Sejauh ini ratusan jembatan di pelosok tanah air mereka bangun dan tak akan berhenti sekalipun telah mencapai seribu. Bermula dari puncak tertinggi di Indonesia.

 

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta, Jawa Pos

 

POTRET sepasang kakek dan nenek langsung menyita pandangan. Tampak keduanya tengah menyeberang sungai. Tanpa jembatan. Dalam foto yang dikirim melalui aplikasi percakapan WhatsApp itu, mereka menerjang air yang tingginya nyaris menyentuh pinggang masing-masing. Begitu menyentuh.

Dan, kata Tedi Ixdiana, sebelum Vertical Rescue Indonesia membangun jembatan gantung di desa di Sulawesi Tengah tempat kakek-nenek itu berada, begitu sehari-hari. Maksudnya, demikianlah keseharian perjuangan warga setempat untuk bisa melewati sungai.

Tentu tak sedikit yang sudah tahu bahwa masih banyak daerah tertinggal di Indonesia. Namun, beda cerita bila kepala dan kedua pasang mata melihat langsung wujud ketertinggalan itu.

Apalagi jika menyaksikan anak-anak berseragam putih merah harus berjibaku melawan derasnya sungai untuk bisa sampai ke sekolah. Setiap hari. Ketika berangkat maupun pulang belajar. ”Bukan sekali-dua kali saya menyaksikan realitas tersebut,” kata komandan Vertical Rescue itu kepada Jawa Pos dalam percakapan melalui telepon belum lama ini.

Sejatinya kami ingin bertemu muka. Namun, pembatasan-pembatasan yang diterapkan pemerintah menutup peluang pertemuan itu. Selain itu, Tedi harus terus bergerak bersama kawan-kawannya di Vertical Rescue yang beranggota para pemanjat tebing berpengalaman. Saat obrolan kami berlangsung, 129 jembatan gantung sudah dibangun Vertical Rescue Indonesia. Dari wilayah paling barat sampai paling timur tanah air. ”Di 15 provinsi di Indonesia,” ujar Tedi.

Semuanya bermula pada 2015 di Carstensz Pyramid. Puncak terjangkung di Indonesia, satu di antara tujuh daratan tertinggi di bumi. Di sana Vertical Rescue Indonesia membangun jembatan gantung pertama. Dari Indonesia untuk Dunia. Begitu banyak orang yang menyebut jembatan tersebut.

Sebelum jembatan itu ada, untuk mencapai Puncak Carstensz Pyramid, pendaki dari berbagai belahan dunia harus bersusah payah menyeberangi jurang di antara tebing terjal. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Bahkan, tak sedikit yang gugur. Pada Agustus 2015, lewat pendakian bersama Kodam XVII/Cenderawasih, Vertical Rescue Indonesia membangun jembatan gantung. Persisnya berupa jembatan tali baja pertama di salah satu pucuk dunia.

Tedi dan timnya tak menyangka, setelah menuntaskan pembangunan jembatan di Carstensz Pyramid, perjalanan Vertical Rescue Indonesia membangun jembatan akan bertambah panjang. Sejak awal, organisasi itu berfokus membantu penyelamatan di medan-medan vertikal dan berbahaya.

Berkat kiprah luar biasa mereka, nama Vertical Rescue harum di mana-mana. Namun, mereka tak lantas berhenti membantu sesama. Lewat Ekspedisi Seribu Jembatan Gantung untuk Indonesia, mereka berusaha lebih banyak mengulurkan tangan.

 

Tedi ingat betul, jembatan gantung kedua yang dibangun timnya berada di Garut, Jawa Barat. Pembangunannya dilaksanakan tak lama setelah banjir bandang menerjang Kota Dodol. ”Di salah satu desa di Garut, ada masyarakat yang meminta dibuatkan jembatan gantung,” ucapnya.

Permohonan diajukan karena masyarakat desa tersebut mengetahui Vertical Rescue Indonesia mampu membangun jembatan gantung di Carstensz Pyramid. Tempat yang secara nalar sangat tak memungkinkan dijadikan lokasi pembangunan jembatan. Medan berat dan berbahaya, suhu ekstrem, serta jurang dalam.

Karena itu, masyarakat korban banjir bandang di Garut berkeyakinan Tedi dan timnya bisa membangun jembatan gantung di desa mereka. Untuk menyambung kembali jalan yang terputus dihantam amukan Sungai Cimanuk.

Keyakinan itu pun terjawab. Setelah tiga bulan, jembatan gantung terbangun. Beda dengan jembatan gantung di Carstensz Pyramid yang pijakannya hanya tiga utas tali baja, jembatan gantung di Garut dibuat dengan pijakan yang lebih mudah dilalui masyarakat. ”Dan, akhirnya masyarakat bisa menyeberang,” katanya.

Kepuasan setelah membantu masyarakat di Garut dirasakan berbeda oleh Tedi dan timnya. Ada perasaan lega lantaran jembatan yang mereka bangun menjadi solusi bagi masyarakat terdampak bencana.

Sejak itu, permohonan bantuan dari berbagai kelompok masyarakat terus berdatangan. Mereka meminta Vertical Rescue Indonesia membangun lebih banyak jembatan gantung. Khususnya di daerah-daerah yang jauh dari kota. Yang masyarakatnya jarang terpotret kamera.

Permohonan datang bertubi-tubi. Lewat media sosial, surat elektronik, surat fisik, sampai permohonan yang dikirimkan secara personal kepada Tedi dan timnya. ”Dari situlah, Vertical Rescue menggagas Ekspedisi Seribu Jembatan Gantung untuk Indonesia,” jelasnya. Dasar pelaksanaan ekspedisi itu klir. Banyak yang meminta. Banyak yang butuh bantuan.

