Angin duduk adalah nyeri dada yang muncul akibat adanya gangguan aliran darah ke jaringan otot jantung. Namun, rasa nyeri ini biasanya mirip dengan nyeri dada yang menunjukkan gejala penyakit lain, seperti masuk angin dan serangan jantung. Lantas bagaimana membedakannya?

Oleh : Siti Sulbiyah

Jantung merupakan salah satu organ vital dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga organ dan jaringan tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan baik.  Organ ini terletak di bagian tengah rongga dada, tepatnya di bagian belakang sisi kiri tulang dada.

Beberapa hal bisa menyebabkan gangguan pada jantung dan membuat organ ini tidak berfungsi secara normal. Salah satunya adalah serangan jantung, yang bisa dipicu karena angin duduk. Angin duduk atau angina adalah suatu penyakit yang ditandai dengan nyeri dada akibat otot jantung kurang mendapatkan pasokan oksigen dari aliran darah. Pasokan darah ke otot jantung terganggu karena adanya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah.

Hal tersebut dikatakan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Aditya Pradhana,SpJP, saat kegiatan Talkshow Indra Kita yang disiarkan secara langsung, pekan lalu. Menurutnya, serangan jantung adalah kondisi dimana terjadi penyempitan pembuluh darah jantung atau yang biasa dikenal dengan penyakit jantung koroner.

“Ketika ada kelainan di sini, yang dimaksud dengan kelainan di sini adalah ketika tidak adanya kesimbangan antara supplai oksigen ke jantung dan kebutuhan jantung,” jelasnya.

Jadi, lanjut Aditya, ketika jantung membutuhkan oksigen yang banyak seperti saat berolahraga, tetapi karena adanya penyempitan pembuluh darah jantung, maka oksigen yang masuk ke jantung kurang, yang membuat jantung mengalami serangan.

Aditya menyatakan pengidap angin duduk biasanya akan mengalami berbagai gejala, antara lain nyeri dada, dada seperti terhimpit atau tertekan benda berat, sesak napas, gelisah, hingga keringat dingin. Rasa nyeri tersebut, dapat menjalar ke bagian punggung, rahang, hingga jari-jari kiri.

Dokter di RSUD Sultan Syarief Mohammad Alkadrie Pontianak ini mennuturkan kondisi angin duduk bisa mengarah pada serangan jantung. Gejalanya terlihat pada munculnya keringat dingin sebesar biji jagung hingga kondisi napas yang tidak biasa.

“Kalau misalnya ada keluar gejala keringat dingin seperti jagung, itu sebaiknya segera diobati karena sudah merupakan tanda-tanda suatu serangan jantung,” imbuhnya.

Apalagi bila terjadi perut kembung disertai dengan adanya sesak yang ketika tarik napas, namun orang tersebut merasakan udara yang tidak masuk, atau napas kosong, atau tersengal-sengal.

“Dalam kondisi ini sebaiknya ke rumah sakit, karena itu sudah merupakan tanda-tanda serangan jantung,” paparnya.

Lantas bagaimana membedakan nyeri khas yang mengarah pada serangan jantung dengan nyeri biasa? Menurutnya, serangan jantung tidak dipengaruhi penekanan, dalam artian ketika dada ditekan tidak akan memberikan pengaruh apapun terhadap rasa nyeri. Sebaliknya ketika dada ditekan dan terasa lebih sakit, maka kemungkinan besar bukan serangan jantung.

“Sebab jantung dilindungi tulang iga, sehingga tidak bisa ditekan dengan tekanan biasa. Jantung jauh berada di bawah. Kondisi dada yang tidak nyaman ketika ditekan bisa jadi itu hanya masuk angin biasa,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, nyeri dada karena serangan jantung terasa di seluruh dada. Rasa nyeri yang ditimbulkan tidak bisa ditunjuk dengan satu atau dua jari. “Sehingga apabila ada nyeri yang terasa hanya pada satu titik, kemungkinan besar itu bukan gejala serangan jantung,” ungkapnya.

Terdapat beragam faktor resiko yang bisa menyebabkan seseorang rentan terhadap angin duduk, antara lain kolesterol tinggi, diabetes atau kencing manis, hipertensi atau tekanan darah tinggi, merokok, dan lain sebagainya. Kondisi ini juga rentan terjadi pada usia di atas 45 tahun bagi pria dan di atas 55 tahun bagi wanita.

Bertambahnya usia semakin kaku pembuluh darah yang bisa membuat adanya penyempitan. Untuk laki-laki berusia 45 tahun dan wanita setelah menopause yakni di atas 50 tahun. “Tapi selalu pengecualian, yakni apabila ada riwayat merokok, atau penyakit lainnya seperti tingginya kadar kolesterol. Sebab utamanya adalah gaya hidup,” katanya.

Di samping itu, tambahnya, aktivitas olahraga juga perlu diwaspadai terutama pada kondisi yang berlebih. Meski olahraga sangat disarankan untuk kesehatan jantung, namun aktivitasnya yang berlebihan juga rentan berbuah serangan jantung.

“Jarang berolahraga tiba-tiba langsung olahraga berat, justru bisa menyebabkan serangan jantung. Itu karena tidak sesuai kebutuhan oksigen jantung dengan tuntutan aktivitas,” ujarnya.

Aditya menyarankan untuk berolahraga 30 hingga 45 menit per sesi, dalam waktu seminggu 5-7 kali. Olahraga yang dimaksud adalah ringan-sedang. Sementara untuk olahraga yang menguras tenaga dan perlu kerja jantung berlebih, maka membutuhkan istirahat panjang. **