Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Itulah ungkapan yang pas untuk Etty Dimedjo. Sang ibu yang berprofesi sebagai tukang jahit, membuat Etty muda penasaran dan melanjutkan pendidikan ke jurusan Tata Busana di salah satu SMK di Solo. Kini, ratusan pakaian indah lahir dari tangannya.

 

SELAIN dorongan dari orangtua, kemauan itu juga datang dari diri Etty. Setelah menempuh pendidikan formal selama tiga tahun di Solo, pada 2008 dia dan sekeluarga pindah ke Samarinda. Mengikuti sang ayah karena tuntutan pekerjaan.

Dia pun melamar di salah satu butik. Dia memilih kain, menggambar pola hingga menentukan jenis beads (manik-manik). Sang owner percaya pada talenta Etty muda.

“Namun karena satu dan lain hal, hanya sempat sekitar setahun di situ. Kemudian pada 2009, memutuskan untuk membuka brand atau usaha sendiri. Berbekal pengalaman waktu SMK dan waktu kerja di butik itu,” beber perempuan kelahiran 1992 itu. Lahirlah Elit Atelier yang kini berlokasi di Perumahan Pinang Mas, Sempaja Samarinda.

Kala masih menjadi karyawan, Etty yang sedang membeli kain bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi klien pertamanya. “Jadi lagi sama-sama beli kain, tiba-tiba beliau tanya aku kerja dimana. Mengobrol banyak lah, beliau pengin buat baju untuk perpisahan. Karena beliau guru SMP,” ungkapnya.

Bahkan hingga kini menjalin komunikasi baik. Menjadi salah satu saksi perjalanan usahanya sebagai desainer pakaian. “Jadi kalau misal ketemu, kadang ibunya suka bilang, ingat enggak gimana dulu? Jadi suka terharu. Dan alhamdulillah sampai sekarang, ibunya selalu buat baju sama aku,” tuturnya.

Dalam berbisnis, Etty ingat benar pesan salah satu perancang busana terkemuka Indonesia yakni Anne Avantie. “Beliau juga salah satu mentor aku waktu sekolah dulu. Dan berkesempatan diundang ke Jakarta dalam salah satu shownya. Ketemu langsung, beliau berpesan kalau kualitas itu adalah utama. Pakaian yang aku buat, itu adalah karya seni. Jadi jangan mikir untuk dapat untung dulu, tapi bagaimana kualitas itu,” jelasnya lalu tersenyum.

Selain melayani jasa rancang busana untuk pesta, dia juga membuat gaun pernikahan. Mulai range harga Rp 500 ribu untuk pakaian pesta sederhana, hingga sesuai request klien Rp 22 juta.

“Semua tergantung pesanan. Kami kan jasa, jadi menyesuaikan kemauan klien. Selain model pakaiannya, juga jenis kain, pemilihan beads apakah yang kristal atau Swarovski. Bisa juga misal klien punya budget sekian, bisa dapat baju yang bagaimana,” ungkapnya.

Nama Etty di kalangan desainer Kalimantan Timur sudah cukup diakui. Termasuk beberapa kali digandeng pemerintah daerah (pemda) untuk mengikuti peragaan busana. Salah satunya Pemda Kutai Barat. Memboyong Etty ke Jogjakarta hingga Malang, membawakan rancangan busana  berbahan ulap doyo.

Kini dia memiliki sedikitnya sembilan karyawan. Terbagi dalam beberapa divisi seperti menjahit, payet hingga quality control. “Untuk pola dan potong kain, masih dari tanganku sendiri. Jadi selain galeri di sini, juga ada workshop di daerah Bengkuring. Semua mesin aku di sana,” bebernya. (rdm)