RB Leipzig (RBL) sudah berupaya melepaskan diri dari gaya main ala Julian Nagelsmann. Musim ini, Jesse Marsch yang dipercaya memegang tongkat estafet kepelatihan menggantikan Nagelsmann yang pindah ke Bayern Muenchen.

Sial bagi Marsch, Nagelsmann dan Bayern datang terlalu cepat. Di kandang sendiri, Red Bull Arena, (12/9), RBL dihancurkan Bayern dengan skor telak 1-4.

Kekalahan terbesar RBL dalam laga Bundesliga sejak dipermalukan TSG 1899 Hoffenheim 2-5 pada spieltag ke-31 musim 2017– 2018. Kala itu, Mini Mou --julukan Nagelsmann— juga aktor di balik kekalahan Die Roten Bullen. Nagelsmann masih menangani Hoffe.

Di klasemen sementara, RBL yang musim lalu finis runner-up kini terperosok ke peringkat ke-13 dengan hanya sekali kemenangan. Sebaliknya, Bayern menyamai Borussia Dortmund dengan raihan 13 gol dalam empat spieltag awal.

Attacking midfielder RBL Emil Forsberg mengungkapkan bahwa performa timnya saat ini memang tidak sama seperti saat ditangani Nagelsmann dua musim sebelumnya. ’’Kami tidak banyak menguasai bola (saat ini, Red),’’ ungkap Forsberg kepada tabloid Tz.

Berbeda dengan Nagelsmann, Marsch lebih menginginkan anak asuhnya memainkan serangan balik cepat sehingga tidak diharapkan berlama-lama dengan bola. Di mata Forsberg, RBL seperti kehilangan jati diri. ’’Kami telah berusaha menerapkan ide-ide baru pelatih (March) dan itu membutuhkwn waktu,’’ imbuh pemain timnas Swedia itu.

Selain Nagelsmann, Bayern pada musim panas ini juga mencomot dua pemain RBL, bek tengah Dayot Upamecano dan gelandang Marcel Sabitzer. Itu yang membuat keseimbangan permainan RBL belum sempurna. Kondisi tersebut menjadi alarm bahaya bagi Die Roten Bullen yang pada Kamis dini hari (16/9) memulai perjuangan di Liga Champions melawan Manchester City di Etihad Stadium.

”Jika masih tampil seperti kemarin (lawan Bayern, Red), (RB) Leipzig bisa jadi makanan empuk Man City,” ulas RB Live. (ren/dns)