Penerima kompensasi terbanyak tak tertarik mobil baru dan memilih berinvestasi. Seperti desa miliarder di Tuban, Pundong hari-hari ini juga diserbu sales berbagai produk serta calo tanah.

 

ILHAM WANCOKO, Sleman

 

MENDADAK jadi miliarder tak lantas mengubah gaya hidup Istiningsih. Tidak ada mobil baru. Bersama sang suami, Margono, dia memilih menggunakan kompensasi lahannya yang terkena proyek jalan tol Jogja–Bawen untuk investasi.

”Saya sedang proses membangun klinik kesehatan dan apotek,” tutur Istiningsih.

Padahal, suami istri warga Desa Pundong, Kabupaten Sleman, Jogjakarta, itu merupakan penerima ganti rugi tertinggi. Mereka menerima Rp 12 miliar. Tapi, mobil yang mereka beli pun mobil bekas jenis Honda Freed. Itu pun karena mobil mereka sebelumnya dibeli kakak Istiningsih.

Pilihan mendirikan klinik dan apotek, kata Istiningsih, rasanya paling tepat di tengah pandemi yang belum tahu kapan berakhir ini. Apalagi, Istiningsih memiliki pengalaman kesulitan untuk mencari vitamin.

Ada dua lokasi yang akan dibangun klinik kesehatan dan apotek. Pertama, tentu di Desa Pundong, tempat asal mereka. Yang kedua di Purworejo, Jawa Tengah. ”Penentuan titik ini berdasar survei lho,” ujar ibu Martha Wijaya dan Khen Swara Wijayaningrum itu.

Selain klinik dan apotek, atas masukan anaknya, Martha Wijaya, yang seorang entrepreneur, Istiningsih juga sedang proses membeli tanah seluas 1 hektare di Purworejo. Tanah itu akan dikavling menjadi sekitar 97 titik. ”Rencananya kami jual tanah kavling itu. Belum sampai membangun perumahan ya,” jelasnya.

Setidaknya ada tiga titik lokasi yang menjadi incaran Istiningsih. Bila satu lokasi tidak bisa deal, ada dua lokasi lain yang masih menjadi cadangan. ”Saat ini masih negosiasi di harga kisaran Rp 1 miliar,” terangnya kepada Jawa Pos kemarin (6/9).

Dalam hitungannya, investasi tanah kavling ini setidaknya akan mendatangkan keuntungan 100 persen dalam dua tahun. Bila modalnya Rp 1 miliar, dalam dua tahun akan menjadi Rp 2 miliar.

Namun, kalau ternyata tidak laku, Istiningsih memiliki pandangan sendiri. Risiko investasi tanah itu sangat kecil. Setiap tahun pasti harga tanah naik. Tidak pernah harga tanah turun. ”Tidak seperti mobil yang selalu turun tiap tahun,” ujarnya.

Rencana lain, membangun sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sejumlah kios. Dia menceritakan, di tanah kompensasi lahan tol itu sebenarnya terdapat kios dan bangunan PAUD. ”Maka, kami juga mencari lahan gantinya,” paparnya.

Sebagai rasa syukur, ternyata Istiningsih juga mengeluarkan zakat 2,5 persen dari kompensasi lahan tol tersebut. Dia mengatakan, keluarganya membagikan setidaknya Rp 500 ribu untuk tiap keluarga di tiap RT. ”Ini untuk membagi kebahagiaan,” urainya.

Istiningsih merupakan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Adapun sang suami, Margono, adalah pensiunan dosen Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Magelang.

Pendidikan dua anaknya juga tinggi. Martha, anak pertama, meraih gelar magister. Lalu, anak kedua, Khen Swara, merupakan dokter gigi.

Menurut dia, keluarganya memang tidak pernah tebersit keinginan berfoya-foya. Baik untuk membeli mobil atau barang yang nilainya turun tiap tahun dari kompensasi yang mereka terima.

”Saya harap warga lain juga berinvestasi. Tidak menghamburkan uang,” jelasnya.

Taksiran Kepala Dukuh Pundong III Pekik Basuki, setidaknya ada tiga atau empat warga Pundong III yang membeli mobil baru. Ada yang membeli tiga mobil sekaligus, ada pula yang hanya satu mobil. Tapi, itu baru perkiraan. Angka pastinya bisa jadi lebih tinggi.

Fenomena memborong mobil itu muncul karena dompet warga yang mendadak tebal. Namun, ada pemicu lainnya yang tidak bisa dikesampingkan, yakni serbuan sales kendaraan. Sales itu nongkrong tiap hari di tiap pojok Desa Pundong.

Fenomena yang sama juga terjadi Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Februari lalu. Desa tersebut bak magnet yang menarik para sales mobil, perumahan, dan berbagai produk karena dipenuhi miliarder dampak kompensasi proyek kilang minyak.

Misalnya, yang terlihat Sabtu (4/9) pekan lalu saat Jawa Pos ke Pundong. Sekitar 30 meter dari rumah Pekik, tampak sebuah mobil pikap yang di atasnya berjejer dua sepeda motor baru dengan gaya retro klasik dan sebuah motor trail. Seorang sales dengan agresif menawari warga untuk membeli sepeda motor tersebut.

”Ya, kami ke sini karena warga banyak dapat ganti rugi. Kami ke sini siapa tahu mau beli sepeda motor,” ujar si sales. Pekik Basuki menjelaskan, bukan hanya sales kendaraan, calo tanah juga kerap menyatroni warga desa. Kadang rombongan datang untuk menawarkan beberapa lokasi tanah. ”Tapi, yang paling menjadi keluhan itu agen asuransi,” paparnya.

Dia mengatakan, warga mengeluh karena agen asuransi itu sering berlama-lama bertamu. Memaparkan berbagai keunggulan asuransi.

Sayangnya, mereka kehilangan rasa sungkan hingga tidak menghiraukan kenyamanan pemilik rumah. ”Berjam-jam kalau diprospek,” tuturnya. Sangat mungkin sales kendaraan, calo tanah, dan agen asuransi masih terus berkeliling di Desa Pundong dalam beberapa waktu ke depan. Barangkali inilah salah satu risiko orang kaya. (*/c19/ttg)