PERISTIWA yang dialami AL mengundang perhatian banyak pihak. Terutama kalangan akademisi Balikpapan dan PPU. Pasalnya, nama AL dikenal luas dengan aktivitas sosial yang tidak bisa dipisahkan dari profesinya sebagai salah satu dosen pada universitas swasta di Balikpapan.

AL aktif di sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan, politik, dan pengawasan kebijakan pemerintah. Koran ini banyak menerima hubungan telepon yang menanyakan kebenaran informasi yang belakangan ramai diberitakan berbagai media massa lokal.

Juga, jadi bahan pembicaraan melalui grup-grup platform perpesanan WhatsApp (WA). “Tidak menyangka kalau AL yang ramai diberitakan media massa itu ternyata orang yang saya kenal,” kata seseorang di balik sambungan telepon.

Sejauh penelusuran media ini, AL menuliskan statusnya di media sosial Facebook sebagai penulis dan editing, buku bisnis dan novel kehidupan. Dalam sebuah status yang cukup panjang ia pernah menulis tentang sorotannya terhadap video mesum Balikpapan, yang pernah menghebohkan Kota Minyak.

Menurut dia, dari tahun 2009 paling tidak ada 7 video mesum, 2 dilakukan oleh mahasiswi dan 5 dilakukan oleh pelajar SMP, SMK, dan SMA. Umumnya, tulis AL, mereka melakukannya di hotel, tempat indekos, dan kamar rumahnya. Yang di semak-semak, tulis dia, juga ada.

Tetapi, lanjutnya dalam status itu, bukan masalah tempat yang menjadi persoalan, tetapi kenapa adegan itu bisa terjadi. Apakah pergaulan mereka bebas? Apakah pengawasan orangtua tidak? Apakah izin hotel dan indekos beserta pengawasan kurang?

Apakah slogan Kota Beriman, Kota Madinatul Iman hanya tong kosong nyaring bunyinya? Apakah kemaksiatan dibiarkan, sehingga sebabkan murka Allah? Judi dan maksiat, apakah dampaknya lebih besar judi?  Dan, banyak lagi soal atau pertanyaan soal itu.

Video mesum, tulis dia, merupakan sejarah dan catatan bagaimana kekerasan terhadap anak terjadi. Ia lantas memasukkan adegan mesum itu dalam bentuk kekerasan terhadap anak. Ia lalu mempersilakan bagi pegiat anak untuk memperdebatkan definisi ini.

“Sejarah mesum anak itu juga, menginspirasi saya membuat sebuah novel, bahkan rencana ada 10 seri. Mengungkap salah satu contoh aksi mereka, berdasarkan fakta, hasil investigasi dan dibarengi dengan fiksi saya, agar orangtua bisa awasi anaknya, agar para istri-istri tidak dibohongi para suaminya. Kata Inul Daratista, katanya lembur, katanya kerja, tetapi malah check in. Katanya makan siang, katanya istirahat, tetapi ke hotel dan kos,” kata AL sebagaimana status yang ditulisnya dan diunggah pada Sabtu, 21 Agustus 2021 pukul 08.16 waktu internet.

Ia juga menulis, 1.200 pelacur di Balikpapan, 5 persen adalah pelacur anak atau menjadi pelacur akibat kurang perhatian orangtua, anak broken home karena orangtuanya bercerai, tidak harmonis, dan korban pacar kemudian ditinggalkan, sehingga dia putus asa dan dendam.

Modusnya, tulis AL, bisa pakai aplikasi online, bisa lewat teman dan komunitas mereka, dan ada koordinator atau muncikari. Tidak salah jika awal tahun anggaran, polisi berhasil menangkap muncikari setiap tahun, dengan menjebak sebagai pelanggan. (ari/kri/k8)