PADA awal-awal pandemi, Maret 2020, Mislul Khoiriyah baru melahirkan anak ketiga. Setelah mendapatkan cuti selama tiga bulan, dia harus bersiap menghadapi situasi rumah sakit yang berbeda. Dia salah seorang perawat yang bertugas menangani pasien Covid-19 di RSUD Beriman Balikpapan.

Perasaan takut harus bergelut dengan virus yang tak terlihat secara kasatmata, sempat dirasakan. Namun, mau bagaimana lagi. Mau tak mau harus dihadapi. Penambahan dan penurunan pasien bisa terjadi tiba-tiba. Terlebih beberapa bulan lalu, ketika Balikpapan dinyatakan zona merah, sehingga RSUD Beriman pun menambah tempat tidur dan ruangan khusus perawatan yang diperuntukkan bagi pasien yang terpapar Covid-19.

“Pasien kebanyakan berusia di atas 25 tahun. Sebelumnya sempat ada anak-anak juga. Kalau kondisi pasien yang dirawat sejauh ini stabil. Merawat pasien Covid-19 perlu ekstra kesabaran dan memperlakukannya layaknya keluarga. Sebab ada yang merasa tidak sabar memaksa ingin segera pulang, jadi perlu pendekatan,” ungkap Mislul.

Di Ruang Mahoni tempatnya bertugas terdapat 11 tempat tidur telah terisi penuh. Total ada 21 perawat, empat orang tengah menjalani isolasi, dan dua orang cuti melahirkan, sehingga cukup kewalahan. Para pekerja medis dibagi dalam tiga sif. Sif pertama pada pagi hari pukul 07.30–14.30 Wita, sif siang 14.30–21.30 Wita, dan sif malam 21.30–07.30 Wita.

“Dengan kasus varian Covid-19 baru seperti Delta itu berarti harus lebih waspada. Begitu pula dengan kami para perawat, saat istirahat tidak boleh makan berkumpul dan salat harus bergantian,” ucapnya.

Menurut dia, situasi sekarang tidak setinggi gelombang pertama. Pulang ke rumah jadi tidak terlalu larut, sehingga bisa membagi waktu dengan keluarga. Sang suami, Eko Suharsono paham akan situasinya, bahkan mengerjakan pekerjaan sang istri di rumah.

Sempat terkonfirmasi positif satu keluarga, suami dan ketiga anaknya menjalani isolasi mandiri di rumah. Keputusan menjalani isolasi mandiri karena pada Januari 2021 itu ruangan isolasi di rumah sakit telah penuh. Beruntung, ia dan keluarga bisa melewati semua. Setalah dinyatakan negatif dan sehat, dia kembali beraktivitas seperti biasa.

Di luar sana banyak kasus para medis terpapar positif bahkan sampai meninggal dunia. “Alhamdulillah di RSUD Beriman tidak ada yang meninggal dan jangan sampai. Tapi ada beberapa perawat yang sempat kerja bareng saat di tempat lain meninggal. Itu sempat buat saya bilang ke suami, kalau memang sudah waktunya dipanggil sama Tuhan saya siap. Karena mereka meninggal saat bekerja. Ketimbang kami tidak tahu, seperti apa kami meninggal nanti,” ujar Mislul.

“Pikiran seperti itu sempat ada. Tapi saya sadar sebagai ibu, istri sekaligus perawat masih banyak orang memerlukan tenaga saya. Apalagi dukungan positif sangat diberikan keluarga, rekan, dan tetangga. Tidak ada stigma negatif,” sambungnya. (rom/k16)