PEREMPUAN asal Kota Bangun, Kutai Kartanegara ini tertarik mengikuti Kampus Mengajar karena ajakan teman. Tidak ada kegiatan selain menyusun skripsi, sehingga Khusnul Khotimah memutuskan untuk melakukan pengabdian.

Selain itu, dia terkenal aktif berorganisasi. Khusnul salah satu pengurus Himpunan Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Mulawarman (Unmul).

Kala itu, dia memasukkan alamat indekos yakni di Banggeris, Samarinda. Setelah melewati rangkaian seleksi berkas dan tes kebangsaan, namanya dinyatakan lolos seleksi untuk penempatan di SD 010 Sambutan Samarinda.

Sebelum penempatan, seluruh mahasiswa yang menjadi peserta Kampus Mengajar mengikuti pembekalan daring selama seminggu. Di antaranya, Pedagogi Sekolah Dasar (SD), Konsep Pembelajaran Jarak Jauh, Strategi Kreatif Pembelajaran Luring dan Daring, Pembelajaran Literasi dan Numerasi, Profil Pelajar Pancasila, hingga Perlindungan Anak.

Setelah itu, mereka bersilaturahmi ke Dinas Pendidikan Kota. Sekaligus bertemu dosen pendamping lapangan (DPL). Diungkapkan Khusnul, program Kampus Mengajar tidak hanya merekrut mahasiswa, melainkan juga dosen.

“Jadi sistemnya kurang lebih sama. Ada tujuh mahasiswa termasuk saya yang penempatan di sana. Selain dari Unmul, juga ada dari STMIK Widya Cipta Dharma dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT),” beber perempuan kelahiran 1998 itu.

Berlatar sebagai mahasiswa pendidikan, bukan hal sulit untuk Khusnul dalam mengajar. Meski begitu, dia cukup tertantang. Sebab, pendidikannya adalah Pendidikan Ekonomi, bukan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

“Jadi waktu KKN dan PPL (pendidikan praktik lapangan) dulu, saya mengajar di SMA. Untuk mengajar SD, ya harus lebih sabar lagi dan aktif untuk mengatur anak-anaknya,” ungkapnya.

Mengajar selama pandemi, dia bersyukur sekolah penempatannya termasuk dalam Sekolah Tangguh Covid-19 (STC). Mendapat izin resmi dari pemerintah melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM), sehingga penyampaian materi lebih maksimal ketimbang belajar online.

Dan tentu melalui proses panjang sebelum diperbolehkan belajar tatap muka. “Jadi, waktu ke sana pertama kali, memang lagi simulasi. Nah, seminggu pertama itu kami simulasi dulu. Karena kan kapasitas kelas dan jenjang kelas dibagi. Jadi dari kelas 1 sampai 6 itu masuknya seperti sistem sif,” beber Khusnul.

Aturan protokol kesehatan dijaga betul. Hingga tinjauan dari berbagai instansi terkait. Mulai Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga lembaga terkait. Memastikan jaminan aman nyaman dalam proses KBM, baik bagi siswa maupun pihak sekolah.

Dijelaskan, sasaran SD untuk program Kampus Mengajar adalah yang akreditasi C, sehingga para mahasiswa diiharapkan dapat hadir sebagai bagian dari penguatan literasi dan numerasi. Menjadi mitra guru dalam melakukan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran.

Selain benefit konversi hasil belajar sebanyak 12 SKS, juga ada uang saku Rp 1,2 juta per bulan selama tiga bulan. Kemudian terdapat potongan uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp 2,4 juta.

“Dan itu cairnya setiap bulan. Nah, kami ada laporan yang mesti diisi berkala di akun Merdeka Belajar – Kampus Merdeka. Mulai laporan harian, mingguan dan bulanan. Kalau sudah selesai laporan bulanan, baru bisa cair uang sakunya,” jelas Khusnul.

Sementara untuk pemotongan UKT, berkoordinasi dengan pihak kampus. Dijelaskan bahwa setiap mahasiswa memiliki besaran UKT berbeda. “Misalnya ada yang UKT-nya Rp 3 juta karena sudah dibayarkan Rp 2,4 juta dari program itu, mahasiswa sisa bayar Rp 600 ribu. Kalau yang UKT-nya di bawah Rp 2,4 juta itu, enggak ada pengembalian uang tapi uangnya dikonversi ke kegiatan lain,” lanjutnya.

Adapun penugasan yang mesti dilaporkan yakni membantu pembelajaran SD, adaptasi teknologi, membantu administrasi dan manajerial SD, serta refleksi dan pelaporan. (rdm/tom/k16)