Aliansi Masyarakat Peduli Penajam Paser Utara (PPU) menyatakan aksi pengumpulan koin, menyusul terjadinya defisit anggaran hampir Rp 700 miliar tahun 2021. Koin-koin segera dikumpulkan dari rumah ke rumah oleh sekelompok pemuda yang berpusat di Kecamatan Waru.

 

PENAJAM – Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli PPU, Eko Cahyo Riswanto menjelaskan, aksi ini mereka mulai sebagai bentuk kepedulian dan sebagai gerakan moral terhadap krisis keuangan akibat defisit yang dialami Pemkab PPU.

“Angkanya berkisar Rp 700 miliar,” kata Eko, kemarin (15/9). Dikatakannya, ia bersama pemuda yang memiliki pemikiran sama segera bergerak untuk membantu pemerintahan daerahnya mengatasi masalah defisit, yang berdampak terjadinya ancaman stagnasi terhadap sejumlah pembangunan di daerah.

Di samping itu, akibat defisit, berdampak meluas dengan kebijakan rasionalisasi lainnya. “Saya prihatin setelah melihat potongan video penjelasan dari kepala BKAD (Badan Keuangan dan Aset Daerah) yang beredar luas. Telah terjadi defisit dan berdampak rasionalisasi sejumlah proyek pembangunan, dan anggaran yang tidak tersedia tahun ini bergeser pada tahun anggaran berikutnya,” tuturnya.

Menurut dia, apabila defisit tidak bisa tertutupi, hal itu bakal mengganggu kinerja pemerintah daerah untuk menyejahterakan rakyatnya. “Terdorong oleh itu, kami sebagai putra dan putri PPU merasa prihatin dengan kondisi keuangan pemkab yang ramai diperbincangkan dengan istilah bangkrut itu,” tandasnya.

Pihaknya, lanjut dia, bergerak atas kewajiban moral, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan politik. Apabila koin-koin sudah terkumpul, pihaknya segera menyerahkannya melalui dinas atau instansi teknis di lingkungan Pemkab PPU.

Pengumpulan koin-koin yang sama juga diprakarsai tokoh pemuda di Kecamatan Sepaku, PPU Muhammad Hatta. Bahkan, ia sudah melakukan imbauan pengumpulan koin melalui media sosial Facebook. Ia menyerukan kepada seluruh masyarakat di PPU untuk mengumpulkan koin untuk membantu PPU.

“Ayo dukung kami menuju gerakan sejuta koin,” tulis Muhammad Hatta pada laman di internet itu. Saat dihubungi koran ini, kemarin, Muhammad Hatta mengatakan, hampir sebagian besar masyarakat mengetahui telah terjadi defisit anggaran pada 2021. “Iya dong daripada defisit. Semua tahunya teriak tidak ada gerakan. Ini rencana kita mulai dari tingkat RT. Jadi, berjenjang. Dan, setelah terkumpul akan kami serahkan ke kecamatan untuk dibawa ke kabupaten. Tapi, baru dalam tahap rencana,” kata Muhammad Hatta.

Untuk mengumpulkan koin-koin, ia segera membentuk barisan sukarelawan untuk mengambil koin-koin masyarakat, dan untuk sementara ia fokuskan dulu pada masyarakat di Kecamatan Sepaku. “Daerah ini mengalami defisit sekitar Rp 700 miliar,” ujarnya.

Gerakan pengumpulan koin juga diprakarsai tokoh pemuda di Gunung Intan, Kecamatan Babulu, PPU, Gunawan. Ia prihatin terhadap defisit yang cukup besar itu. “Kami segera bergerak memungut koin kepada masyarakat di Kecamatan Babulu. Kami terpanggil untuk bergerak motivasinya murni untuk membantu pemkab mengatasi defisit anggaran, dan agar pembangunan bisa berjalan sesuai tahapan rencananya,” kata Gunawan.

Di Penajam, PPU, tokoh pemuda setempat Amiruddin juga menyatakan hal sama. “Kami segera turun dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan koin-koin untuk disumbangkan kepada pemkab,” kata Amiruddin, kemarin.

Sementara itu, anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD PPU 2021 Wakidi, kemarin, menanggapi gerakan ini. Dulu, kata Wakidi, dalam rapat Banggar mengenai RAPBD 2021, DPRD diberikan jaminan anggaran dari eksekutif yang bersumber dari pusat, bankeu provinsi, dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Nyatanya sampai kemarin, tidak ada kejelasan sumber yang dijanjikan. Sehingga defisit anggaran menjadi nyata. “Kalau ada gerakan pemuda mengumpulkan koin untuk menambal  defisit APBD, itu membuat kami sangat malu. Karena tidak cermat dalam merencanakan penganggaran. Tapi kami juga menuntut eksekutif bertanggung jawab atas ketidakmampuannya dalam mendapatkan anggaran yang dijanjikan,” tambahnya. (ari/kri/k16)