Sanjaya Abdillah Karim

ASN BPS Kabupaten Penajam Paser Utara

 

 

Tepat 26 Juli lalu, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan (PPKM) memasuki babak baru. Ditandai dengan diperkenalkan PPKM Level 1 sampai 4, sebuah sebutan baru untuk menggantikan istilah terdahulunya, yaitu PPKM Darurat dan PPKM Mikro.

Pemberian label level tersebut menjelaskan kecukupan kapasitas respons sistem kesehatan, seperti kapasitas testing, tracing, dan treatment. Dimulai dari PPKM Level 1 yang mengindikasikan perkembangan kasus konfirmasi positif Covid-19 yang rendah hingga PPKM Level 4 yang mengindikasikan sebaliknya.

Dalam pengumuman Satgas Covid-19 nasional akhir Juli lalu, dari 37 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia yang ditetapkan sebagai daerah PPKM Level 4, Kaltim menyumbang delapan di antaranya.

Adalah Berau, Balikpapan, Bontang, Samarinda, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, dan Penajam Paser Utara, memiliki jumlah kasus harian positif yang tinggi dan cukup untuk membawa Kaltim menjadi penyandang kasus harian nomor enam (3,4%) secara nasional dan tertinggi di luar Jawa-Bali.

Tak sampai di situ, hingga pengumuman perpanjangan PPKM pada 2 Agustus dan 9 Agustus lalu, status Provinsi Kalimantan Timur masih “merah” perihal peningkatan kasus konfirmasi Covid-19. Hal ini mengindikasikan bahwa akhir Juli hingga awal Agustus, pengendalian pandemi di Kaltim belum dapat ditekan secara maksimal. 

Dilansir dari laman covid19.go.id hingga 9 Agustus, secara kumulatif ada 131.210 kasus terkonfirmasi yang di antaranya 18.982 jiwa dalam perawatan atau isolasi mandiri.

Ditambah lagi, hasil asesmen situasi Covid-19 menunjukkan kasus konfirmasi per 100 ribu penduduk per minggu mencapai 323,19. Angka yang tinggi tersebut secara langsung memengaruhi BOR (bed occupancy rate) rumah sakit di Kaltim yang ikut terangkat, yaitu 76,9 menjadi tertinggi di luar Jawa-Bali.

Tentu hal ini menjadi sorotan berbagai pihak, tak terkecuali Presiden Joko Widodo, yang bahkan memberi rapor merah pada lima provinsi luar Jawa-Bali terkait pertambahan kasus konfirmasi, termasuk Kaltim.

Bila dirunut lebih lama lagi peningkatan kasus Covid-19 telah dimulai sejak arus mudik Mei lalu, mobilitas penduduk Kaltim terpantau mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang diambil dari Google Mobility Index,dalam perbandingannya menggunakan baselineatau referensi nilai median pada periode 3 Januari hingga 6 Februari 2020, terjadi perubahan pola mobilitas penduduk Kaltim awal 2021 terhadap triwulan II 2021.

Perubahan terbesar terlihat pada mobilitas di tempat belanja kebutuhan sehari-hari, dimana pada triwulan I 2021 hanya tumbuh 1,16%, sedangkan pada triwulan II 2021 dapat mencapai 20,43%. Selain itu, terjadi penurunan persentase mobilitas pada lokasi rumah, dari 2,58% pada triwulan I menjadi -0,66% pada triwulan II 2021. Perubahan angka tersebut mengindikasikan adanya perubahan fenomena mobilitas penduduk menuju ke aktivitas perekonomian.

Geliat mobilitas penduduk secara umum tecermin pada peningkatan kegiatan ekonomi Kaltim. Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik Kaltim pada 5 Agustus lalu, ekonomi Kaltim pada triwulan II 2021 mengalami pertumbuhan 5,76% secara y-on-y (bila dibandingkan triwulan II 2020) dan positif 1,87% secara q-to-q(bila dibandingkan triwulan I 2021).

