PEMBIAYAAN UMKM Kaltim melanjutkan perbaikan, baik yang bersumber dari kredit modal kerja maupun kredit investasi. Sekaligus meningkatkan pangsanya terhadap total pembiayaan. Kinerja pembiayaan UMKM Kaltim Triwulan II 2021 tumbuh sebesar 5,58 persen year on year (yoy) setelah kontraksi sebesar 1,70 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Membaiknya kredit UMKM Kaltim bersumber dari kredit modal kerja sebesar 5,79 persen (yoy), atau melanjutkan perbaikan dari triwulan sebelumnya sebesar 1,18 persen (yoy). Selain itu, perbaikan pembiayaan UMKM bersumber dari kredit investasi yang tumbuh 5,27 persen (yoy), membaik dari triwulan sebelumnya yang mencatatkan kontraksi sebesar 5,77 persen (yoy).

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim Made Yoga Sudharma mengatakan, UMKM ini merupakan backbone perekonomian masyarakat Indonesia. Sehingga kinerja penyaluran kreditnya harus terus ditingkatkan. OJK telah mengeluarkan ketentuan-ketentuan untuk merelaksasi agar perbankan mau menyalurkan kredit kepada UMKM.

Salah satunya menghapus risiko pembiayaannya. Perbankan yang menyalurkan kredit kepada UMKM, capital adequacy ratio (CAR) akan sangat minim. CAR sudah dikurangi. Untuk diketahui, CAR adalah rasio kecukupan modal yang berguna untuk menampung risiko kerugian yang kemungkinan dihadapi bank.

“Ini yang kami lakukan agar perbankan menyalurkan kredit kepada sektor UMKM. Kita sudah meminimkan ini untuk pembebanan modal perbankan, sehingga jika perbankan menyalurkan kredit kepada dunia usaha kecil, maka modalnya tidak tergerus,” tuturnya, Jumat (17/9).

Dia menjelaskan, perbankan saat ini terus berusaha menggenjot penyaluran kredit utamanya sektor UMKM. Pertumbuhan pada triwulan II menandakan kinerja teman-teman perbankan tidak sia-sia. Perbaikan kinerja kredit UMKM ini membuat pangsa pembiayaan UMKM menjadi 20,45 persen dari total pembiayaan Kaltim, lebih tinggi dari pangsa triwulan sebelumnya sebesar 19,79 persen.

Kalau dilihat berdasarkan pangsanya, pembiayaan modal kerja menjadi penyumbang utama pembiayaan UMKM di Kaltim dengan pangsa sebesar 59,40 persen. Sementara itu, pembiayaan investasi UMKM memiliki pangsa sebesar 40,60 persen. Peningkatan kredit UMKM ini sayangnya juga bersamaan dengan non-performing loan (NPL) yang meningkat.

NPL terpantau meningkat dari 5,83 persen dari Triwulan I 2021, menjadi 6,20 persen pada triwulan II. Peningkatan NPL tersebut bersumber dari meningkatnya NPL kredit modal kerja dan investasi pada triwulan II 2021 sebesar 7,99 persen dan 2,94 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan NPL pada triwulan sebelumnya masing-masing sebesar 7,87 persen dan 2,81 persen.

“Untuk menggenjot kinerja perbankan, OJK juga terus mengeluarkan ketentuan-ketentuan agar perbankan mau menyalurkan kredit utamanya pada sektor UMKM,” pungkasnya. (ctr/ndu/k8)