Keadaan panik dan kebingungan terjadi ketika sistem perawatan kesehatan Singapura tertekan menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Warga merasa tak semua pasien bisa terakomodir. Layanan lebih lama, hasil tes lama, dan fasilitas pemulihan penuh.

Warga protes lantaran mereka tidak dapat menghubungi Kementerian Kesehatan (MOH) untuk mendapatkan informasi tentang kondisi mereka. Yang lain mengeluh tentang jeda waktu yang lama antara hasil tes positif dan dibawa ke fasilitas pemulihan.

Grup obrolan Grup Dukungan Pesanan Karantina telah muncul di aplikasi Telegram bagi orang-orang untuk berbagi pengalaman dan mengumpulkan informasi. The Straits Times berbicara dengan lima orang yang telah tertular virus Korona atau memiliki anggota keluarga yang tertular.

Salah satunya Chow. Ia dinyatakan positif pada 13 September. Ia menerima telepon yang memintanya untuk mengemas pakaian selama tujuh hari karena dia akan dibawa ke fasilitas perawatan masyarakat. Tapi, ternyata tidak ada tindak lanjut.

Pria 37 tahun itu berada di rumah sejak saat itu. Dia telah menjalani tes antigen cepat (ART) secara teratur, yang hasilnya negatif selama beberapa hari terakhir. Tetapi, dia tidak yakin apakah dia diizinkan untuk melanjutkan kehidupan normal, karena operator telepon di hotline Kemenkes telah memintanya untuk menunggu instruksi lebih lanjut.

Status TraceTogether-nya juga menunjukkan dia masih positif. Artinya dia tidak akan bisa makan di restoran kecuali menerima pengecualian tertulis.

Lalu ayah Liau yang berusia 82 tahun dinyatakan positif pada 15 September dan baru dibawa ke rumah sakit tiga hari kemudian. Hal ini membuat ibunya yang berusia 79 tahun sendirian di rumah selama empat hari berikutnya. “Ibu adalah orang yang sangat kami khawatirkan,” kata Liau.

Dia mencoba menghubungi Kementerian Kesehatan, tetapi baru berhasil beberapa hari terakhir. Akhirnya keluarganya ditracing beberapa hari kemudian. Keluarga kini menunggu hasil tes PCR untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya.

Lalu warga lainnya, Lee mengatakan anaknya sudah tujuh hari dinyatakan positif Covid-19. Namun, selain dari kunjungan awal ke dokter umum untuk mengujinya, bocah enam tahun itu belum menerima perawatan medis formal. Lee, telah berusaha untuk menghubungi Depkes untuk meminta bantuan, namum hingga kini belum ada tanggapan.

“Anak saya memiliki riwayat kejang. Demamnya naik turun, dan Anda tidak tahu kapan pulih,” kata Lee. 

Selain demam, anaknya juga batuk, bersin dan mengeluh sakit tenggorokan. Meski kondisi putranya telah membaik, Lee tetap khawatir karena hasil ART putranya tetap positif. Dia juga frustrasi karena kurangnya koordinasi di lapangan, karena panggilannya dilempar-lempar ke berbagai instansi.

“Jika sudah melihat ada peningkatan tajam dalam jumlah kasus Covid-19, harusnya siapkan dulu sumber daya terlebih dahulu. Ini adalah perencanaan yang buruk,” katanya. Warga protes dan mengeluh, namun tidak ada tindakan karena sistem kesehatan juga sedang sibuk menghadapi lonjakan. Warga lainnya, Christine dinyatakan positif pada 15 September. Dia diberitahu akan dibawa ke fasilitas perawatan masyarakat.

“Namun, sistem tidak diperbarui. Operator terus menelepon saya dan menanyakan hal yang sama, tetapi orang yang menelepon berbeda. Semestinya ada sistem yang sudah di-update,” katanya. (jpc)