SANGATTA - Berwisata yang itu-itu saja memang terkesan membosankan. Seperti di Sangatta Kabupaten Kutai Timur (Kutim), yang minim akan wisata di sekitar perkotaan. 

Namun hal lain dilakukan oleh Naomisachie, wanita bertubuh kecil dan mungil kelahiran Sangatta 25 tahun silam itu lebih memilih berwisata dengan cara yang berbeda. Kata dia, berlibur tidak mesti yang itu-itu saja. Ia lebih menggemari kegiatan "membolang". Seperti berjalan-jalan menyusuri sungai Sangatta atau berwisata edukasi di kebun madu lebah kelulut (klanceng). 

Kebetulan, kata dia, lokasi yang dijadikan pusat madu kelulut di Kecamatan Sangatta Selatan merupakan lahan milik keluarga peninggalan sang ayah. Lahan seluas 2 hektare tersebut digunakan untuk kelompok peternak madu supaya bisa membudidayakan hasil ternaknya. 

"Lahan itu milik keluarga dan dipinjamkan oleh kakak saya untuk dijadikan wisata kebun kelulut. Karena lahan seluas itu sayang kalau tidak dimanfaatkan. Jadi lebih baik digunakan sebagai tempat wisata kelulut biar berguna," ungkap wanita berparas Jepang itu. 

Kata dia, di kebun tersebut memang tidak hanya log (kotak) kelulut saja, namun banyaknya flora dan fauna menambah keanekaragaman hayati. Terlebih kelulut sangat memerlukan pepohonan untuk mencari sumber makanan. 

"Kami rasa kebun kami cocok untuk dijadikan kebun kelulut. Karena di sana terdapat banyak pepohonan, seperti pohon karet, jambu, rambutan, pepaya, berbagai macam sayuran hingga beraneka bunga hias. Kelulut cari makan sendiri dari pohon-pohon yang ada," tuturnya. 

Tak hanya itu, menurut Naomi, keluarganya pun memeliharan beragam hewan. Seperti kambing, ayam, serta burung. Namun kini ratusan log kelulut menambah daya tarik pengunjung untuk berwisata edukasi. Terlebih, lebah-lebah tersebut telah menghasilkan banyak madu. Hingga pengunjung tidak merasa dirugikan untuk menyambangi lokasi ini. 

"Alhamdulillah kita juga ga terlalu repot memasarkannya, soalnya sudah punya langganan sendiri yang selalu ambil di kita. Bahkan banyak masih ga kebagian," tambahnya. Saat ini, mayoritas pembeli merupakan masyarakat Kutim, termasuk pekerja perusahaan. Bahkan telah menyasar hingga ke luar pulau. Tidak jarang, ia harus membatasi pembeli yang ingin memborong dalam jumlah banyak. 

"Kelulut ini panennya tidak selalu sama, kadang banyak kadang sedikit. Jadi kalau ada yang beli ukuran 1 liter, kami batasi maskimal 2 liter saja, supaya yang lain kebagian. Apa lagi pesanan dari luar kota juga sering minta, saya sudah pernah mengirimkan ke Jakarta, Solo hingga Surabaya," beber ia. 

Kini madu yang berlabel NaoMy Honey itu telah merambah ke kalangan luas. Ia memastikan kandungan madu kelulut dapat membantu menjaga kesehatan dan imunitas tubuh semakin baik. Terutama dalam kondisi pandemi Covid 19. Dirinya pun menjamin, rasa yang unik dari madu itu tak akan membuat enek para pengagumnya. 

"Rasa madunya bisa berubah-ubah, kadang manis, asam bahkan pahit. Ya tergantung tumbuhan yang dihisap oleh lebahnya. Tapi kebanyakan pelanggan suka madu manis. Itulah mengapa saya memberi nama NaoMy Honey, karena Nao ptongan dari nama saya, dan My Honey artinya maduku. Jadi biar menggambarkan rasa madu yang semanis ownernya," ucapnya seraya bercanda. 

Seperti diketahui, tingginya antioksidan dan vitamin c yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Madu ini digadang-gadang bisa menjadi penyembuh luka. Kemudian propolisnya dapat menjadi obat kanker, bee pollen pun dapat dibuat obat tetes mata dan produk kosmetik.

Lebih dalam, menurutnya kandungan asam amino trigona itama lebih tinggi dari kandungan asam amino lain, sehingga bisa menjadi penyembuh diabetes. Bahkan kandungan air dan glukosa trigona lebih rendah dibanding jenis lebah avis.

“Banyak yang dihasilkan dari lebah ini, bahkan tidak hanya madu, namun juga bee pollen dan propolis. Itu yang membedakan dari avis, karena khasiatnya tiga kali lipat lebih besar,” bebernya. (*/la)