Keterbatasan fisik bukan hambatan. Nanda Mei tetap bisa mendulang prestasi. Kini, atlet lari ini bersiap menghadapi Peparnas di Papua.

 

HABIBAH A. MUKTIARA, KOTA, JP Radar Kediri

 

Lima atlet NPC Kota Kediri akan mewakili Kota Kediri di ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Oktober nanti di Papua. Salah satunya adalah Nanda Mei Sholihah, 22. Perempuan asal Kelurahan Dandangan ini sudah sebulan berada di Surabaya. Mengikuti pemusatan latihan.

“Akan turun di sprint 100 meter,” ucap gadis yang biasa dipanggil Nanda ini.

Nanda akan mengikuti cabang olahraga lari kategori T47. Kategori difabel tersebut merupakan kategori untuk penyandang disabilitas yang tidak memiliki lengan kanan. Selain dirinya, perwakilan dari Kota Kediri lainnya adalah Ryan Arda Diarta, 20. Pemuda ini penyandang tunadaksa.

Berlatih di tengah pandemi bukanlah hal mudah. Puslatda sempat terhenti karena kasus korona semakin tinggi. Bahkan, mereka sampai harus berlatih secara virtual.

Saat berlatih virtual, mereka menjalankan jadwal latihan yang diberikan oleh pelatih. Meskipun demikian, tim pelatih terus melakukan pengawasan. Tentu dengan cara virtual.

Untungnya, cara berlatih virtual itu tak berlangsung lama. Juli lalu semua atlet kembali berkumpul di puslatda. Untuk melakukan latihan tertutup.

Lokasi puslatda dibagi menjadi dua. Ada yang di lapangan THOR (Tot Heil Onzer Ribbenkast) di kompleks Gelora Pancasila Surabaya. Sedangkan sebagian lagi di lapangan Unesa. Kebetulan Nanda ditempatkan di Lapangan THOR yang berada di Pakis itu. Hanya saja, karena selama pandemi Lapangan THOR ditutup, mereka terpaksa berlatih di lapangan Kodam V Brawijaya. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari mess mereka.

Dibandingkan sebelum pandemi, aturan puslatda selama pandemi sangatlah ketat. Mereka harus menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang sangat ketat. Ketika pertama kali memasuki ke puslatda, masing-masing atlet melakukan swab antigen hingga PCR.

Selain itu, untuk meminimalisasi penularan Covid-19, atlet tidak diperbolehkan berinteraksi dengan orang luar. Bahkan orang tua pun tidak boleh berkunjung. Dia hanya bisa melepas rindu melalui telepon.

“Setiap hari alur jadwalnya latihan pagi, istirahat, latihan sore, dan istirahat,” ceritanya.

Latihan dilakukan mulai Senin hingga Jumat pagi. Sedangkan Sabtu dan Minggu libur. Namun, saat liburan itu mereka tak boleh jalan-jalan di luar kompleks puslatda.

Mengikuti Perpanas bukan yang pertama bagi Nanda yang juga ketua National Paralimpic Committe (NPC) Kota Kediri. Banyak perlombaan yang telah di ikutinya sejak duduk di bangku kelas lima SD Negeri Ngadirejo 1.

Awal keterlibatan Nanda di olahraga dari ketua NPC saat itu, Karmani. Pria ini yang mendatanginya dan menawari agar bersedia dibina jadi atlet paralimpic. Nanda pun langsung menyanggupi.

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Berbagai ajang, mulai dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional dia ikuti. Pada 2013 dia meraih medali emas di ajang ASEAN Youth Para Games 2013. Di tahun yang sama, di ajang ASEAN Para Games (APG) Myanmar ia memperoleh 2 perak dan 1 perunggu.

Dua tahun kemudian, di APG 2015 yang digelar di Singapura, prestasinya terus meningkat. Dengan sumbangan tiga medali emas di cabang lari 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Pada 2016 dia juga menghadiahi Jatim medali emas di ajang Perpanas XV di Bandung.

Kini, dia berharap agar banyak anak muda yang menerjuni olahraga ini. Sebagai upaya untuk melanjutkan kiprah para atlet disabilitas yang sudah pensiun karena usia. Beruntung, banyak atlet muda yang juga mewakili Kota Kediri. Mereka rata-rata berusia 20-an tahun. Seperti Ryan Arda Diarta di cabang atletik, Aziz Abdul Nur di cabang sepak bola, Inggita Prameswari cabang renang, dan Catur Suhartono di cabang catur.

“Dengan banyak atlet senior yang pensiun, jika tidak anak muda yang melanjutkan siapa lagi,” pungkasnya. (fud)