Mamalia langka pesut mahakam kembali ditemukan terkapar di perairan Sungai Mahakam. Tepatnya di Dusun Kuyung, Kecamatan Muara Wis, Jumat (13/8) lalu. Dilihat dari bentuk sirip punggungnya, pesut ini pernah teridentifikasi sekitar 2017 dan diberi nama Miu.

 

TENGGARONG -Untuk kali ketiga dalam tahun ini, pesut mahakam ditemukan mati. Temuan tersebut menjadi kekhawatiran bahwa mamalia ini semakin terancam punah. Menurut pihak Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), pesut satu ini pernah teridentifikasi medio 2017 hingga diberi nama Miu.

Berdasarkan hasil sejumlah penelitian RASI, Miu adalah seekor pesut betina yang pertama ditemukan 2017 dan belum masuk masa produktif, sehingga sangat disesali kematiannya. Pesut memang lambat bereproduksi dengan interval beranak antara 3,5 hingga lima tahun sekali.

Berdasarkan identifikasi oleh tim pantai pesut dari Muara Muntai dan Muara Wis, dari pesut berukuran panjang 1,9 meter itu ditemukan dua rengge (jaring ikan) di dalam lambung Miu. Rengge yang pertama agak tua dengan ukuran mata rengge 3,8 sentimeter, serta tidak ada ikan pada rengge.

Selanjutnya rengge kedua dengan ukuran mata rengge 6,5 sentimeter terdapat tiga ikan repang dan 2 udang.  Dari bentuk ikan yang ditemukan itu diperkirakan sudah tertangkap dua hari sebelum ditemukan.

Co-Fonder Yayasan Konservasi RASI Danielle Kreb menyatakan, terjadinya kematian pesut selalu diwaspadai saat musim kemarau, yang merupakan musim migrasi ikan kendia dan repang. Itu merupakan makanan favorit pesut.

“Ikan ini banyak dicari nelayan dengan pasang alat rengge, sehingga dikhawatirkan pesut dapat terkena rengge karena makan ikan dari rengge,” katanya.

Menurut dia, 40 alat akustik (pinger) sudah dipesan dari luar negeri untuk memancar gelombang suara ultrasonik. Selanjutnya, dipasang pada alat rengge akhir bulan ini.

“Pesut dapat menjauh dari rengge. Dalam studi yang dilakukan sebelumnya, ternyata pesut menjauh minimal 10 meter dan ikan besar malah tertarik ke rengge,” ungkapnya.

Dalam catatan RASI, Miu merupakan pesut mahakam ke-20 yang mati sejak awal 2018. Di 2018 merupakan angka kematian terbanyak, yakni 10 ekor. Pada 2019 mati lima ekor dan di 2020 mati dua.  Sementara Miu adalah pesut ketiga yang mati di 2021 ini.

Sebelumnya, pesut Jay ditemukan mengambang di sekitar dermaga Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun. Kini diperkirakan jumlah pesut mahakam yang masih ada sekitar 80-an. Angka kelahiran pesut mahakam selama beberapa tahun ini, antara empat hingga enam ekor. Jumlah tersebut diperoleh dari hasil penelitian di 2019 lalu. 

Dalam Undang-Undang 5/1990, pesut mahakam bahkan termasuk hewan yang dilindungi oleh pemerintah. Sejumlah negara memang tercatat menjadi lokasi habitat pesut air tawar. Di antaranya, Indonesia, Myanmar, dan Tiongkok. Namun, pesut di Sungai Mahakam memiliki DNA berbeda.

Bahkan, pesut yang berada di Mahakam, kini sedang diusulkan untuk diubah namanya menjadi Orcaella mahakamrotris karena dianggap memiliki perilaku berbeda dengan pesut lain.

Sejumlah sungai di Kaltim tercatat menjadi habitat pesut mahakam. Antara lain Sungai Kedang Rantau, Kedang Kepala, Belayan, Kedang Pahu, Kedang Pela, dan Danau Semayang. Sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Kukar. (qi/kri/k16)