Di tangan tiga srikandi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), nira siwalan atau lontar, disulap menjadi amunisi yang siap melindungi pasien diabetes dari lonjakan glukosa dalam darah. Ketiganya dosen prodi teknologi industri pertanian; Endang Retno Wedowati, Fungki Sri Rejeki, dan Diana Puspitasari.

DIMAS NUR APRIYANTO, Surabaya

SIAPA yang tidak kenal buah siwalan. Ukuran buahnya mungil dan berbentuk bulat. Setelah dikupas, sekilas buah siwalan mirip kolang-kaling. Buahnya bening dan kenyal, tapi masih bertekstur sedikit padat.

Cara mengonsumsi siwalan juga cukup mudah. Bisa dikonsumsi langsung atau diolah menjadi minuman. Nah, Wedowati memiliki cara lain untuk menikmati siwalan yang juga bermanfaat bagi penderita diabetes itu.

’’Kami mencoba menghadirkan gula alternatif yang bisa dipakai penderita diabetes dengan memanfaatkan nira siwalan,” katanya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Gula siwalan itu diteliti Wedowati dan tim pada 2015–2016. Kemudian pada 2018, bak gayung bersambut, Dikti membuka program hibah paten pada 2018. Wedowati menjajal program tersebut.

Proposal invensi disusun. Proposal dikirimkan pada Oktober 2018. Hasilnya membuat ujung kanan dan kiri bibir ketarik atas. ’’Alhamdulillah dipanggil untuk bimtek menyempurnakan usulan invensi gula siwalan ini,” ujarnya.

Seluruh proses hak paten diikuti melalui website Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). Wedowati dan tim tidak banyak campur tangan. Dikti-lah yang mendaftarkan semua proses. ’’Saya cuma setor draf invensi ke Dikti. Kami mengikuti proses itu. Tidak ada komunikasi dengan Kemenkumham, kami cuma menunggu,” kenangnya.

Proses tidak berhenti di situ. Wedowati dan tim diminta menunggu pengumuman permohonan paten selama enam bulan. Wedowati mengatakan, hal itu dimaksudkan untuk memastikan bahwa usulan patennya benar-benar orisinal. Tidak ada orang yang sebelumnya memiliki paten tersebut. Setelah itu, Wedowati baru diperbolehkan membuat artikel jurnal.

Pada Juni tahun ini, ada kabar baik tentang hak paten. Wedowati dan tim dinyatakan memiliki paten gula siwalan tersebut. Senyum mengembang di tiga bibir srikandi itu. Perasaan lega mencuat.

’’Selain yang gula siwalan, kami mendapat paten untuk gula cair kimpul dengan indeks glikemik rendah dan proses penghilangan rasa gatal pada tepung umbi kimpul,” ucap Wedowati.

Fungki yang berada di samping Wedowati menjelaskan, invensi itu ditambah ekstrak teh hitam yang terdiri atas beberapa tahap. Pertama, menyiapkan bahan baku gula berupa cairan nira siwalan. Kedua, menyaring cairan nira menggunakan kain kasa untuk menghilangkan kotoran. Ketiga, menetralkan cairan nira yang telah disaring dengan menambahkan cairan kapur hingga pH mencapai 6–7.

’’Sampai ke tahap memanaskan nira siwalan kembali yang sudah ditambah ekstrak teh hitam hingga kekentalan mencapai 75 derajat brix,” ungkapnya.

Semua proses dilakukan secara tradisional. Salah satunya, memanaskan cairan nira. Tim menggunakan kompor atau tungku hingga mencapai kekentalan 65 derajat brix.

Lantas, mengapa Wedowati dan tim menggunakan tambahan teh hitam? Mereka sempat menggunakan dua teh. Hitam dan hijau. Hasilnya, teh hitam lebih efektif dalam menurunkan indeks glikemik. ’’Gula ini bisa dipakai orang yang nondiabetes atau bisa juga sebagai pangan fungsional,” tambah Fungki.

Hasil riset tiga srikandi itu sempat dilirik salah satu perusahaan pangan terkemuka. Sayangnya, ketiganya masih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mempersiapkan produksi dengan kapasitas massal.

Terkait kasus diabetes, Indonesia mendapatkan lampu merah dari International Diabetes Federation (IDF). IDF memberikan status waspada mengenai penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah itu. Indonesia menempati urutan ketujuh di antara 10 negara dengan jumlah pasien diabetes tertinggi. (*/c7/git/jpg/dwi/k8)