SAN MARINO – Dalam jumpa pers usai balapan GP Austria 15 Agustus lalu, bintang Repsol Honda Marc Marquez mengaku sempat berdoa meminta hujan sebelum start dimulai. ’’Karena itu adalah satu-satunya peluang,’’ ungkapnya waktu itu.

Marquez memang belum kembali ke performa terbaiknya seperti sebelum cedera. Penampilannya bahkan sempat anjlok pascakembali ke MotoGP setelah setahun lebih absen membalap. Menurut dia, satu-satunya peluang untuk mendapatkan hasil bagus dalam balapan adalah ketika hujan.

Namun, di tengah balapan, doa Marquez malah berubah. Dia meminta kepada Tuhan agar hujan tidak jadi turun. Karena tak dinyana pace Marquez sangat bagus justru sebelum balapan dinyatakan flag-to-flag (peralihan dari kering ke basah atau sebaliknya).

Sayangnya, doa Marquez yang pertama telanjur dikabulkan. Hujan deras benar-benar turun. Setelah memutuskan mengganti motor, dia malah terjatuh di lap pertama. Alhasil, Marquez hanya finis di posisi ke-15.

Nah, bisa jadi doa yang sama bakal dipanjatkan Maverick Vinales Minggu besok (19/9). Di tengah proses adaptasi dengan motor barunya, Aprilia RS-GP, mantan rider Yamaha tersebut butuh keajaiban untuk bisa mendapat hasil luar biasa.

Dan, keajaiban itu bisa saja datang bersama hujan. Misalnya, yang terjadi di sesi latihan bebas pertama (FP1) GP San Marino kemarin (17/9). FP1 diwarnai hujan lebat pada 10 menit terakhir sebelum usai. Vinales, yang baru dua minggu lalu menjajal motor Aprilia untuk kali pertama di Misano, menjadi yang tercepat setelah membukukan 1 menit 32,666 detik.

Juara bertahan Joan Mir (Suzuki Ecstar) membuntuti di posisi kedua dengan terpaut 0,080 detik. Sementara itu, pemenang GP Aragon minggu lalu (12/9), yakni pembalap Ducati Francesco Bagnaia, berada di posisi ketiga. Semua raihan waktu terbaik itu didapat sebelum hujan. Trek yang basah kontan membuat semua pembalap tak bisa lagi memperbaiki catatan waktu sampai FP1 berakhir.

Nah, hujan diprediksi terus turun sepanjang akhir pekan ini. Termasuk, saat balapan GP San Marino berlangsung. Bukan tidak mungkin balapan flag-to-flag kembali terjadi seperti pada GP Austria (15/8). Saat itu, pembalap KTM Brad Binder akhirnya mencuri panggung dengan memenangi balapan setelah nekat menerabas trek basah dengan ban kering.

Apakah Vinales juga akan berdoa seperti Marquez di GP Austria? Yang pasti, Vinales punya potensi besar di Misano. Pada saat menjajal motor Aprilia untuk kali pertama di sirkuit tersebut, catatan waktunya secara konstan membaik signifikan. Pengalaman tersebut akan menjadi modal bagus baginya untuk melakoni balapan keduanya bersama Aprilia.

”Saat ini aku mengendarai motor dengan gaya balap yang sangat berbeda (dengan Yamaha, Red) dan aku harus membiasakan diri,” ungkap Vinales, seperti dikutip dari Speedweek kemarin (17/9). Dalam catatan sejarah MotoGP, seorang rider yang beralih dari motor bermesin 4 silinder segaris ke mesin V4 memang butuh adaptasi lebih lama.

Sebut saja Valentino Rossi saat pindah dari Yamaha ke Ducati pada musim 2011. Sama halnya dengan Jorge Lorenzo.

Memang yang paling dibutuhkan pembalap MotoGP adalah hasil bagus di balapan kering. Namun, bagi rider yang sedang butuh motivasi ekstra seperti Vinales, mencuri hasil bagus di balapan basah bisa menambah kepercayaan diri. (irr/c13/cak)