Peliput: Ulil Mu’awanah

 

Kemerdekaan selalu identik dengan para pejuang dan pahlawan. Pada masa lampau mereka bekerja keras melawan penjajah. Kini pada era modern, para tenaga medis berjuang melawan Covid-19. Tentu mereka ingin menang. Berharap negeri ini “merdeka” dari corona.

 

HARAPAN tenaga medis, juga harapan bagi warga. Mereka ingin segera mengakhiri pagebluk virus asal Wuhan, Tiongkok, itu. Dengan begitu, dunia kembali sehat. Warga pun aman menghirup udara segar seperti sediakala.

Letda Ckm (K) dr Dwi Arum Agustiastuti, satu di antara sekian tenaga medis di Kaltim yang ikut berjuang memutus rantai persebaran Covid-19. Bertugas sebagai dokter umum di Rumah Sakit (RS) dr R Hardjanto Balikpapan. Sebelumnya, dia sempat tiga bulan pada 2020 bertugas di Wisma Atlet Jakarta.

Walaupun cakupan kamar di Wisma Atlet Jakarta lebih banyak, pemandangan yang tak terelakkan ialah antrean ambulans begitu panjang. Pasien memenuhi seluruh koridor. Melihat langsung orang-orang mengembuskan napas terakhir hanya selang beberapa menit ataupun jam.

Pengalaman itu benar-benar terjadi. “Kondisi saat itu benar-benar padat, di wisma atlet semua terjadi begitu saja dan cepat,” tutur Arum kepada awak media ketika ditemui di RS dr R Hardjanto Balikpapan, Senin (16/8).

Ada pasien yang datang masih bercerita tapi tiba-tiba sesak sehingga meninggal. Pernah pula ada kasus di mana lima orang meninggal dunia dalam sehari.

Setelah tiga bulan, dia pun kembali ke Balikpapan. Kondisinya saat itu kebutuhan oksigen dan tempat tidur begitu terbatas. Akan tetapi, sekarang mulai stabil. Naik-turunnya kasus masih terjadi.

Terlebih dengan varian Covid-19 baru, yakni Delta harus lebih waswas. Sebagai mantan pasien yang pernah terpapar Covid-19, tentu perawatan selama 14 hari yang dilalui bukanlah hal menyenangkan. Sang ibunya, Sri Mulyani juga sempat mengalami hal serupa.

Sudah dua kali Lebaran, dia tak bisa berkumpul bersama keluarganya. Dara kelahiran Depok, 26 Agustus 1990 itu rindu bisa berkumpul dengan keluarga. Dia pun hanya bisa berdoa, agar pandemi segera berakhir. 

Sedih melihat masih ada masyarakat yang tidak disiplin protokol kesehatan. Acuh tak acuh, bersikap egois. Bukan hanya enggan mengenakan masker, tetapi saat bergejala pun mereka dengan santai bertemu orang ataupun kumpul-kumpul. Itu masih saja terjadi.

“Padahal daya tahan tubuh masing-masing orang beda. Jika memang muncul gejala segera isolasi dan periksakan diri agar mendapatkan penangan secepatnya. Stigma masyarakat soal Covid-19 pun masih ada saja yang kurang baik. Pasien tidak perlu sampai dirundung,” ucap lulusan Universitas Kristen Indonesia angkatan 2008 itu.

Disematkan sebagai garda terdepan, menurut dia, setiap orang berperan akan itu. Bagaimana menjaga protokol kesehatan dan mampu membantu satu sama lain. Di tengah rasa sedih akan kabar banyak tenaga medis yang tumbang hingga meninggal dunia, dia menyebut, kebahagiaan para tim medis ialah melihat pasien yang dirawat bisa sembuh. 

“Garda terdepan itu adalah diri kita sendiri. Bila kita ingin merdeka melawan Covid-19. Dokter maupun perawat pun adalah manusia biasa. Terkadang perasaan sedih dan down itu juga kami alami. Tapi kami harus mampu menyemangati dan membahagiakan diri sendiri agar imunitas tak turun. Sebab, masih banyak orang lain memerlukan tenaga kita,” harap Arum. (rom/k16)