TIDAK ada yang ingin kehilangan orang tercinta. Terlebih pasangan yang telah menemani perjalanan rumah tangganya yang indah. Sudah banyak cerita para tenaga kesehatan harus kehilangan suami ataupun istri mereka. Covid-19 benar-benar jahat. Cerita itu bukan rekayasa.

Deddy Hermawan merupakan seorang perawat kamar operasi di Rumah Sakit (RS) dr R Hardjanto Balikpapan. Sementara istrinya, Miliyana, karyawan sebuah bank di Kota Minyak. Mereka pasangan bahagia yang dikarunia dua anak. Namun, kebahagiaan itu terenggut ketika istrinya mesti berpulang ke hadapan Tuhan karena Covid-19. Di usia 42 tahun. 

Ceritanya bermula ketika memeriksakan diri pada 29 Juli lalu. Diketahui mereka sekeluarga terkonfirmasi positif, kemudian menjalani isolasi di rumah sakit naungan Kodam VI/Mulawarman tersebut. Sesak napas yang dialami istrinya terus memburuk, sehingga dipindahkan ke intensive care unit (ICU).

“Karumkit (kepala rumah sakit) mengerahkan dan membantu saya agar istri mendapatkan perawatan yang terbaik. Namun, memang kondisi istri sangat tidak baik. Bahkan untuk lepas masker oksigen sebentar saja buat makan atau minum, saturasinya langsung turun drastis. Jadi tidak bisa lepas oksigen,” ucapnya.

Selama perawatan, istrinya sempat menerima transfusi darah plasma sebanyak dua kantong. Saturasi rendah sempat naik, tapi tak lebih 70 persen. Dukungan pihak rumah sakit tempatnya bekerja sangat dirasakan. Tetapi meski telah diberikan layanan terbaik, obat hingga terapi oksigen kondisi sang istri tak kunjung membaik.

Memiliki comorbid seperti tekanan dan kencing manis memang bisa jadi penyebab parahnya kondisi sang istri. Kemudian disarankan pemasangan intubasi, persiapan sudah dilakukan namun Tuhan berkehendak lain. Pada 9 Agustus pukul 14.40 Wita, Miliyana mengembuskan napas terakhir.

“Selama dirawat, istri minta selalu ditemani, bersikap manja, minta dipeluk, punggungnya selalu saya gosok minyak kayu putih. Kadang juga minta es atau minuman yang dingin-dingin. Tidak ada permintaan yang aneh dan macam-macam. Saya dampingi dia dari awal hingga akhir karena saat itu saya juga positif,” ungkap Deddy dengan wajah serta suara yang berusaha tegar itu.

Rasa sakit kehilangan orang tercinta, juga dirasakan kedua anaknya. Sampai saat ini, anaknya masih suka menanyakan sang istri. Terkadang dia juga menemukan buah hatinya memeluk foto almarhum sambil terlelap tidur.

Dia sempat merutuk diri sendiri. Menganggap dirinya penyebab istrinya meninggal. Perasaan bersalah pun menggelayut. Namun, kala melihat wajah sang anak, dia tahu ada tanggung jawab dan impiannya dengan sang istri yang harus diwujudkan. Menyekolahkan anak-anaknya dan memberikan kehidupan yang terbaik.

“Saya sangat berterima kasih kepada Pangdam Kodam VI/Mulawarman, kepala RS Dr R Hardjanto, dokter, perawat, keluarga, dan orang yang telah memberikan donor plasmanya untuk istri. Serta bapak KSAD (kepala Staf TNI Angkatan Darat) Jenderal Andika Perkasa yang juga memberikan dukungan pada saya dan keluarga,” imbuhnya. (rom/k16)