam pada 2012 ini.

Diakuinya, pengaturan ini memang berat, apalagi berkaitan dengan nafkah masyarakat. Tetapi, arahnya mulai ke pengaturan tersebut. Apalagi sektor wisata juga mulai dikembangkan di Sungai Mahakam. (riz/k16)