SAMARINDA – Senin (20/9) mendatang, Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda akan memulai kembali pembelajaran tatap muka (PTM) di 54 sekolah negeri dan swasta, TK, SD, dan SMP di Samarinda.

Wali Kota Samarinda Andi harun memilih satu di antara tiga opsi yang diberikan Disdik, sebagaimana tertuang dalam surat permohonan rekomendasi PTM pada status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 yang diajukan Selasa (7/9) lalu. Yakni membuka 14 sekolah pada sekolah tangguh Covid-19 (STC) pertama, kemudian 35 sekolah di STC kedua, dan lima sekolah tambahan di STC kedua.

Pria yang akrab disapa AH itu menyampaikan bahwa pemilihan opsi itu sebagai bentuk kepedulian pemkot terhadap aspirasi orangtua siswa yang ingin anaknya bisa memulai PTM. Namun, peran orangtua sangat diperlukan agar kegiatan tersebut bisa berjalan baik dan lancar, tanpa adanya kasus anak yang terkonfirmasi Covid-19. “Ya ini tanggung jawab bersama juga, tidak hanya pemerintah atau pihak sekolah,” ucapnya (13/9).

Selanjutnya, pihaknya menyerahkan persoalan teknis dan pengawasan berkala kepada Disdik untuk betul-betul memerhatikan pelaksanaan PTM berjalan dengan baik, sesuai aturan yang berlaku, sebagaimana mengacu SKB empat menteri yang terbit 2020 lalu. Serta berharap semua pihak memerhatikan pelaksanaan protokol kesehatan dari rumah, sekolah, hingga kembali ke rumah dengan aman.

“Untuk vaksinasi pelajar juga terus dikebut, karena yang buka juga prioritas bagi sekolah yang guru dan siswanya sudah vaksin,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Disdik Samarinda Asli Nuryadin menegaskan, untuk pelaksanaan PTM, pihaknya akan meminta surat persetujuan baru kepada orangtua siswa, karena yang sebelumnya dianggap kedaluwarsa. Hal itu sebagai pegangan bagi pihaknya maupun sekolah bahwa tanggung jawab pelaksanaan PTM juga diemban orangtua siswa. “Nanti dalam pelaksanaan juga kami minta orangtua lebih peduli terhadap kesehatan anaknya. Kalau kondisinya tidak fit, tentu lebih baik di rumah,” ucapnya.

Soal kesiapan bahan materi dan kemampuan SDM guru, Asli menerangkan, bakal mendorong guru bisa terus berinovasi menyesuaikan kondisi. Misalnya dengan menanyakan secara langsung aktivitas belajar di luring, sehingga bisa diikuti siswa yang kebetulan mendapat giliran untuk belajar daring. “Itu semacam inovasi, tetapi paling penting kami terus memantau fasilitas hingga pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan prokes yang ada,” sebutnya.

Dia menambahkan, saat ini tengah mempersiapkan vaksin bagi guru dan tenaga kependidikan (GTK) yang sebelumnya belum menerima vaksinasi karena alasan komorbid, atau sedang hamil. Karena saat ini sudah ada rekomendasi bagi mereka yang memiliki komorbid maupun hamil untuk bisa vaksinasi.

“Bagi guru yang belum vaksin, kami pastikan tidak direkomendasikan untuk mengajar luring. Makanya Jumat (17/9) mendatang kami akan gelar vaksinasi massal bagi 2.500 GTK yang belum vaksin,” tutupnya. (dns/dra/k16)