Achmad Hisyam Tolle masih menjalani sanksi PSSI. Pemain 27 tahun itu dilarang berkecimpung di dunia sepak bola selama lima tahun. Bagaimana kabarnya sekarang?

MASIH ingat Hisyam Tolle? Itu lho, pemain PSIM Jogjakarta yang melakukan tendangan kungfu. Kaki kanannya tepat mengarah ke wajah pemain Persis Solo kala itu, M Sulthon Fajar. Aksi brutalnya tak hanya dilakukan di tengah lapangan. Setelahnya, dia mendatangi salah seorang jurnalis, kemudian meminta foto tendangan kungfunya dihapus.

Hisyam tidak pernah melupakan momen yang terjadi di Stadion Mandala Krida, 21 Oktober 2019 itu. Sebab, atas kelakuan bengalnya tersebut, dia disanksi larangan bermain lima tahun oleh PSSI. Kini sudah dua tahun sanksi dijalani. Apakah dia baik-baik saja? Secara fisik, tentu saja baik. Namun, tidak demikian dengan mentalnya.

Banyak kejadian tak terduga yang sudah dia alami. Sejak disanksi, Hisyam memilih pulang kampung ke Makassar. Dia kemudian mencoba mendapatkan pendapatan dengan ikut tim amatir yang bermain di turnamen antarkampung (tarkam). Sayang, Hisyam ternyata juga di-banned dalam tarkam. “Waktu saya ikut tarkam, banyak warga yang protes. Mereka tidak ingin pemain yang pernah melakukan tendangan kungfu seperti saya ikut bermain,” tutur mantan pemain PS Sleman itu.

Dia memilih mundur. Tidak ikut tarkam. Dia kemudian mulai menjajal peruntungan di dunia kuliner. Awal 2020, Hisyam sempat membuka warung kopi di Makassar. Awalnya, warkop miliknya ramai. Sayang, kondisi itu tidak bertahan lama. “Sejak ada pandemi, (warung kopi) malah sepi. Apalagi sempat ada lockdown. Sekarang warkop sudah saya tutup,” ungkap pemain yang berposisi sebagai stopper itu.

Kondisi tersebut sempat membuatnya bingung. Memang, dia belum menikah. “Tapi, saya ini tulang punggung keluarga. Saya yang menghidupi orangtua,” bebernya. Saat kondisi kian memburuk, dia nekat kembali mengikuti tarkam. Beruntung, kali ini Hisyam tidak di-banned lagi. Karena kejadian tendangan kungfu sudah lama berlalu, banyak yang sudah melupakan aksinya itu.

Dia sudah diterima baik. Kemudian bergabung dalam salah satu tim untuk mengikuti tarkam. Dari bayaran tarkam itulah, kini Hisyam menghidupi kedua orangtuanya. “Alhamdulillah, walaupun sedikit, tapi tetap ada pemasukan,” ungkap pemain yang sempat membela Sriwijaya FC itu. Hanya, dia enggan menyebut besaran uang yang diterima dari tarkam. Yang jelas, dia tidak bisa jauh dari sepak bola.

“Karena sepak bola bukan lagi sekadar hobi buat saya. Sepak bola sudah menjadi tempat saya untuk mencari nafkah buat keluarga,” tegas Hisyam. Lagi pula, bermain tarkam merupakan sarana untuk menjaga kondisi fisik. Sebab, dia masih menyimpan hasrat untuk kembali menjadi pemain profesional.

Masalahnya, saat sanksi dari PSSI tuntas, usia Hisyam sudah memasuki 30 tahun. Apakah dia tetap ngotot untuk kembali ke klub profesional? “Saya masih ingin bermain di level tertinggi. Saya sadar tindakan saya dulu salah. Tidak ada pembenaran. Tapi, saya sekarang sudah menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi, saya berharap ada keringanan atas hukuman ini,” jelas Hisyam.

Toh, motivasinya kembali ke klub profesional sangat baik. “Meski saya belum punya istri, ada orangtua yang harus saya hidupi,” pungkasnya. (jpg/abi/k16)