Tingginya harga komoditas batu bara saat ini berpotensi munculnya fenomena commodity supercycle yang akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

 

SAMARINDA–Harga batu bara acuan (HBA) kini mencapai USD 130,99 per ton. Tingginya HBA tentunya diharapkan dapat mendongkrak kinerja ekspor Kaltim, sehingga berujung pada terus membaiknya pemulihan ekonomi.

Namun, perlu diingat, hal ini sudah sering terjadi. HBA biasanya akan kembali mengalami tren penurunan. Dengan demikian, pelaku usaha "emas hitam" jangan terlena terhadap fluktuasi ini.

"Sebaiknya tetap harus kita fokuskan pada hilirisasi, jangan terus-terusan menjual mentah," kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono.

Untuk diketahui, HBA sempat meninggi pada Februari 2021 dengan besaran USD 127,05 per ton. Kemudian melandai pada Februari–April 2021, lalu kenaikan beruntun terjadi pada periode Mei–Juli 2021 hingga menyentuh angka USD 115,35 per ton pada Juli 2021. Kenaikan terus konsisten hingga Agustus 2021 dengan kembali mencatatkan rekor tertinggi baru.

Menurut Tutuk, tingginya harga batu bara tentunya akan berpengaruh besar terhadap ekspor daerah ini. Sebab, kinerja ekspor Kaltim juga tercatat memiliki elastisitas yang tinggi, terhadap harga yakni mencapai 0,64. Hal ini berarti jika terdapat kenaikan 1 persen HBA, maka akan meningkatkan nilai ekspor Kaltim sebesar 0,64 persen, dan sebaliknya.

Namun, ia mengingatkan, tingginya harga komoditas saat ini berpotensi munculnya fenomena commodity supercycle, yang akan berlangsung dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan pengamatannya, commodity supercycle adalah sebuah siklus di mana harga komoditas yang tengah diperdagangkan berada di atas tren harga jangka panjangnya.

Hal ini berpotensi akan kembali mendorong perekonomian Kaltim tumbuh lebih tinggi, dan kembali kepada masa kejayaan batu bara pada 2005–2011. Tapi tingginya harga jual batu bara tentunya tidak tanpa risiko. Akan ada beberapa tantangan.

Hal itu mengacu kepada pengalaman era commodity boom pada 2000-an, di mana relatif tingginya harga komoditas, mendorong banyak bermunculan tambang-tambang baru di Kaltim karena ingin memanfaatkan momen tingginya harga tersebut.

Inilah yang menjadi tantangan bagi pemerintah pusat untuk bisa menyeleksi izin banyak tambang yang nantinya berpotensi mengajukan izin ketika momen commodity supercycle terjadi.

“Harapannya kegiatan pertambangan bisa dilakukan secara govern dan berwawasan lingkungan,” ungkapnya.

Selain itu, adanya momen harga yang tinggi dikhawatirkan akan semakin membatasi laju pengembangan hilirisasi batu bara di Kaltim. Terutama karena risiko dan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan proyek hilirisasi, jauh lebih tinggi dibandingkan proses penambangan existing yang tidak banyak membutuhkan biaya, dan teknologi tinggi.

Sehingga terlalu tingginya harga juga membuat pelaku usaha memilih untuk menjual langsung, dibandingkan melakukan hilirisasi. “Harga yang tinggi bisa menurunkan appetite untuk melakukan hilirisasi,” pungkasnya. (ctr/tom/k8)