BALIKPAPAN-Pemerintah mengumumkan Kota Balikpapan masih masuk Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, Senin (20/9). Padahal sebelumnya, dalam Rapat Koordinasi Pembahasan Evaluasi PPKM Level 4 di luar Jawa-Bali yang digelar secara virtual pada Sabtu (18/9), status PPKM untuk Kota Balikpapan disampaikan telah turun. Dari level 4 ke level 3.

Penurunan level PPKM Balikpapan menjadi level 3, diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Andi Sri Juliarty yang mendampingi wali kota kala itu. Rapat tersebut dipimpin langsung Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN). “Penurunan level disampaikan dalam vicon (video conference) monev (monitoring dan evaluasi) PPKM dari para menteri hari Sabtu (18/9),” katanya.

Akan tetapi, keputusan berbeda justru diumumkan pemerintah pusat kemarin. Pemerintah menyatakan untuk tetap memperpanjang PPKM di luar Jawa dan Bali hingga dua pekan ke depan. Dimulai 21 September hingga 4 Oktober 2021. “Saya sendiri belum dapat informasi mengenai Inmedagri (instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sampai saat ini. Sebagai acuan untuk membuat SE (surat edaran) PPKM,” katanya. 

Wajib PCR Tetap Berlaku

Terpisah, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Balikpapan Mokhamad Zainul Mukhorobin menyampaikan, walaupun ada penurunan level PPKM, hasil negatif tes polymerase chain reaction (PCR) tetap menjadi persyaratan wajib yang harus dipenuhi oleh penumpang yang ingin masuk ke Balikpapan via moda transportasi udara. Selain itu, wajib memiliki sertifikat vaksin. “Jadi walaupun nanti (PPKM) turun jadi level 3, tetap wajib (membawa hasil negatif tes) PCR,” katanya.

 Pandemi di Jawa-Bali Diklaim Terkendali

 Dalam keterangan persnya kemarin, Airlangga Hartarto memastikan bahwa Balikpapan masih PPKM Level 4. Untuk wilayah Kaltim, selain Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) juga menyandang PPKM Level 4. "Ini karena terkait aglomerasi, jumlah penduduk, dan tingkat vaksinasi di bawah 50 persen," katanya. Airlangga lalu mengungkapkan beberapa hal yang menjadi arahan Presiden RI Joko Widodo dalam rapat terbatas kemarin.

Pertama, kehati-hatian terhadap masuknya varian baru virus corona. Maka itu, pintu masuk udara, laut dan darat perlu diperketat. “Dalam hal ini, kita libatkan seluruh stakeholder. Kita harus mengantisipasi betul mengenai kemungkinan adanya gelombang ketiga,” jelas dia.

Airlangga memerinci, dari tanggal 9-19 September, kasus aktif Sumatra tercatat turun 80,52 persen. Kemudian, Nusa Tenggara mencatat penurunan kasus 86,75 persen dan Kalimantan turun 81,48 persen. Sementara, untuk wilayah Sulawesi sejak 9-17 September tercatat turun 81,13 persen dan untuk wilayah Maluku-Papua tercatat turun 87,7 persen.  Meski pandemi mulai terkendali, Airlangga mengingatkan masih ada risiko peningkatan kasus yang disebabkan oleh peningkatan mobilitas. Dari sisi evaluasi pelaksanaan PPKM luar Jawa-Bali selama dua pekan ke belakang, Airlangga menyebut, terjadi perbaikan level asesmen. Di tingkat kabupaten/kota, level 4 berhasil turun dari 8 kabupaten/kota menjadi 7 kabupaten/kota. Level asesmen 3 juga turun dari 218 kabupaten/kota menjadi 112 kabupaten /kota. Sementara level asesmen 2 dari 118 kabupaten/kota menjadi 249 kabupaten/kota, serta level asesmen 1 menjadi 18 kabupaten/kota.

Sementara itu, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, menilik pada indikator epidemiologis terbaru, pertumbuhan kasus harian juga menunjukkan tren yang terus membaik. Kasus konfirmasi secara nasional hari ini berada di bawah 2.000 kasus dan kasus aktif sudah lebih rendah dari 60 ribu. Untuk Jawa-Bali, kasus harian turun hingga 98 persen dari titik puncaknya pada 15 Juli lalu. ”Dengan berbagai perbaikan tersebut, saya bisa sampaikan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi kabupaten kota yang berada di level 4 di Jawa-Bali,” kata Luhut.

Dalam pelaksanaan PPKM, meski jumlah kasus sudah turun signifikan, jumlah testing terus mengalami peningkatan, sehingga positivity rate mampu diturunkan hingga di bawah standar WHO sebesar 5 persen. Saat ini angka positivity rateIndonesia berada di bawah 2 persen. Selain itu, jumlah telusur dari hari ke hari terus meningkat. Luhut menyebut, saat ini proporsi kabupaten kota di Jawa-Bali dengan tingkat tracing di bawah 5 hanya 36 persen dari total.  Selain tes dan telusur serta isolasi terpusat, vaksinasi tetap menjadi syarat perlu untuk proses transisi dari pandemi menjadi endemi. Pencapaian target cakupan vaksinasi yang memadai sangat penting, mengingat vaksin sudah terbukti melindungi dari sakit parah.

Namun, kata Luhut, hingga saat ini kinerja beberapa kabupaten/kota masih perlu dikejar untuk mencapai target 70 persen cakupan vaksinasi dosis pertama dan 60 persen lansia dosis pertama.  Dalam arahan yang diberikan oleh presiden dalam ratas kemarin pagi diputuskan bahwa dengan melihat perkembangan yang ada, evaluasi dan perubahan Level PPKM yang sebelumnya dilakukan satu minggu sekali kini akan diberlakukan selama 2 minggu sekali untuk Jawa-Bali.  Namun, evaluasi tetap dilakukan setiap minggunya untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat.

Beberapa penyesuaian dan pengetatan aktivitas masyarakat yang bisa dilakukan dalam periode PPKM minggu ini. Di antaranya uji coba pembukaan pusat perbelanjaan/mal bagi anak-anak di bawah usia kurang dari 12 tahun dengan pengawasan dan pendampingan orang tua. (kip/jpg/riz/k16)