KABUL – ’’Bagi kami, permintaan maaf saja tidak cukup.’’ Kalimat itu dengan tegas dilontarkan Aimal Ahmadi. Pada 29 Agustus lalu, 10 anggota keluarganya tewas akibat misil yang ditembakkan militer Amerika Serikat di Kabul, Afghanistan. Salah satu yang menjadi korban adalah putrinya, Malika, yang masih berusia 3 tahun.

’’AS harus menemukan orang yang melakukannya,’’ ujar Ahmadi merujuk pada sosok yang terlibat dalam penembakan misil itu. Insiden tersebut terjadi pada hari-hari terakhir evakuasi pasukan AS, warga asing, serta penduduk lokal yang ingin meninggalkan Afghanistan. Ada laporan bahwa anggota ISIS-K bakal kembali melakukan serangan bom bunuh diri. Entah siapa yang memberi informasi tentara AS, tapi mereka lantas menembak sebuah mobil Toyota Corolla dengan misil Hellfire. Mereka yakin mobil itu membawa pelaku bom bunuh diri.

Padahal, orang yang mengendarai mobil itu adalah Zemerai Ahmadi, seorang karyawan yang lama bekerja di organisasi kemanusiaan AS. Tidak ada bukti yang mendukung pernyataan Pentagon bahwa ada bahan peledak di mobil tersebut. Rudal menghantam jalan, lalu masuk rumah keluarga Ahmadi saat anak-anak berlarian keluar untuk menyambut kedatangan Zemerai.

Hanya 29 detik sebelum misil tersebut tiba di sasaran, CIA memperingatkan kemungkinan adanya warga sipil di mobil tersebut. Tapi, peringatan itu terlambat. Sepuluh nyawa tidak berdosa hilang begitu saja. Tujuh di antaranya adalah anak-anak. Pihak keluarga kini menuntut ganti rugi sekaligus pertanggungjawaban dari pelaku.

Awalnya, militer AS bersikukuh bahwa di dalam mobil tersebut ada anggota ISIS-K. Namun, pemberitaan media terus-menerus meragukan klaim tersebut. Hal itu membuat Washington mengaku bahwa mereka salah sasaran. Tidak ada satu pun anggota ISIS-K di mobil nahas tersebut. ’’Itu adalah sebuah kesalahan,’’ ujar Komandan Komando Pusat AS Jenderal Frank McKenzie seperti dikutip CNN.

Apa yang terjadi di Kabul itu kian menyoroti tentang apa yang bakal dilakukan AS ke depan. Negeri Paman Sam itu berjanji untuk memberantas ISIS-K dan membalas dendam atas tentara dan warganya yang tewas dalam bom bunuh diri di Bandara Hamid Karzai, Kabul. Tapi, potensi insiden salah tembak bisa terjadi lagi.

McKenzie berdalih bahwa serangan salah sasaran di Kabul itu adalah pertahanan diri. Sebab, ada informasi bahwa ISIS-K bakal menyerang. Intinya, mereka sedang dalam tekanan. Namun jika mereka memiliki misi normal, standar mereka bakal jauh lebih tinggi. (sha/c6/bay)