ISU chemtrails atau jejak kimiawi di angkasa kembali mencuat beberapa hari terakhir. Isu tersebut diklaim sebagai penyebab ribuan burung pipit mati di Gianyar, Bali. Contohnya, posting-an akun Facebook Degung Premana yang menanggapi ribuan burung mati itu karena efek chemtrails yang membentang di langit.

”Efek chemtrail nih,” tulis akun tersebut pada 9 September 2021 sembari menyebar video dari akun Facebook Denpasar Viral pada hari yang sama. Peristiwa itu disebut berada di wilayah Setra Br Sema Pring, Gianyar, Kamis pagi, 9 September 2021 (bit.ly/EfekChemtrail).

Isu chemtrail atau chemical trail sebelumnya pernah menyebar dan dikaitkan dengan merebaknya Covid-19. Namun, isu tersebut sudah banyak dibantah dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Portal berita NewScientist termasuk sering membongkar klaim konspirasi konyol itu. Salah satu ulasannya menyebutkan bahwa jejak seperti awan yang ditinggalkan pesawat sebenarnya hanyalah produk dari kondensasi uap air. Anda dapat membacanya di bit.ly/KondensasiUapAir.

Sebagian besar menyebut bentuk awan memanjang itu sebagai condensation trail atau contrail. Sebuah efek alami dari kondensasi udara dingin yang secara tiba-tiba menjadi hangat akibat pembakaran mesin, lalu mengandung uap air dan terbentuklah gumpalan awan. Jika disederhanakan, suhu panas di mesin pesawat bertabrakan langsung dengan udara di luar pesawat yang superdingin dan terbentuklah contrail.

Lantas, apakah penyebab matinya ribuan burung pipit di Banjar Sema, Desa Pring, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, Bali, pada Kamis (9/9) itu? Radar Bali (Jawa Pos Group) menyebutkan bahwa BKSDA Bali tengah mendalami kasus tersebut. Kasi Wilayah II BKSDA Provinsi Bali Sulistyo Widodo mengaku telah mengambil sampel bangkai dan kotoran burung untuk dibawa ke laboratorium kesehatan hewan.

Ada tiga dugaan penyebab matinya burung pipit dalam jumlah besar itu. Pertama, burung-burung tersebut memakan pakan yang terkontamisasi atau mengandung herbisida dan atau pestisida yang sifatnya toxic bagi burung. ”Setelah memakannya, tentu burung tidak langsung mati karena proses keracunan juga memakan waktu untuk sampai tingkatan mortalitasnya,” ujarnya.

Kemungkinan kedua adalah tertular penyakit tertentu. Mengingat burung pipit hidup berkoloni dalam jumlah besar, penularannya akan cepat. Angka kematiannya juga dalam jumlah besar. Namun, perlu pembuktian dengan analisis bangkai dan kotoran burung.

”Kemungkinan ketiga, akibat ada perubahan drastis iklim,” katanya. Dari data BKSDA Provinsi Bali, kasus serupa pernah terjadi di area parkir RSUP Sanglah Denpasar dan di Selemadeg, Tabanan, sekitar lima tahun lalu. Di luar Bali, hal yang sama pernah terjadi di Sukabumi, Jawa Barat, pada Juli 2021. Anda dapat membacanya di bit.ly/DidugaTerkontaminasi.

FAKTA

Ada tiga dugaan yang menjadi penyebab ribuan burung pipit mati di Gianyar. Yakni, karena kontaminasi pakan, virus tertentu, atau perubahan iklim yang drastis. (**)