Sungai Primer Sebakung, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara (PPU), hingga kini masih potensial menyebabkan banjir di wilayah sekitar. Terlebih saat intensitas hujan tinggi lantaran sedimentasi berat dan gulma di sepanjang sungai.

 

DASAWARSA terakhir ini, kawasan yang kerap mengalami banjir akibat limpasan air dari sungai buatan tahun 1979 itu adalah desa terdekat. Seperti Tambong, Sebakung Jaya, Rawa Mulia, dan Sri Raharja, Kecamatan Babulu.

“Jalan satu-satunya untuk meminimalisir potensi banjir akibat luapan air dari Sungai Primer Sebakung, adalah dengan meningkatkan sarana dan prasarana irigasi yang sudah tersedia,” kata salah seorang tokoh warga Sebakung Jaya Budiono, Selasa (17/8).

Mantan sekretaris kecamatan (sekcam) Babulu itu mengungkapkan, awalnya nama-nama desa terdampak itu sebelumnya masuk kawasan rawa Sebakung, dan belasan tahun lalu area sekitar sungai telah dikembangkan oleh pemerintah dengan membuka program transmigrasi dari Jawa.

Aliran air Sungai Primer Sebakung dimanfaatkan untuk mengairi persawahan warga transmigrasi yang sebelumnya rawa-rawa, gambut, dan pasang-surut. Akibatnya, saat pasang-surut sungai dapat mencapai areal persawahan, sehingga saat musim hujan air yang melimpah tidak bisa langsung dibuang ke sungai. “Jadilah banjir besar,” kata Budiono.

Banjir juga akibat tidak ada saluran pembuangan air dari pekarangan warga yang menghubungkan ke sungai. Tidak hanya itu, saluran tersier kadangkala ditutup oleh warga untuk menghindari banjir, tetapi malah menimbulkan banjir jadi lebih parah. “Jadi, perlu sosialisasi kesadaran,” katanya.

Gunawan, warga lain menambahkan, banjir terparah tercatat pada 2019 lalu yang merendam ratusan hektare lahan pertanian masyarakat, termasuk puluhan rumah warga. Banjir itu akibat luapan air sungai yang tak dapat mengalir lancar karena endapan lumpur dan gulma.

Gunawan dan Budiono sepakat apabila pemerintah melakukan pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana irigasi, seperti pintu pembuangan air, mengeruk sedimentasi, membabat gulma secara kontinue, dan pembuatan siring. “Bila perlu dilakukan pelebaran dan pendalaman dasar sungai,” kata Gunawan.

Berdasarkan catatan media ini,  daerah yang masuk rawa Sebakung mempunyai luas keseluruhan 4.163,31 hektare. Meliputi Sebakung Jaya, Sri Raharja, Rawa Mulia, Kecamatan Babulu, PPU dan Desa Petiku, Kecamatan Longkali, Paser. Sumber air yang tertampung pada sungai ini, selain tadah hujan juga berasal dari Desa Petiku. Karena itu, apabila musim kemarau sungai tampak mengering.

Sementara itu, Sistem Informasi Sumber Daya Air (SISDA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda selaku pihak yang bertanggung jawab terpantau telah melakukan rehabilitasi jaringan reklamasi pada sistem buka-tutup irigasi di Sungai Primer Sebakung pada Februari 2021.

Hal itu diketahui koran ini melalui publikasi yang ditayangkan pada website https://sda.pu.go.id/ yang mereka kelola. (ari/kri)