Jatuhnya pemerintahan Afghanistan yang didukung AS di Kabul dinilai menjadi momen bersejarah bagi Tiongkok. Sebab, Presiden Xi Jinping telah lama berpendapat bahwa keamanan Asia harus dikelola oleh orang Asia. Berdasar itu, kerja sama antara Tiongkok dan Afghanistan bersama pemerintahan baru diprediksi akan menguat.

Reuters melaporkan Tiongkok kini menunjukkan bahwa mereka dapat membantu menstabilkan Afghanistan secara ekonomi sambil melindungi investasi di dekatnya.Tiongkok dinilai tetap menuai keamanan. Bahkan, ketika kehadiran militer Amerika bertujuan untuk mendorong stabilitas, Beijing membangun atau mendominasi inisiatif regional yang mengecualikan partisipasi AS. Seperti Organisasi Kerja Sama Shanghai dan Konferensi tentang Langkah-langkah Interaksi dan Membangun Kepercayaan di Asia.

Tiongkok selama ini menggelontorkan uang ke infrastruktur, di antaranya melewati jangkauan perbatasan Afghanistan, menghubungkan ke pasar di Eropa, dan pemasok energi di Timur Tengah. Giliran Tiongkok kini menampilkan dirinya sebagai kekuatan alternatif untuk pembangunan ekonomi dan keamanan di kawasan. Itu dapat memberikan bantuan, investasi, dan dukungan teknis.

Tiongkok dapat membantu Afghanistan mengeksploitasi cadangan mineralnya yang besar, senilai lebih dari USD 3 triliun berdasar perkiraan resmi pada tahun 2017. 

Taliban sendiri telah berjanji untuk menjauhkan diri dari urusan dalam negeri Tiongkok. Namun masih harus dilihat apakah Taliban dapat mengendalikan negara atau tidak.

Maklum saja, Presiden dan Wakil Presiden Afghanistan yang sah sudah hengkang dari negara itu. Jika mereka tidak bisa, kemungkinan Tiongkok akan turun tangan. (jpc)