PENAJAM - Dugaan pencabulan yang dilakukan AL (44), oknum dosen sebuah perguruan tinggi swasta di Balikpapan kepada P (14), pelajar dari Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap anak kategori pencabulan.

Data yang dihimpun Kaltim Post dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) PPU mencatat di 2019 terjadi 27 kasus kekerasan terhadap anak (KTA), dan 2020 terjadi 26 KTA. Sementara pada 2021 per September ini tercatat 12 KTA.

“KTA terbanyak adalah kekerasan seksual atau pencabulan. Ada juga yang menjadi korban kekerasan fisik. Mereka ini rata-rata berjenis kelamin perempuan usia dini,” kata Kepala Bidang Perlindungan Pemenuhan Hak Anak dan Perempuan DP3AP2KB PPU Nurkaidah yang dihubungi koran ini kemarin.

Sejauh ini pihaknya telah menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi), yaitu melakukan edukasi dan sosialisasi kepada para orangtua agar mereka lebih berperan. Misalnya, lebih memberikan pengawasan kepada anak, terutama berhati-hati untuk melepas anaknya keluar rumah, melakukan pengawasan pergi ke mana, dan bersama siapa anaknya pergi.

Tidak hanya KTA, DP3AP2KB PPU juga mencatat kekerasan terhadap perempuan (KTP) di 2019 terjadi 8 kasus, di 2020 terjadi 8 kasus, dan KTP per September 2021 terjadi 4 kasus. “KTA maupun KTP telah kami berikan dukungan pendampingan, baik secara psikologis maupun pendampingan dalam bentuk lain,” kata Nurkaidah.

Sementara itu, Agus Wijayanto, kuasa hukum AL, kemarin, mengatakan, kasus yang menimpa kliennya kini sedang ditangani Polres PPU, terus berjalan dengan menghadirkan saksi. “Kemarin dilakukan berita acara pemeriksaan (BAP) tambahan hingga pukul 18.00 Wita serta BAP saksi bernama N,” kata Agus Wijayanto.

Tersangka AL, kata dia, sudah menjalani swab dan hasilnya negatif. Sebagai penasihat hukum, ia minta supaya masyarakat tidak menghukumi secara berlebihan terhadap tersangka supaya tetap berpedoman pada asas praduga tak bersalah hingga ada putusan tetap terhadap tersangka.

“Kalau media kan sudah tahu aturan UU Pers jangan sampai menjurus pada trial by the press,” katanya. “Karena tersangka kan juga punya keluarga, jangan sampai juga pihak keluarga yang tidak tahu menahu di-inbox kan bahaya. Netizen sekarang ini harus saling bijaksana menggunakan media online,” tambahnya.  Seperti diberitakan, kasus persetubuhan dengan anak di bawah umur menimpa seorang pelajar asal Kecamatan Babulu, PPU. Terduga pelakunya adalah AL, oknum yang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Balikpapan.

AL sudah ditangkap dan ditahan di Mapolres PPU sejak Kamis, 9 September 2021. Dari hasil penyidikan kepolisian, AL diduga membawa korban P (14) tanpa sepengetahuan orangtua dari pelajar kelas 1 SMP di wilayah Babulu itu.

“Tersangka ini membawa lari dan kemudian melakukan persetubuhan di salah satu hotel di Balikpapan,” kata Kapolres PPU AKBP Hendrik Hermawan melalui Kasat Reskrim Iptu Dian Kusnawan. (ari/kri/k16)