SAMARINDA - Di antara berbagai alternatif sumber pertumbuhan ekonomi yang memiliki daya saing tinggi, produk-produk hilir kelapa sawit bisa menjadi salah satu “rising star”. Berkaca pada pertambangan batu bara yang menopang 7,9 persen PDRB Kaltim pada 2000 dan 20 tahun kemudian telah mencapai 31,5 persen produk domestik regional bruto (PDRB) Kaltim, bukan tidak mungkin kelapa sawit melakukan hal yang sama.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan, seiring dengan peran komoditas batu bara yang akan menurun, upaya untuk mentransformasi perekonomian Kaltim perlu segera dilakukan. Transformasi tidak hanya menemukan sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan, namun juga meningkatkan nilai tambah sumber pertumbuhan yang telah ada agar tumbuh lebih tinggi dan inklusif.

Era logging memang menjadi sunset, namun tren packaging belanja online, tisu, dan fiberboard untuk furnitur terus berkembang. Era migas memang sedang berlalu, namun tren plastik dan polikarbonat untuk berbagai durable and electronic goods, termasuk gadget, terus berkembang.

“Begitu juga dengan era batu bara juga suatu saat akan berakhir, namun tren bahan bakar rumah tangga dan transportasi dari campuran methanol akan terus berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk,” jelasnya, Selasa (14/9).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, kelapa sawit di Indonesia mulai ditanam pada 1848 dan dibudidayakan secara komersial pada 1910. Meski sudah dibudidayakan secara komersial sejak lama, perkembangan kelapa sawit baru mulai pesat mulai dekade 80-an.

Hingga kini, kelapa sawit menjadi salah satu komoditas utama dunia dan menyumbang devisa yang cukup besar bagi Indonesia. LMC International Ltd mencatat bahwa, minyak sawit menempati pangsa terbesar konsumsi minyak nabati dunia sebesar 36 persen dan berada dalam tren yang terus meningkat. Peringkat kedua ditempati oleh minyak biji kedelai dengan pangsa 26 persen, diikuti oleh minyak canola 15 persen, dan minyak bunga matahari 9 persen.

Kabar baiknya, Oil World mencatat bahwa Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia dengan pangsa 53 persen, diikuti Malaysia 32 persen, Thailand 3 persen, dan Kolombia 2 persen. Hingga Juni 2021, kelapa sawit menyumbang hampir 20 persen devisa ekspor Indonesia, diikuti logam sebesar 12,3 persen, batu bara 11,3 persen, tekstil 8,5 persen, dan migas 5,7 persen.

Sekitar 57 persen produksi kelapa sawit Indonesia ditopang oleh Sumatra, diikuti oleh Kalimantan sebesar 35 persen. Sebanyak 8 persen, sisanya tersebar di Nusa Tenggara dan kawasan timur Indonesia. “Kelapa sawit mulai dikembangkan di Kaltim sejak tahun 1982. Sejak saat itu, peran kelapa sawit dalam menopang perekonomian Kaltim semakin membesar,” tutupnya.

Pada tahun 2010, misalnya, kelapa sawit diperkirakan menyumbang sekitar 3,57 persen PDRB Kaltim, dan terus meningkat hingga pada 2020 diperkirakan menyumbang sekitar 7,8 persen PDRB Kaltim.

Berkaca pada pertambangan batu bara yang menopang 7,9 persen PDRB Kaltim pada tahun 2000. Pada 20 tahun kemudian yaitu pada 2020, peranannya telah mencapai 31,5 persen PDRB Kaltim, bukan tidak mungkin kelapa sawit juga akan menopang lebih dari 30 persen PDRB Kaltim 20 tahun lagi. “Tidak menutup kemungkinan kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang memiliki peranan besar terhadap ekonomi,” pungkasnya. (ctr/ndu/k15)