Hingga saat ini, Pemprov Kaltim belum memberikan lampu hijau untuk pembelajaran tatap muka (PTM). Sekolah pun masih dianjurkan secara daring. Walaupun beberapa daerah di Bumi Etam sudah mau melakukan pembelajaran tatap muka untuk SD dan SMP/sederajat yang menjadi kewenangan mereka.

Gubernur Kaltim Isran Noor mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum membuka PTM. Masih dievaluasi, apakah bisa segera dibuka atau tidak. Meski begitu, Isran memastikan bahwa Pemprov Kaltim akan membuka pembelajaran tatap muka ketika kondisi sudah cukup aman untuk anak-anak.

“Kaltim kan SMA sederajat. Kalau kabupaten/kota SD dan SMP. Jadi kewenangan PTM di SD dan SMP itu di daerah masing-masing,” kata Isran.

Di sisi lain, saat ini di Kaltim beberapa daerah sudah menyiapkan pembelajaran tatap muka. Seperti di Kota Tepian. Wali Kota Samarinda Andi Harun menjelaskan alasan pembelajaran tatap muka dilakukan. 

Dia mengatakan bahwa belum ada yang tahu kapan Covid-19 akan berakhir. Menurutnya, terus-menerus mengandalkan pembatasan sebagai solusi. Saat ini pun, sudah hampir dua tahun tidak terlaksana pembelajaran tatap muka.

“Apalagi orangtua di Samarinda sudah jenuh karena anak-anaknya sekolah daring,” kata Andi Harun.

Sementara itu, belajar daring juga dirasa belum maksimal. Sebab, masih banyak anak yang harusnya sekolah virtual, tetapi karena tanpa pengawasan orangtua, mereka justru lebih banyak bermain handphone dan lainnya. Maka dari itu, 95 sekolah di Samarinda sedang dipersiapkan untuk belajar tatap muka.

Memang, pandemi Covid-19 membuat anak-anak kini harus belajar di rumah. Orangtua pun harus mendampingi anak mereka. Memang, belajar dari rumah tak semudah belajar di sekolah. Namun, anak, sekolah, dan orangtua mesti beradaptasi.

Psikolog Ayunda Ramadhani sebelumnya menjelaskan, pada dasarnya orangtua harus memahami bahwa pandemi saat ini adalah kondisi yang tak bisa diprediksi. Sehingga, mau tidak mau harus diterima. Sebab itu, harus siap menerima perubahan yang tak bisa diterima sehari-hari. Untuk mendampingi anak belajar di rumah, ada sejumlah kiat khusus. Dengan begitu, belajar bisa optimal.

Apalagi, diakui bahwa belajar daring tidak semudah belajar tatap muka. Learning loss pun bisa terjadi. Seperti yang pertama urusan waktu, yaitu harus sepakati waktu mengerjakan tugas.

"Lakukan  ini bersama anak, karena orangtua diharapkan dapat mendampingi hingga tugas selesai sebelum deadline pengumpulan," terang Ayunda.

Kemudian, memastikan kebutuhan biologis anak terpenuhi. Seperti makan dan istirahat cukup adalah modal utama agar bisa fokus mengerjakan tugas. Selain itu, orangtua harus menciptakan situasi belajar yang kondusif. Mulai suhu ruangan, tempat yang nyaman, hingga jaringan internet. Jangan lupa memberikan reward dengan pujian atau makanan favoritnya, tiap anak bisa menyelesaikan tugas.

Meski begitu, bukan berarti hal ini bisa langsung berjalan baik dan lancar. Jika tak berjalan sesuai harapan, ada baiknya berhenti sejenak. Misal ketika mendampingi anak belajar, muncul rasa kesal atau marah, maka istirahat sejenak dianjurkan.

Selain itu, bisa mengucapkan kalimat positif untuk menyemangati diri sendiri. Berolahraga, mengatur napas, tidur cukup dan makan bergizi, juga salah satu cara agar proses belajar optimal. Jangan lupa memberikan hiburan sendiri dan self reward.

"Namun jika kasusnya adalah pada anak yang memang berkebutuhan khusus, dalam artian memang mengalami gangguan konsentrasi. Sehingga tidak dapat fokus, maka perlu ada strategi lain. Hal ini perlu berkolaborasi dengan terapis dan guru untuk menyesuaikan dengan kondisi anak," jelasnya.

Ayunda melanjutkan, misal ketika anak dengan diagnosis hiperaktif, maka tugas sekolah tidak bisa dengan metode duduk tenang di atas meja. Namun, dengan tetap bergerak. Orangtua perlu kreatif dan guru pun harus kreatif untuk mendesain tugas belajar untuk anak ADHD.

Bisa misalnya dengan membuat tugas yang melibatkan olah tubuh. Tapi jika bagi anak-anak umum, maka agar ketuntasan tugas dapat selesai di rumah, perlu adanya pendampingan orangtua.

"Menyesuaikan dengan gaya belajar mereka, tetapkan target/deadline penyelesaian dengan kesepakatan bersama. Saat belajar usahakan tidak ada gadget/alat elektronik seperti TV yang dapat memecah konsentrasi. Namun, kebanyakan tugas saat ini melalui online. Sehingga, gadget akan sulit untuk dihindari, nah inilah pentingnya peran orangtua," paparnya. (nyc/dwi/k16)