BALIKPAPAN - Pemerintah memberikan stimulus berupa pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk menggeliatkan kembali daya beli masyarakat, termasuk sektor properti. Free PPN atau diskon 50 hingga 100 persen diberikan untuk pembelian rumah. Diskon 100 persen diberikan untuk nilai rumah maksimal Rp 2 miliar sementara diskon 50 persen untuk kisaran Rp 2 miliar atau maksimal Rp 5 miliar.

Sasaran relaksasi bukan hanya rumah subsidi melainkan juga perumahan menengah ke atas. Stimulus berlaku pada 1 Maret hingga 31 Agustus kemarin. Walau tidak membuat penjualan lebih signifikan, Wakil Ketua Komisariat Real Estate Indonesia (REI) Balikpapan Andi Arief Mulya Dwi Hartono menuturkan demand tetap ada.

Sebab penurunan daya beli masih terjadi hingga saat ini. Karenanya, masyarakat pun menjadi lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang. “Apakah demand-nya nol, tidak juga. Tetap ada saja yang membeli walau memang tidak sebanyak dulu, sebelum ada pandemi,” ujarnya.

Menurutnya ada dua tipi konsumen yang memilih berinvestasi di real estate, untuk kebutuhan tersier atau investasi. Memilih berinvestasi tentu akan lebih banyak perhitungannya di tengah kondisi sekarang. Apalagi mendekati tahun politik. Sedangkan orang yang ingin menetap dalam jangka pendek pasti lebih memilih menyewa.

“Dari sisi konsumen masih tetap wait and see, tidak berani gambling di tengah ketidakpastian ini. Ekonomi juga masih naik turun. Bicara suku bunga pun belum pasti,” lanjutnya. Sedangkan bagi pengembang besar, tentu ada rumusan berbeda. Selama cash flow masih bagus, harga tanah masih murah tentu ini menjadi pilihan waktu yang tepat bagi mereka untuk berinvestasi.

Kondisi sekarang tidak memungkinkan proyek berjalan, sehingga memutuskan tidak melakukan push marketing. Dalam periode ini, pengembang biasanya lebih memilih mengumpulkan proyek-proyeknya. Proyek yang dilakukan pun mungkin bukan langsung bangun, tapi paling tidak pembelian dan pembebasan lahan bisa dilakukan. Kecuali punya kerja sama dengan pihak atau mitra tertentu yang sudah pasti membutuhkan properti.

Dirinya berharap, perekonomian dan daya beli masyarakat kian membaik. Agar cash flow terus berjalan, sehingga developer punya tenaga tambahan untuk melanjutkan pengembangan proyeknya yang tertunda, atau proyek baru lainnya.

Dipilihnya Kaltim menjadi ibu kota negara (IKN) baru dipastikan membuat pengembang properti di daerah semakin ramai. Arief menuturkan, di bidang properti tidak ada sistem saingan. Semakin banyak pengusaha bergerak di bidang properti, tentu semakin bagus untuk iklim properti. Dampaknya juga baik bagi pengusaha maupun konsumen. Karena semakin banyak pilihan.

Selain kedatangan para pekerja dan pegawai negeri sipil, pertambahan jumlah penduduk akan terjadi. Yang diharapkan membawa angin segar terhadap penjualan properti. “Pengembang mungkin memiliki segmentasi pasar yang sama, tapi lokasinya berbeda. IKN pasti berdampak pula pada perkembangan properti di Balikpapan ataupun Samarinda karena lebih dekat dengan lokasi IKN,” kata Arief.

Tetap menumbuhkan optimisme menghadapi pagebluk, Arief berujar, situasi ini tidak berlangsung selamanya. Ada saatnya nanti tren akan menaik. Saat itu terjadi dipastikan harga properti melambung tinggi. “Bukannya mau jualan, tapi saat inilah waktunya berinvestasi karena harga properti lebih murah, ada stimulus pajak, dan bunga KPR. Konsumen juga diuntungkan dan memiliki lebih banyak pilihan,” tandasnya. (lil/ndu/k15)