KETIKA kasus Covid-19 berada di puncaknya, Unit Transfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Samarinda, dibanjiri masyarakat. Mereka datang mencari plasma konvalesen.

Namun, menemukan plasma konvalesen untuk keluarga mereka yang memerlukan karena bergejala Covid-19 parah, itu tidak mudah. Mulai mencari darah yang satu golongan, memenuhi syarat awal, hingga pemeriksaan untuk mengetahui apakah darah sudah pas. Belum lagi berbagai macam rangkaian pengolahan darah untuk menjadi plasma konvalesen yang siap ditransfusikan ke pasien.

Tidak sederhana untuk mendapatkan plasma konvalesen. Kepala Bagian Tata Usaha UTD PMI Samarinda Tompo Rejo mengatakan, misalnya dari 10 pedonor yang datang karena sudah memenuhi kriteria awal, seperti penyintas Covid-19, bergolongan darah yang sama, dan sebagainya, ternyata bukan jaminan.

“Dari sepuluh yang datang, paling hanya dua yang bisa terus. Biasanya, gagal di kadar titer antibodi dalam darah mereka yang belum mencukupi,” jelas Tompo.

Titer antibodi itu adalah kadar antibodi di dalam darah pedonor. Jika kurang dari 160, maka biasanya tidak bisa melanjutkan. Dia memaparkan, saat seorang pedonor untuk kepentingan plasma konvalesen datang, mereka akan melewati serangkaian pemeriksaan administrasi, skrining awal, dan pemeriksaan darah lengkap. Seperti leukosit dan trombosit, termasuk mengecek titer antibodi dalam darah.

Jika dari sampel menunjukkan pedonor lolos, maka dia bisa segera mendonorkan darah. Tetapi, hasil darah itu mesti diolah lagi dengan mesin khusus. PMI sebenarnya memiliki dua alat khusus itu, tetapi satu alat eror. Sehingga, tidak bisa dipakai dan hanya satu alat.

Untuk mengolah darah hasil donor dalam bentuk plasma konvalesen beku, memerlukan waktu sekitar 4 jam. Selain itu, penyimpanan dilakukan secara khusus dalam lemari pendingin di suhu sekitar minus 34 derajat, sehingga, kualitas tidak rusak. Darah yang sudah diolah akan dilaporkan dalam sistem yang terintegrasi dengan rumah sakit di Samarinda.

“Untuk donor konvalesen memang banyak prosedur. Plasma konvalesen ini memang sebagai terapi tambahan, untuk membantu percepatan penyembuhan,” kata Tompo.

Dia menjelaskan kepada masyarakat bahwa permintaan darah, tidak sesederhana menukar resep obat di apotek. Mereka harus mencari ketersediaan darah, juga mencocokkan terlebih dahulu. Semuanya pun didukung dengan mesin canggih. Jika darah tak cocok, tak boleh diberikan. Sebab, sekalipun sama golongan darahnya, bisa saja tidak cocok.

Sejak membuka layanan plasma konvalesen pada Februari 2021, UTD PMI Samarinda sudah mendistribusikan 659 kantong plasma konvalesen selama 7 bulan. Maka, ketika kasus Covid-19 meningkat, UTD PMI pun dipenuhi masyarakat. Namun, tak semua pedonor datang bisa lolos skrining darah.

Meski begitu, dampak pandemi terasa di PMI. Jumlah pedonor pada umumnya menurun drastis. Dalam tiga bulan terakhir saja, pada Juni jumlah pedonor mencapai 2.789 orang. Sedangkan, pada Juli jumlah pedonor hanya 1.522 orang. Lalu, Agustus meningkat jadi 2.201 orang.

“Pada 2018 sebelum pandemi jumlah pedonor ada 31.654 orang. Kemudian pada 2019 meningkat jadi 32.508 orang. Kemudian pandemi terjadi, pedonor turun drastis. Pada 2020, jumlahnya hanya 27.893 orang,” papar Tompo.

Untuk diketahui, penggunaan plasma darah dalam pengobatan bukanlah hal baru. Penggunaan plasma dari penderita yang sembuh sebagai terapi telah dilakukan untuk pengobatan pada wabah penyakit flu babi pada 2009, Ebola, SARS, dan MERS.

Terapi itu dilakukan dengan memberikan plasma, yaitu bagian dari darah yang mengandung antibodi dari orang-orang yang telah 14 hari dinyatakan sembuh dari infeksi Covid-19. Para penyintas Covid-19 bisa menjadi donor plasma konvalesen dengan menjalani sejumlah pemeriksaan dan memenuhi persyaratan. (rom/k16)