BALIKPAPAN-Dewi Agustina tak menyangka, percakapannya dengan sang suami, Utra Iswahyudi, Senin (13/9) malam bakal jadi yang terakhir. "Malam itu dia telpon katanya habis pijat. Setelah itu ngobrol seperti biasa, nanyain anak. Terus bilang besok mau terbang lagi," kata Dewi

Malam itu, Iswahyudi juga tak berlama-lama di sambungan telpon. "Kalau mau terbang memang seperti itu. Dia pasti istirahat lebih cepat," ujar Dewi. Bak disambar petir di siang bolong, Rabu (15/9) siang, ia mendapat kabar dari tetangga, suaminya jadi salah satu kru Rimbun Air yang jatuh di Papua.

"Seharian saya memang tidak memantau berita. Jadi saya malah tahu ada kecelakaan pesawat dari tetangga dan teman," katanya. Mendapat kabar pesawat yang ditumpangi suami jatuh, Dewi langsung berusaha menghubungi handphone Iswahyudi. Sayang, berkali-kali dicoba, panggilan telpon tak kunjung tersambung.

Dewi menyebut, pertemuan terakhir dengan suami adalah dua minggu lalu. Jika sesuai jadwal, sang suami harusnya berada di Balikpapan, 19 September ini. "Jadwalnya off-nya tanggal 19 September nanti," kata Dewi lirih. Kerabat korban yang namanya enggan disebut mengaku Yudi sudah cukup lama bekerja sebagai mekanik pesawat dan helikopter. Selain di Papua, Yudi juga pernah menjadi teknisi sebuah perusahaan pesawat carter di Balikpapan dan Papua Nugini.

"Dia juga pernah mengalami kecelakaan di Ternate, saya lupa kapan," kata kerabat tersebut. Muhammad Rifki, ipar korban menyebut sosok Utra Iswahyudi adalah orang pendiam. Kendati demikian, laki-laki 41 tahun tersebut juga sosok yang ringan tangan dan suka membantu sesama, terutama kawan-kawannya. "Biasanya kalau libur dia mancing dan bermain futsal," beber Rifki.

Mendiang Yudi meninggalkan dua anak perempuan yang masih berusia 5 tahun dan 2 tahun. Jenazah Yudi rencananya tiba di Balikpapan Jum'at (17/9). "Tapi jamnya belum dikabari dari pihak kantor," kata Rifki. Sebagai informasi pesawat pengangkut logistik Rimbun Air mengalami crash di kawasan Sugapa, Intan Jaya, Papua, Rabu (15/9) pagi.

Wakil Komandan Yonif Mekanis 521/DY, Mayor Inf Edi Dipramono menerangkan cuaca di Sugapa pagi kemarin memang tak cerah. Cuaca yang buruk diduga membuat pesawat Rimbun Air gagal landing. Pesawat kemudian berusaha naik mengambil arah kiri bandara. Setelahnya, terdengar suara keras oleh pihak bandara yang berada di landasan. Diduga pesawat jatuh usai menabrak gunung.

Pesawat Rimbun Air yang hilang berisikan 3 kru yakni Mirza sebagai pilot, Fajar sebagai kopilot, dan Iswahyudi selaku teknisi. Ketiga kru pesawat tewas akibat insiden tersebut. (hul)