Bila dipilah lagi menurut kategori lapangan usaha, tiga lapangan usaha dengan pertumbuhan terbesar secara y-on-y berturut-turut adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,21%), transportasi dan pergudangan (17,04%), penyediaan akomodasi dan makan minum (12,19%). Bahkan lapangan usaha perdagangan juga mampu tumbuh positif sebesar 5,29%.

Berbeda hal dengan triwulan I lalu, pertumbuhan ekonomi masih mengalami kontraksi. Dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi -2,96% secara y-on-ydan -0,61% secara q-to-q.Walaupun demikian, masih terdapat beberapa sektor yang mampu tumbuh positif seiring dengan adaptasi normal baru di masyarakat.

Pertumbuhan secara tahunan masih didominasi sektor penunjang kebutuhan masyarakat selama masa pandemi, yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,93%), informasi dan komunikasi (8,75%) dan jasa pendidikan (8,07%). Namun, hal tersebut sedikit berbeda bila dilihat secara triwulanan, dominasi pertumbuhan ekonomi mulai bergeser. Sektor perdagangan mampu tumbuh 0,57%,sekaligus menjadi tiga besar sektor dengan pertumbuhan tertinggi secara q-to-q.Sebenarnya dari angka tersebut sudah mulai tergambar, awal mula geliat ekonomi dan kegiatan transaksi di kalangan masyarakat berkembang.

Dengan melihat data pertumbuhan ekonomi triwulan I dan II, data ketenagakerjaan, serta didukung dengan beberapa fenomena yang terjadi, yaitu Hari Idulfitri pada 13 Mei dan aktivitas persiapan memasuki tahun ajaran baru sekolah pada Juni, dirasa sudah cukup selaras. Ditambah lagi dengan adanya peningkatan pengeluaran belanja pemerintah berupa pemberian THR bagi PNS, TNI dan Polri serta berbagai stimulus bantuan terkait pandemi, memicu pergerakan uang beredar dan transaksi ekonomi di tengah masyarakat.

Aktivitas dan mobilitas yang tinggi di masyarakat tentunya harus dibarengi dengan kesadaran kesehatan yang tinggi pula. Hal ini tecermin pada pertumbuhan ekonomi sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang selalu menjadi terbesar setidaknya pada dua triwulan terakhir.

Sementara bila ditinjau dari tingkat vaksinasi, dilansir dari laman vaksin.kemkes.go.id, tercatat hingga 9 Agustus sebanyak 585.728 jiwa atau 20,38% telah vaksinasi dosis pertama, dan 356.901 jiwa atau 12,42% telah vaksinasi dosis kedua.

Tingkat vaksinasi tersebut berada di atas rata-rata nasional dan membawa Kaltim peringkat ke-8, baik pada vaksinasi dosis pertama maupun kedua.

Pada indikator kepatuhan memakai masker, per 9 Agustus terdapat tiga wilayah yang memiliki tingkat kepatuhan 76-90% yaitu Samarinda dan Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Paser, sedangkan kabupaten dan kota lainnya memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi yaitu 91-100%.

Pada indikator kedua, kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan, ada satu kabupaten dengan tingkat kepatuhan rendah antara 61-75%, yaitu Kabupaten Paser. Kota Samarinda, Balikpapan dan Kabupaten Kutai Timur tercatat memiliki tingkat kepatuhan 76-90%, serta kabupaten dan kota lainnya memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi yaitu 91-100%.

Meski tingginya mobilitas dan aktivitas penduduk pada triwulan II lalu harus dibayar mahal dengan peningkatan kasus harian konfirmasi covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, tentunya hal ini harus menjadi perhatian semua pihak.

Besar harapan kestabilan pengendalian covid-19 di triwulan III 2021 dapat segera terwujud, bukan semata-mata terpaku pada aspek kesehatan. Lebih dari itu, efek domino tingkat adaptasi aktivitas masyarakat yang lebih tinggi akan mampu mengembalikan momentum pemulihan ekonomi.  (luc/k16)