Dan, Vertical Rescue Indonesia yang pernah terlibat dalam evakuasi kecelakaan Sukhoi punya kapasitas untuk membuat lebih banyak jembatan gantung. Secara keseluruhan, jejaring mereka di berbagai provinsi di tanah air mencapai 21 ribu orang. Seluruhnya potensial untuk digerakkan membantu ekspedisi tersebut. Apalagi, Vertical Rescue Indonesia dibantu TNI-Polri dan instansi lainnya.

 

Dari jembatan pertama, kedua, dan ketiga, sampai kini sudah 129 jembatan gantung mereka kerjakan. Dari jembatan ke jembatan, dari sungai ke sungai, Tedi mengakui bahwa selalu ada cerita di baliknya. Kisah yang kenyataannya jauh dari bayangan ketika melihat potret masyarakat menyeberang sungai.

Dari mereka, Tedi mendengar langsung berita duka. Salah satunya, pelajar yang berangkat sekolah, tetapi tak kunjung pulang hingga malam karena tenggelam terseret arus hingga meninggal. ”Ada juga seorang bapak yang kehilangan istrinya ketika berangkat ke pasar. Ada pula seorang ibu yang kehilangan suaminya,” ungkap dia.

Cerita itu membuat Tedi semakin yakin, pembangunan jembatan gantung harus terus dilakukan. Sebanyak-banyaknya. Semampu dia dan timnya kerjakan. Bila seratus tak cukup, seribu jembatan akan mereka bangun. ”Dan, setelah kami menyelesaikan jembatan ke-1.000, ekspedisi ini tak lantas berakhir,” tutur pria yang juga dikenal sebagai pemanjat tebing andal tersebut.

Dia memastikan, setelah membangun seribu jembatan, Vertical Rescue Indonesia akan meneruskan ekspedisi tersebut. Selama masih ada yang butuh bantuan, mereka akan membantu.

Meski tak mudah, Tedi yakin ikhtiar yang dilakukannya bersama tim akan selalu mendapat dukungan banyak pihak. Buktinya, dari satu jembatan ke jembatan lain, mereka tak pernah terkendala secara teknis. Malahan, mereka lebih sering dimudahkan menuntaskan tugas.

Pernah, dalam setengah hari mereka menuntaskan pembangunan jembatan. Pagi pembangunan dimulai, lalu saat sore jembatan sudah bisa digunakan masyarakat. ”Jembatan sepanjang 25 meter di Sungai Citali di Kabupaten Cianjur dibangun hanya 12 jam,” ujarnya memberi contoh. Pernah pula mereka butuh waktu sampai dua pekan. Yakni, ketika harus membentang jembatan gantung sepanjang 170 meter. Sisanya paling sering dikerjakan dalam 3–5 hari.

Semua jembatan gantung yang dibuat Vertical Rescue Indonesia tak menggunakan beton. Material yang mereka pakai adalah tali baja. Dengan papan-papan kayu sebagai pijakan. Jembatan gantung buatan mereka tentu butuh perawatan. Namun, perawatannya juga tak repot. Masyarakat bisa melakukannya secara swadaya.

Bila urusan teknis tak pernah bermasalah, lain hal dengan urusan pendanaan. Kendala yang paling sering dialami Vertical Rescue Indonesia selama Ekspedisi Seribu Jembatan Gantung untuk Indonesia justru berkaitan dengan dana. ”Kami masih terkendala pengumpulan donasi. Sebab, dalam sebulan, kami bisa membangun dua sampai empat jembatan,” ungkap Tedi.

Karena itu pula, pengumpulan donasi sering kali berkejaran dengan waktu. Sebab, mereka harus cepat berpindah dari satu lokasi pembangunan jembatan ke lokasi lain.

Khusus pengumpulan dana, Arief Budiman yang juga personel Vertical Rescue Indonesia menyatakan bahwa pihaknya lebih sering menggalang bantuan melalui media sosial. ”Kalau ada pembangunan di satu titik, kami infokan ke teman-teman alumnus Vertical Rescue Indonesia,” jelasnya.

Dari sana, informasi kemudian disebar lagi sampai donasi terkumpul dan pembangunan bisa dilaksanakan. Untuk setiap jembatan yang dibangun, Vertical Rescue Indonesia sama sekali tak membebankan biaya kepada masyarakat. Seluruh pembiayaan menggunakan donasi. Karena itu, mereka berharap semakin banyak yang ikut urunan untuk membangun jembatan gantung. Siapa pun yang ingin membantu, mereka terbuka. Sebab, masih banyak yang butuh jembatan gantung. Bukan sekadar untuk menyeberang sungai. Melainkan untuk mengantar anak-anak mereka menggapai mimpi. Menyambungkan asa yang terputus di tengah jalan.

Seperti yang disaksikan langsung oleh Tedi, Arief, dan tim Vertical Rescue Indonesia lainnya. Saat mereka membangun jembatan di perbatasan Indonesia-Timor Leste, daerah terpencil di Maluku, pedalaman Nusa Tenggara Timur, hingga perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

Ada masyarakat yang 12 tahun hanya bisa menyeberang saat sungai kering. Ada masyarakat yang terisolasi ketika sungai meluap. Setiap satu jembatan selesai dibangun, gurat-gurat bahagia tampak. Dari para ibu, dari bapak-bapak, kakek dan nenek, serta anak-anak yang terselamatkan masa depannya berkat bentangan jembatan gantung tersebut. (*/c14/ttg)